hut

Sumur, Kambing, dan Warisan Bapak

CERPEN ADI ZAMZAM

DI bulan Agustus seperti biasa desa kami dilanda puncak kemarau. Kata orang-orang, kemarau yang salah alamat, sebab kedatangan dan kepergiannya tak lagi bisa terbaca melalui pranata mangsa (kalender musim menurut perhitungan orang Jawa).

Banyak tanaman mati. Debu melimpah. Sumur banyak yang kering. Kali di perbatasan desa kami juga. Seumur hidup, baru kali ini juga sawah kami menjadi kerontang tersebab kemarau berkepanjangan.

Tanah berubah berbongkah-bongkah merana. Hanya kacang hijau dan tolo yang bisa tumbuh normal. Beberapa orang mengakali itu dengan membuat sumur-sumur darurat di aliran sungai. Tapi kata Bapak itu adalah tindakan bodoh.

“Lha nanti, kalau sungainya terisi air lagi, apa ndak sia-sia jerih payahnya itu?” ujar Bapak, meski kata orang-orang sejak kedatangan orang Korea sungai itu sekarang hanya menjadi tempat lewat air sementara.

Bapak kemudian begitu semangat meributkan idenya sendiri, membuat sumur yang posisinya bisa menjangkau empat petak sawah miliknya. Bapak mengeluh susah cari tukang gali sumur.

Kuli gali sumur sudah menjadi makhluk langka semenjak orang-orang lebih senang bekerja dengan pakaian rapi jali, tak peduli meski cuma jadi tukang parkir sekalipun. Aku sempat mengusulkan disuntik saja, maksudku dijadikan sumur bor.

Tapi Bapak menolak. Bapak tak mau musibah yang menimpa Samiono (tetangga kami) terulang lagi. Semenjak disuntik, air sumurnya malah jadi amis dan kekuningan. Kemarau tahun ini sumurnya masih juga yang paling awal kehabisan air. Kata Bapak, Samiono kena sengit (dendam) bumi.

“Kalau kita sembarangan merawat mereka, mereka pun tak akan memberikan hasil terbaiknya buat kita. Toh nanti airnya juga bisa kita manfaatkan untuk keperluan lain,” kata Bapak, seolah padi adalah makhluk agung yang pantas dihormati. Meski aku menduga itu hanyalah cara beliau mengirit biaya produksi.

Akhirnya Bapak memutuskan akan menggalinya sendiri setelah mendapat seseorang yang sedia dibayarnya dengan upah wajar. Banyak kuli yang memasang tarif tinggi di musim langka tukang gali begini.

Aku sedikit khawatir dengan keputusan Bapak, mengingat sudah setahunan beliau juga pensiun sebagai kuli setelah merasa tubuhnya tak sanggup lagi diajak kompromi.

Tepat pada hari penggalian, orang yang sudah dijanji Bapak ternyata malah undur diri. Katanya izin tak enak badan. Tapi kemudian Bapak tahu bahwa orang itu ternyata pindah ke orang lain yang berani bayar lebih mahal.

Aku berniat mendatanginya lagi, menawar dengan upah lebih tinggi. Tapi Bapak melarang. Percuma, katanya. Edan, kuli kok jual mahal! Sejak kedatangan orang Korea, orang-orang memang banyak yang berkelakuan aneh-aneh.

“Suami digadaikan dengan uang yang habis cuma sekian hari, anak-anaknya dikorbankan kepada apa itu henpon, dapur juga mereka pindah ke warung-warung pinggir jalan, itu mau mereka sebut sebagai kemajuan? Waduuh…” ceracau Bapak, yang sedikit sulit kupahami.

Yang kutahu, Bapak memang tak suka dengan orang-orang Korea itu sejak kali pertama kedatangannya. Saat mereka bagi-bagi sepatu gratis kepada semua orang desa, Bapaklah satu-satunya orang yang tak mau ‘dibeli’.

“Kalau begitu kau yang bantu aku saja. Bisa kan? Cuma menarik timba dari atas,” Bapak akhirnya menodongku.

“Tapi apa Bapak masih kuat?” tanyaku balik. Mereka ambil peran itu karena tahu, aku tak pernah melakoni kerja berat. Aku lebih senang jadi sales daripada jadi kambingnya orang Korea.

“Ya pelan-pelan saja to, Rip,” jawab Bapak tanpa menoleh. Sebatang rokok  mengepul di bibir hampir terjatuh saat beliau terbatuk.
* * *

SEMUA peralatan sudah kusiapkan, dari mulai ekrak, tangga, ember, keruk, linggis, sampai genset. Aku sempat menawarkan diri lagi untuk bergantian mengambil bagian sebagai penggali di dalam, mengingat angin sawah yang aku tahu akan kelewat panas saat semakin merangkak ke tengah hari. Tapi Bapak masih juga tak mau digeser dari keinginannya.

“Kamu itu enggak bakal kuat!” sahut Bapak dengan nada tinggi. Sedari kanak aku memang hampir tak pernah menyentuh pekerjaan berat. Sekali mencoba, pasti kemudian diganjar sakit.

Tubuhku kurus, seperti orang kurang gizi. Meski sehat. Dari keempat saudaraku, justru cuma aku yang tak pernah merasai empuknya ranjang rumah sakit.

Akhirnya aku menurut saja. Meski tetap merasa tak tega. Ditemani semilir angin sawah selama sarapan, Bapak terus saja bercerita perihal sumur yang akan kami gali itu. Sambil sesekali menunjuk-nunjuk ke arah iring-iringan kambing dan menyebut beberapa nama yang ia kenal.

Beberapa di antaranya aku juga kenal, seperti Yu Minah yang berubah kelewat menor padahal sewaktu masih ke sawah, lipstik saja hampir enggak kenal, juga Yu Waedah yang berubah sering holla-hello entah kepada siapa.

Bapak juga cerita ingin membuat cangkruk (gardu bambu)  di depan boro  (gubuk bambu tempat memelihara ternak yang multifungsi), di antara boro-boro lainnya yang kini sudah tinggal beberapa saja.

Meski menurutku itu akan sedikit aneh lantaran nantinya jadi seperti tempat mengamati iring-iringan manusia, eh, kambing.

Sumur yang ada di dekat boro kami itu konon cikal bakalnya sudah dibuat oleh Buyut Sulaiman dan dipergunakan oleh santri-santrinya. Kakeknya Bapak itu memiliki sebuah pesantren yang lumayan dikenal pada masanya.

Beliau dikenal dengan panggilan Haji Cekis lantaran kepintarannya mengatur sistem pangan dalam pesantren. Santri-santrinya diperbolehkan tak membayar biaya mondok asal mau bekerja tanpa upah di dalam pesantren.

Dari mulai menanam padi, merawatnya, memanen, hingga menjual segala yang dihasilkan oleh ladangnya yang luas.

“Kemauan menjadi petani, itu sudah menjadi ujian keikhlasan,” ujar Bapak sok berfilosofi.

“Kok bisa gitu, Pak?”

“Petani itu selalu menggantungkan doa kepada Gusti Allah. Kalau tak ikhlas dalam menunggu hasil, dia hanya akan kecewa dan ujung-ujungnya ya kapok. Keikhlasannya itu bisa dilihat dari keuletan dan kesabarannya dalam menggarap sawah.”

Cerita Bapak terus bergulir saat kemudian beliau turun ke dalam sumur. Senter di pinggangnya terlihat bergoyang-goyang. Suara Bapak masih terdengar jelas saat kuturunkan ekrak dan keruk. Linggis sudah kujatuhkan ke dalam sebelumnya.

Bapak sempat berteriak bahwa di dalam sana ada banyak sampah entah perbuatan siapa. Mengingatkanku dengan Kali Keceh yang sekarang juga jadi tempat pembuangan sampah terutama oleh para penghuni kos di sepanjang pinggang dari hulu ke hilirnya.

Padahal katanya para penghuni kos itu orang-orang berpendidikan semua. Minimal harus lulusan SMA. Kelakuan itu malah semakin menegaskan bahwa mereka memang kambing.

Haji Cekis adalah keturunan terakhir Mbah Imam Ngawi yang mewarisi kealiman ilmu agama. Dikatakan keturunan terakhir karena setelah Haji Cekis, tak ada lagi anak cucunya yang mau mendalami ilmu agama dan meneruskan tradisi pesantren.

Aku pernah dirasani (dibicarakan) pamanku bakal menjadi penerus Haji Cekis. Itu sewaktu aku masih duduk di bangku madrasah ibtidaiyyah dan selalu mendapat rangking. Saat aku SMA, suara-suara yang menggadang-gadang diriku bakal menjadi kiai mulai sirna, lantaran aku menolak dipesantrenkan.

Aku sendiri tak pernah punya pikiran akan berjalan ke arah sana. Semua saudara maupun kerabat juga tak ada yang minat ke sana. Trah kealiman Imam Ngawi, pendiri sekaligus sesepuh desa kami, berakhir pada Haji Cekis. Lagi pula semua keluarga besar kami sekarang tinggal di perkampungan dalam desa semua.

Imam Ngawi adalah ulama yang pertama kali membangun dan menyebarkan Islam di desa ini. Konon dulu beliau sempat dimusuhi oleh dua penguasa sebelumnya, yakni Mbah Golo dan Mbah Gito. Sampai sekarang jejaknya masih bisa dibaca.

Dusun Ngawen yang berada di blok selatan desa, dikenal sebagai tempat orang baik-baik. Sementara Dusun Lurung yang berada di blok utara desa, dikenal sebagai tempat orang-orang rusuh yang hobi orkesan, mabuk, mencuri, bahkan ada yang pernah diciduk polisi lantaran terlibat kasus pembunuhan.

Kembara lamunanku terhenti saat kusadari bahwa Bapak telah hening sedari tadi. Tanah kedukannya sudah sampai di atas. Ada ember, sikat gigi, bahkan celana dalam, yang turut terangkat ke atas.

Entah benda-benda itu mulanya milik siapa. Sepertinya sumur ini memang telah menyimpan sejarah yang panjang. Meski akhirnya cuma jadi tempat pembuangan sampah orang-orang tak paham pendidikan.

Lamunanku terputus saat tali timba bergoyang. Aku harus menariknya ke atas. Setelah bebatuan, kini berganti pasir. Tampaknya air sudah mulai ditemukan.

Pada kedalaman itu, tiba-tiba kudengar teriakan Bapak yang katanya telah menemukan pipa rokok Haji Cekis. Kutanya, bagaimana beliau bisa yakin bahwa itu milik beliau? Cerita tentang kakek buyutku itu pun berlanjut. Haji Cekis konon adalah seorang pecandu kelobot.

Pipa itu konon adalah hasil rampasan perang. Cerita ini amat masyhur lantaran pipa rokok yang selalu dibawa Haji Cekis menjadi bukti diam yang selalu cerita tanpa suara. Santri-santri Haji Cekis berhasil memporandakan rombongan pasukan Belanda yang hendak mengirim logistik ke Jepara. Di tempat yang kini dinamai pertigaan Gotri.

Hasil rampasannya dibawa pulang ke pesantren sebagai barang bukti. Oleh Haji Cekis, rampasan logistik dibagikan ke penduduk sekitar, sementara barang-barang lainnya diambil para santri.

“Berarti itu barang curian ya, Pak? Hehe,” potongku.

“Mereka juga enggak bener. Waktu itu, banyak juga orang sini yang diambil dan dijadikan budak di perkebunan Purwodadi, Grobogan, dan entah mana lagi. Buyutmu itu menghalalkan barang-barang milik penjajah.”

Baru kali ini Bapak cerita panjang lebar tentang leluhur kami. Beliau seperti tengah menggali sumur ingatannya pula. Mengingat ini, aku sungguh bersyukur bahwa beliau tak terkena kepikunan.

Kemasyhuran Haji Cekis sudah menyebar ke mana-mana. Termasuk juga konon sumur ini, yang konon bertuah. Airnya pernah  dijadikan obat suwuk (pengobatan alternatif dengan air yang didoai)  bagi ibu-ibu yang memintakan obat untuk anak-anaknya, dari mulai yang sakit-sakitan, sampai kesurupan.

Santri-santrinya konon juga diharuskan mandi dengan air sumur ini dan membawanya sebagai bekal saat hendak pergi perang.

“Apa lantas mereka jadi kebal, Pak?” selaku.

“Ya enggak tahu. Tapi mereka percaya berkahnya. Sumur ini kan hampir setiap waktu mendapatkan doa dari semua santri yang mengambil wudu. Hampir sama seperti Air Zamzam di Mekkah sana.”

Dari cerita itu kusimpulkan sepertinya sumur ini memegang peranan penting pada masanya. Sayangnya pesantren Haji Cekis itu kemudian mati lantaran tak ada penerus. Anak-anak Haji Sulaiman tak ada yang cakap mengurus pesantren.

Konon sepeninggal beliau, sumur ini pernah menjadi rebutan. “Lantaran bertuah,” sambung Bapak. Siapa yang kebagian sumur ini konon hidupnya akan selalu mendapat keberuntungan. Entah keyakinan itu benar atau tidak.

Tapi sumur ini sudah bukan apa-apa lagi sekarang. Nyatanya kehidupan kami ya begini-begini saja, meski kini kami adalah satu-satunya keluarga yang tak terbujuk oleh orang-orang Korea itu untuk jual sawah.

Apalagi Bapak kelihatannya juga tak begitu memercayai hal-hal begituan. Sebaik apa pun nasibku kelak, jelas tak ada hubungannya dengan sumur ini. Jasa sumur ini hanyalah bahwa ia sekarang akan kami jadikan penyuplai air sawah kami yang kesulitan mendapatkan air.

Alam sudah banyak berubah. Aku tersentak sendiri tatkala menyadari tali timba yang lama tak bergerak. Suara Bapak juga tak terdengar lagi.

“Pak…” panggilku, sembari menggoyang tali timba. Namun bahkan benturan alat-alat gali dengan bebatuan pun tiada terdengar.

Jantungku berdetak tak karuan saat kulongokkan kepala ke dasar sumur yang gelap itu. Untunglah kemudian cahaya remang-remang menampakkan kepala Bapak yang entah mengapa tak menyahut panggilanku.

“Bapak…!” lantaran jengkel, aku pun menggoyangkan tali tambang demi mencari perhatiannya.
Anehnya lelaki itu tak juga menyahut. Hatiku mencelus. Aku coba menajamkan penciuman siapa tahu ada gas beracun.

Tapi sepertinya hidungku kalah dengan kecemasan yang telanjur menyesaki dada. Buru-buru aku mengambil posisi untuk turun ke bawah. Pikiranku mendadak buntu.

Bahkan ketika akhirnya aku sampai ke bawah dan mendapati sosok lelaki uban itu masih mematung—seolah tak mempermasalahkan kepanikanku.

“Bapak kenapa? Oya, pipa rokoknya Haji Cekis itu mana, Pak?” tanyaku pelan, berusaha membuang sisa-sisa kecemasan.

Bapak malah tersenyum, dengan ekspresi yang aneh, “Aku tadi melihat hamparan hijau yang luaaas sekali. Apa mungkin itu sawahnya Haji Cekis ya, Dul? Adeeem betul, bikin plong dada, kayak taman…” sebuah jawaban aneh.

Ketika kulihat sekeliling, air baru saja menampakkan rembesan-rembesan yang belum berarti. Sepertinya masih butuh beberapa galian lagi untuk memperbesar mata air.

Keanehan itu rupanya juga dirasakan oleh Pak Madi—kawan kumpul Bapak yang paling dekat. Katanya kelakuan Bapak akhir-akhir ini banyak yang tak lazim. Misalnya saja sering membicarakan pertemuannya dengan Haji Cekis, padahal menurut Pak Madi cerita itu mengerikan.

Masak pertemuan dengan orang yang sudah meninggal senang diulang dan diulang, seolah mereka pernah bertemu betulan. Mimpi jelas beda dengan kenyataan.
* * *

WARNA jingga di hamparan langit sudah hampir merata. Mata berkaca-kaca di  wajahku hampir saja meleleh menjadi bukti kecengengan saat beberapa sambungan selang yang kupasang berkali-kali copot dan menimbulkan banjir kecil di jalanan depan kos-kosan dan pabrik-pabrik kandang kambing milik orang Korea.

Benda tua ini rupanya sudah minta dicarikan pengganti. Empat petak sawah milik Bapak terbagi menjadi dua lokasi yang dipisahkan oleh jejeran kos-kosan dan warung-warung milik warga, dua petak di dekat Kali Keceh, dan dua petak terhimpit dua pabrik sepatu milik orang Korea.

“Buat apa sih, Mas? Kok ngoyo betul kek gitu? Apa masih bisa menghasilkan?” tanya seorang penghuni kos saat melihat kegigihanku mengatur selang demi selang agar sampai di dua petak sawah yang terjepit dua kandang kambing milik orang Korea itu. Beberapa temannya juga mulai menjadikan aku sebagai tontonan gratis.

Aku hanya menanggapinya dengan senyum, meski dalam hati menyumpah-nyumpah, kepada siapapun yang tega menjadikan Kali Keceh sebagai tempat sampah raksasa, kepada yang masih tega membuang sampah ke dalam sumur yang baru saja kemarin kami gali, dan siapapun yang menginginkan sawah kami jatuh ke tangan orang Korea untuk dijadikan kandang kambing.

Aku pun berusaha menghibur diri sendiri. Meski di musim seperti ini tanah itu hanya mampu menyumbang ubi kayu, kacang tanah, dan tolo, tapi setidaknya mampu membantu kami untuk bisa menabung.

Makan, hanyalah soal mengatur selera. Toh gaji pabrik jika tak pandai atur uang pun akhirnya juga tetap merana di akhir bulan.

Tapi, tanpa Bapak, semuanya memang terlihat berat dan mustahil untuk dikerjakan.

“Kamu harus pulang sekarang. Airnya diatur besok-besok saja. Bapakmu…” kata Pak Madi.

Meski kalimat itu belum selesai, tapi dalam kepalaku sudah dipenuhi kilasan-kilasan peristiwa. Raut sepuh Bapak yang begitu lihai menyembunyikan rasa lelah, empat petak sawah yang entah bagaimana nasibnya nanti (apakah aku harus ikut-ikutan menjualnya kepada orang-orang Korea dan lalu turut menjadi kambing-kambing di dalam pabrik mereka?), mau diapakan sumur yang telanjur dibuat itu?

Gardu pembagian air yang telah berubah menjadi bangunan ATM, jejeran rumah kos dan pertokoan yang telah mengubur puluhan petak sawah di perbatasan desa (haruskah aku mencari modal pinjaman demi mengikuti arus?), tiga buah pabrik sepatu dan garmen yang tiap pagi menelan dan kemudian sorenya memuntahkan kembali para kambing desa, dan ini, dan itu… Entah mengapa tiba-tiba aku rindu sekali dengan Emak.

Kacau sekali lalu lintas di dalam kepalaku. Tapi yang pasti, aku harus segera menyiapkan acara pemakaman Bapak esok hari. Semua anak cucunya di rantau belum juga kukabari… ***

Adi Zamzam, penulis asal Jepara, buku karyanya di antaranya Laba-laba yang Terus Merajut Sarangnya  (kumpulan cerpen UNSA Press, 2016),  Persembahan Teruntuk Bapak  (novel remaja DIVA Press, 2017), Melihat (novel Bhuana Ilmu Populer, 2017),  Menunggu Musim Kupu-kupu  (kumpulan cerpen Basabasi/DIVA Press Grup, 2018).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!