hut

Sepanjang Sungai Rereiket

CERPEN TJAK S. PARLAN

AMAN Jamini mencengkeram pundak Markus, lalu menepuk-nepuknya untuk beberapa saat. Markus terbatuk-batuk kecil, tapi wajahnya menyiratkan kelegaan yang paripurna.

Setelah bertahan dengan tongkat dan kaki gemetaran dalam jalanan becek selama satu jam, sebuah pompong (sampan/perahu bermotor) menunggu di tepian Sungai Rereiket.

Aman Jamini—bersama Manai, anak perempuan Markus—telah membawa pompong itu dari sebuah dusun yang jauh di hulu. Mereka datang untuk menjemput Markus dan orang-orang yang menyertainya.

“Kau memang kuat, Markus,” ujar Aman Jamini. “Kita akan segera bertemu dalam pabetei: ritual pengobatan dalam tradisi Mentawai yang dilakukan oleh sikerei atau tabib melalui upacara penyembuhan.”

”Setelah semuanya naik, Aman Jamini pun menyalakan mesin. Badan pompong bergetar dan mulai bergerak mengarungi Sungai Rereiket. Sampan berperawakan kurus dan memanjang itu hanya bisa menampung enam orang, sehingga dua orang dalam rombongan itu harus ditinggalkan.

Dua orang itu akan melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki ke Dusun Ugai di hulu.

“Ilau, di mana kita akan bertemu?” tanya seorang laki-laki bertopi rimba. Laki-laki itu tampak khawatir dan agak canggung seolah-olah belum terbiasa dengan semua hal yang ada di sekitarnya.

“Setelah pompong berhenti, ikuti saja perempuan itu,” jawab Ilau, salah seorang laki-laki yang terpaksa ditinggalkan itu. “Kami masih keluarga dekat.”

Laki-laki bertopi rimba itu tampak masih ingin menanyakan sesuatu, tapi pompong semakin menjauh meninggalkan kawan seperjalanannya. Ketika pompong melambat di kelokan pertama, laki-laki bertopi rimba itu menoleh ke belakang.

Ia mengangguk dan mencoba tersenyum kepada seorang perempuan muda yang duduk tepat di belakangnya. Perempuan muda itu membalasnya dengan sebuah sapaan ramah.

“Baru pertama ke sini?” tanya perempuan muda itu.

“Saya bersama Ilau,” jawab laki-laki bertopi rimba. “Benar, ini yang pertama kalinya. Naik sampan seperti ini.”

“Pompong!” sela perempuan itu. “Ini pompong namanya.”

Laki-laki bertopi rimba itu mengangguk-angguk kecil untuk beberapa saat, lalu mulai memperhatikan sekitar. Sampan panjang bermotor itu melaju di permukaan air sungai yang berwarna khaki (warna antara kuning dan cokelat) tua.

Laki-laki bertopi rimba itu tergoda untuk menyentuhkan tangannya ke air yang menyembur-nyembur di kiri-kanan badan pompong. Semakin laju pompong itu, semakin deras dan tinggi pula semburan airnya.

Adakalanya air juga memercik ke wajahnya dan membasahi kacamatanya sehingga membuat pandangan matanya kabur dalam beberapa saat. Jika sudah begitu, ia akan melepas kacamatanya, lalu mengelap kacamata itu dengan ujung hem flanel yang dikenakannya sebelum kemudian kembali memakai kacamatanya.

Selang berikutnya, ia akan kembali mengedarkan pandangannya—seolah-olah tidak ingin melewatkan apa pun.

Di sepanjang bantaran, sungai itu dijaga oleh aneka tumbuhan yang subur; gerumbul-gerumbul bambu, rumput-rumput gelagah, ladang-ladang talas; pohon-pohon nyiur, pohon-pohon waru; sesekali pohon durian, pohon pinang, pohon pisang, pohon cengkih,  dan lebih banyak lagi pohon sagu.

Pada bagian tertentu di sepanjang aliran sungai, bangkai-bangkai kayu –tunggul-tunggul, batang-batang, dan ranting-ranting mati–berkelompok-kelompok menyusun keterbengkalaiannya sendiri.

Bangkai-bangkai kayu itu membuat pompong harus meliuk-liuk, memilih celah yang lebih aman di antaranya agar tidak terjadi tabrakan.

“Sepertinya belum lama banjir, ya?” celetuk laki-laki bertopi rimba.

Abdurahman, si pemegang dayung—sekaligus pemberi aba-aba—yang duduk nyaris di ujung pompong di depan laki-laki bertopi rimba itu, memutar badan sedikit ke belakang.

“Banjir musiman. Tapi tidak sebesar tahun lalu,” ujar Abdurahman seraya menawarkan sesuatu.
Laki-laki bertopi rimba itu berterima kasih lalu mengambil dua butir manisan dari telapak tangan Abdurahman.

“Tidak merokok?”

Laki-laki bertopi rimba itu menggeleng.

“Di kampung kami, semua orang merokok,” jelas Abdurahman. “Saya berhenti merokok setelah pulang dari Palembang.”

“Oh,” tanggap laki-laki bertopi rimba, “Ke sana untuk berobat, ya?”

“Bukan! Saya belajar agama.”

Laki-laki bertopi rimba itu mengernyitkan dahi. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.

“Yang di belakang itu kakak saya, Markus,” Abdurrahman sedikit berbisik. “Kami baru mengantarkannya berobat ke rumah sakit di kota. Hampir seminggu di pulau sebelah.”

“Sakit apa?”

“Penyakit dalam.”

“Oh, dia sepertinya kuat. Saya melihatnya sejak di kapal.”

Abdurrahman menggeleng lemah. “Kami akan mengundang sikerei (seseorang yang memiliki kemampuan istimewa sebagai penyembuh/tabib, atau sebagai pemimpin dalam upacara-upacara adat)  untuk mengusir roh jahat dari dalam tubuhnya.”

“Nah, boleh saya melihatnya?” Laki-laki bertopi rimba itu tampak antusias.

“Besok malam, datanglah! Sudah banyak yang melihat ritual pabetei.”

“Ya, ya… Ilau pernah bercerita pada saya.”

“Wartawan?” tanya Abdurrahman.

Laki-laki bertopi rimba itu menggeleng.

“Sudah banyak wartawan yang datang ke kampung kami.”

Laki-laki bertopi rimba itu tersenyum.

“Guru agama?”

Laki-laki bertopi rimba itu tertawa kecil. “Justru saya ke sini untuk belajar agama,” ujarnya kemudian.
Lalu entah mengapa, Abdurrahman pun ikut tertawa. Namun tawanya pendek saja.

Sesaat berikutnya ia meneriakkan sesuatu seraya mengayunkan dayung ke kiri-kanan dengan sigap. Sementara di belakang, Aman Jamini sedang berusaha mengendalikan pompong.

Pompong itu nyaris menabrak bangkai-bangkai kayu yang berserakan tidak keruan. Namun Aman Jamini bisa menguasainya dengan tangkas. Laki-laki bertopi rimba itu pun tampak merasa lega. Ketika ia menoleh ke belakang, orang-orang tampak begitu tenang dan tersenyum kepadanya.

“Tenang saja,” ujar Abdurrahman, “Pompong ini berada di tangan yang tepat. Dia seorang sikerei.”

“Maksudnya?”

“Di belakang, yang pegang kendali itu. Coba perhatikan!”

Laki-laki bertopi rimba itu mengikuti isyarat tubuh Abdurrahman. Ia mengaktifkan sebuah gawai dan mulai mengambil gambar. Pertama-tama ia mencoba mengambil gambar Manai yang duduk tepat di belakangnya.

Lalu Markus, menyusul istri Markus dan anak laki-lakinya yang masih kecil. Selanjutnya ia berhenti cukup lama pada sosok Aman Jamini. Aman Jamini adalah laki-laki berperawakan kecil namun gempal.

Wajah Aman Jamini mengisyaratkan segala keramahan orang-orang dusun yang jauh. Aman Jamini mengenakan luat (ikat kepala) di kepalanya dan menutupi tubuh bagian bawahnya dengan sepotong kabit (celana dalam yang biasa dipakai sikerei terbuat dari kulit kayu pohon tarap/artocarpus).

Sementara itu, garis-garis tato melengkung dari pundak dan bertemu di dadanya yang telanjang—serupa busur yang menghadap ke bawah.

“Apa semua orang di sini bertato?” tanya laki-laki bertopi rimba.

“Tidak semuanya. Ada anak-anak muda yang tidak mau ditato,” jelas Abdurrahman.

Laki-laki bertopi rimba itu rupanya memiliki sedikit pengetahuan tentang tato. Ia telah membacanya dalam sebuah buku tentang sejarah tato di dunia.

Laki-laki bertopi rimba itu bercerita, bahwa ia pernah berkeinginan untuk memiliki tato di tubuhnya. Namun setelah mendengar cerita dari Ilau, ia mulai berpikir ulang.

“Katanya bisa demam berhari-hari. Pasti sakit, ya?” tanyanya kemudian.

“Mau mencoba?” tanggap Abdurrahman. “Coba saja. Di sini tatonya berbeda.”

Saat Abdurrahman mengatakan hal itu, pompong berjalan sangat lamban. Suara mesin terdengar meronta-ronta dan nyaris ngadat. Serta-merta Manai dan Abdurrahman turun dari pompong.

Melihat hal itu, laki-laki bertopi rimba itu pun segera mengikuti. Namun baru saja sebelah kakinya menyentuh air, sebuah suara menegurnya.

“Tidak usah ikut turun. Diam saja, tenang saja!” ujar Markus.

Laki-laki beropi rimba itu menatap Markus untuk beberapa saat—seperti tidak yakin. Markus hanya menggeleng seraya tersenyum tipis. “Tidak apa-apa. Tenang saja…”

Laki-laki bertopi rimba itu kembali mengangkat kakinya ke atas pompong. Sementara Abdurrahman dan Manai mendorong pompong, Aman Jamini terus berusaha mengendalikan agar pompong tidak kandas di bagian sungai yang dangkal.

Setelah berhasil melewati bagian yang dangkal, laki-laki bertopi rimba itu mengepalkan kedua tangannya ke atas seraya berteriak pendek. Orang-orang tersenyum-senyum melihat tingkahnya.

Tapi ia tidak peduli. Tampak benar bahwa ia melakukan selebrasi kecil itu sebagai bentuk kelegaan sekaligus kegembiraan yang alami dan bebas dari tekanan.

“Ini pengalaman yang tidak bisa diulang. Demi Tuhan, ini sangat menggairahkan…” celetuknya berulang-ulang.

“Tahun ini musim keringnya lebih panjang. Semakin ke hulu, banyak bagian yang lebih dangkal,” ujar Abdurrahman.

“Bukankah ini sudah masuk musim hujan?”

“Benar. Coba lihat, sepertinya kita akan kehujanan sebelum sampai tujuan.”

Apa yang dikatakan Abdurrahman ada benarnya. Laki-laki itu mendongak, mengintip langit petang dari balik topi rimbanya yang nyaris menutupi seluruh dahinya. Mendung tebal bergelayutan seolah hendak menjangkau pucuk-pucuk daun nyiur di sepanjang bantaran Sungai Rereiket.

“Ugai masih jauh?”

“Tidak lama lagi,” jawab Abdurrahman seraya melirik arloji di tangan kirinya. “Ini sudah perjalanan tiga jam, kurang lebih. Mulai dingin, ya?”

Laki-laki bertopi rimba itu mengeluarkan sebuah jaket gunung dari dalam ransel yang diletakkan begitu saja di dekat kakinya. Cuaca lebih dingin. Sesekali angin bertiup lebih kencang membawa aroma sungai, rawa-rawa, dan batang-batang sagu yang telah ditumbangkan.

Jaket gunung berwarna kelabu itu pun segera dikenakannya. Laki-laki bertopi rimba itu bergidik sebentar, menahan dingin, lalu kembali memandang ke sekitar seraya menguap berkali-kali.

Pemandangan di sekitar sungai semakin meremang. Pompong terus melaju, mengikuti alur sungai Rereiket yang kerap berkelok. Pada bagian-bagian yang lebih lurus dan sedikit lebih panjang, laju pompong terasa lebih kencang.

Namun tentu saja, angin akan bertiup lebih kasar membuat para penumpang kembali bersedekap atau merapatkan jaketnya. Di belakang, Aman Jamini sendiri tampak tidak tergoyahkan—menghadang angin dengan senyuman dan dadanya yang telanjang.

“Sudah agak gelap,” ujar Abdurrahman seraya mengeluarkan sebuah senter dari balik jaketnya dan mulai memeriksanya. Senter itu akan sedikit membantu memandu perjalanan bila hari sudah benar-benar gelap.

Sesaat setelah Abdurrahman memeriksa senter, pompong tiba-tiba melambat, lalu pelan-pelan menepi ke tempat di mana sampan-sampan—dengan ukuran yang lebih kecil—juga bertambat.

“Sudah sampai?” tanya laki-laki bertopi rimba.

“Sebentar lagi,” ujar Abdurrahman dengan senyum lebar. “Berhenti sebentar saja untuk mengisi minyak.”
Saat mesin pompong benar-benar telah mati, laki-laki bertopi rimba itu merasakan telinganya sedikit berdengung.

Samar-samar ia mendengar suara hujan di kejauhan. Sesaat sebelum memastikannya dengan menengadahkan tangan—dan merasakan hujan yang menderas tiba-tiba—laki-laki bertopi rimba itu melihat nyala kunang-kunang yang sendirian di seberang sungai.

Hari semakin gelap dan laki-laki itu merasa bahwa Ugai masih jauh. ***

Tuapeijat-Mataram, Mei-Juni 2019

Tjak S. Parlan, sastrawan yang tinggal di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.  Cerpen dan puisinya sudah disiarkan di berbagai media. Buku kumpulan cerpennya Kota yang Berumur Panjang (Basabasi, 2017). Tahun 2019 ini berkesempatan mengikuti program residensi Sastrawan Berkarya di Wilayah 3T, wilayah penempatan Kepulauan Mentawai.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya orisinal, belum pernah dimuat di media mana pun, baik cetak, online dan juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!