hut

Seren Taun, Pembawa Berkah Bagi Pedagang Kerajinan

Editor: Mahadeva

KUNINGAN – Upacara adat seren taun 1952 Saka Sunda, membawa berkah bagi pedagang kerajinan. Banyak hasil kerajinan tangan yang dijual seperti centong nasi, gelas, cobek, teko di area kegiatan.

Kerajinan tangan tersebut kerap dijual di pasar tradisional di wilayah Tasikmalaya. Berjualan pada acara seren taun membuat Ade Irawan, pedagang asal Tasikmalaya meraup untung dua kali lipat dari hari biasa.

Di hari biasa Ade hanya mampu menjual belasan barang kerajinan. Di area adat seren taun, Dia bisa menjual hingga ratusan kerajinan tangan. “Semua barang kerajinan tangan yang saya jual umumnya keperluan rumah tangga. Banyak diminati ibu rumah tangga, saat seren taun hasil penjualan meningkat,” ungkap Ade Irawan, Sabtu (24/8/2019).

Kerajinan yan dijajakan, terbuat dari kayu kelapa. Namun, sebagian lainnya terbuat dari pohon pinang. Setiap barang dijual dengan harga mulai dari Rp30.000 hingga Rp50.000.

Udin, warga Kanekes atau urang Badui berjualan tas koja terbuat dari kulit kayu yang dijual pada acara seren taun di Cigugur, Kuningan, Jawa Barat, Sabtu (24/8/2019) – Foto Henk Widi

Pedagang lainnya, Udin, yang merupakan warga Kanekes atau kerap disebut urang Badui, datang bersama 16 kerabat di acara seren taun. Datang sejak beberapa hari sebelumnya, Dia berjualan kerajinan khas suku Badui. Diantaranya ikat kepala, kain sarung tenun, tas koja atau tas terbuat dari kulit kayu, baju pangsi hitam, golok, madu, hingga gelang kayu. “Semua barang yang kami jual asli buatan tangan ditenun sebagai hasil karya suku Badui,” ungkap Udin.

Sebagai warga Badui luar, Dia menjual hasil kerajinan untuk memenuhi kebutuhan. Seren taun membuatnya bisa menjual lebih banyak, dibandingkan saat berjualan di pasar tradisional. Barang kerajinan milik Udin dijual dengan harga mulai dari Rp50.000 hingga Rp500.000.

Susiana, salah satu warga Kuningan membeli kain sarung dan kebaya. Ia membeli selendang tenun dan baju pangsi hitam, yang juga akan dipakai sang suami. Pakaian tersebut akan dikenakan sebagai upaya pelestarian budaya. Dia dan suami yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN) diwajibkan memakai baju adat.

Lihat juga...