hut

SLBN Balikpapan Peroleh Penghargaan Sekolah Ramah Anak Terbaik se-Indonesia

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

BALIKPAPAN — Metode pembelajaran yang ramah anak, menjadi salah satu keberhasilan Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) di Balikpapan. Pada 2019 ini, sukses meraih juara pertama penghargaan SRA terbaik se-Indonesia dan satu-satunya di Kalimantan kategori SLB.

Kepala SLBN Balikpapan Mulyono. Foto: Ferry Cahyanti

Kepala SLBN Balikpapan, Mulyono memaparkan, proses pembelajaran yang diterapkan itu yaitu disiplin tanpa merendahkan. Tidak menggunakan kekerasan namun lebih menekankan pada proses pembinaan.

“Sekolah sudah membiasakan budaya tidak diskriminasi. Contohnya penerapan disiplin positif, tidak ada hukuman bagi anak yang salah. Jadi hukumannya lebih bersifat edukasi,” katanya saat ditemui, Kamis (1/8/2019).

Pembelajaran lainnya, memberikan ketrampilan khusus pada tingkat SMP dan SMA karena nantinya setelah lulus dapat mandiri dengan keahlian yang dimiliki.

“Mereka belajar menjahit, perbengkelan, hotel, memasak dan salon kecantikan,” bilang Mulyono.

Bahkan mereka juga belajar bagaimana mengolah keuangan dengan menjual makanan yang diolah kantin anak-anak itu sendiri.

Keunggulan lainnya yang dimiliki SLBN adalah sarana dan prasarana yang ramah anak atau tidak membahayakan anak. Misalnya lingkungan yang sehat, aman dan memadai untuk anak berkebutuhan khusus (ABK). Termasuk tanaman yang tidak boleh bergetah dan berduri.

“Membedakan toilet antara laki-laki dan perempuan, aksesibilitas di toilet untuk tuna netra dan kursi roda sudah tersedia di SLBN Balikpapan,” ungkapnya.

Mulyono menjelaskan dengan diperolehnya penghargaan ini maka sekolah akan mempertahankannya dari sisi kualitas, seperti sarana prasarana dan proses pembelajarannya.

Karena beberapa komponen dalam SRA harus tetap dijaga. Sesuai dengan aturan Deputi Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian PPPA menggunakan enam komponen yang diukur dalam evaluasi SRA. Pertama, kebijakan SRA melalui SK, deklarasi, papan nama, dan kebijakan sekolah. Kedua, guru dan tenaga kependidikan sudah terlatih konvensi hak anak. Ketiga, proses pembelajaran yang ramah anak.

“Saat tim SRA menilai juga ada beberapa catatan yang harus diperbaiki. Seperti buat tangga agar akses anak-anak mudah, apalagi saat hujan jalanan licin,” sebutnya.

SLBN Balikpapan saat ini memiliki 380 siswa yang terdiri dari TK, SD, SMP, dan SMA. Sementara jumlah guru sebanyak 45 orang.

Mulyono menuturkan, fasilitas memang belum sepenuhnya aksesibilitas. Namun untuk kategori SLB sudah cukup.

“Ada beberapa perbaikan fasilitas yang ingin dilakukan di masa mendatang,” tambahnya.

Mulyono menambahkan yang akan datang perbaikan fasilitas akan terus dilakukan seperti toilet yang ramah anak yang kini dalam proses perbaikan dan fasilitas lainnya yang menunjang proses belajar mengajar.

“Saat ini siswa SLBN di Balikpapan juga sudah ada yang magang di perusahaan-perusahaan bahkan di salah satu perhotelan. Artinya kualitas tetap kami jaga,” tutupnya.

Lihat juga...