hut

Sungai dan Rawa, Penolong Petani Lamtim Kala Musim Kemarau

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Keberadaan sejumlah aliran sungai di wilayah Lampung Timur (Lamtim) menjadi penolong petani saat musim tanam kemarau (gadu).

Supami, petani di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Lamtim menyebut sebagian besar petani di wilayahnya masih menanam padi. Masa tanam gadu dengan intensitas hujan nihil tidak menghalangi petani menanam padi.

Supami menyebut pada masa tanam penghujan (rendengan) sebagian lahan sawah berpotensi tergenang. Saat musim tanam gadu, air yang masih tercukupi bisa memasok areal pertanian sawah.

Hingga menjelang panen yang diprediksi dalam waktu dua bulan ke depan ia memastikan air tetap tercukupi. Potensi aliran sungai kecil, rawa memberi keuntungan petani tetap bisa memanfaatkan lahan sawah.

Pada masa tanam gadu, sebagian petani yang kerap menanam padi varietas Muncul, Ciherang, memilih varietas Mapan Galur dan Cimelati. Pemilihan varietas tersebut diakuinya sangat cocok dengan kondisi cuaca panas sebab ketiga varietas padi tersebut cukup toleran pada musim kemarau.

Ia juga tidak perlu khawatir karena pasokan air masih bisa tercukupi melalui sejumlah saluran irigasi alami bagi lahan sawah milik petani.

“Petani pengguna air saat kemarau tidak perlu khawatir karena air meski tidak melimpah namun cukup bisa digunakan selama musim tanam gadu. Air yang lancar sekaligus bisa dimanfaatkan petani untuk penanaman sayuran dengan sistem tumpang sari,” ungkap Supami saat ditemui Cendana News, Senin  (5/8/2019) sore.

Lahan yang ditanami padi seluas seperempat hektare dengan varietas Galur dan Cimelati diakuinya membutuhkan bibit 5 kilogram. Saat hasil panen bagus ia menyebut bisa mendapatkan hasil sekitar 40 karung gabah kering panen (GKP) atau sekitar 2 ton.

Namun akibat serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hasil panen bisa hanya mencapai kurang dari 30 karung atau sekitar 1,5 ton pada lahan seperempat hektare.

Supami menyebut kebutuhan air bagi petani sangat vital hanya pada saat pengolahan lahan, penanaman dan jelang berbulir. Selebihnya padi varietas Mapan dan Cimelati bahkan dihindarkan dari genangan air.

Cara tersebut dilakukan untuk mempercepat proses pematangan bulir padi. Padi yang bisa dipanen saat usia 120 hari tersebut akan dipanen dalam kondisi jerami sudah menguning dan lahan sawah kering.

“Kami juga harus rutin melakukan pengontrolan pada hama yang menyerang agar produksi padi tidak turun,” tutur Supami.

Petani lain bernama Sutiyo menyebut, meski kemarau ia bisa menanam padi dengan pasokan air cukup. Menanam jenis padi Cimelati sangat cocok ditanam pada areal persawahan di daerah tersebut. Dengan kadar keasaman tinggi pada daerah rawa ia melakukan penanganan awal memakai dolomit.

Sutiyo, salah satu petani di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah, Lampung Timur menyemprot hama walang sangit, sundep pada lahan miliknya, Senin (5/8/2019) – Foto: Henk Widi

Saat memasuki masa berbulir OPT yang dihadapi meliputi burung pipit, wereng dan hama penggerek batang penyebab sundep.

“Cara mengusir hama burung dilakukan secara manual memakai penakut orang-orangan sawah, bunyi bunyian dan layangan,” beber Sutiyo.

Penanganan OPT jenis wereng dengan jumlah terbatas dilakukan dengan insektisida kontak. Selain itu ia menyebut dengan populasi yang tidak terlalu banyak sejumlah hama juga menyerang padi diantaranya walang sangit, penggerek batang.

Hama yang mengakibatkan batang busuk dan kuning berimbas sundep diatasi dengan obat kimia.

Hal yang sama dilakukan oleh Daryanto yang memakai obat kimia untuk pemusnahan populasi hama. Ia menyebut musim kemarau berimbas sumber pakan alami berkurang, membuat padi diserang hama.

Daryanto, salah satu petani di Desa Braja Yekti, Kecamatan Braja Selebah Lampung Timur melakukan penyemprotan hama sundep pada lahan miliknya, Senin (5/8/2019) sore. Foto: Henk Widi

Meski demikian dengan penanganan serentak dari sejumlah petani, padi bisa dihindarkan dari OPT yang merusak. Meski mengalami serangan hama, ia menyebut saat musim tanam gadu kualitas tanaman lebih baik.

Pasokan air dari sungai dan rawa disebutnya bisa dialirkan tanpa mesin pompa. Harapan saat panen pada masa tanam gadu membuat ia optimis akan mendapatkan hasil sekitar 4 ton pada lahan tiga perempat hektare.

Banyaknya lahan pertanian yang tidak ditanami padi saat musim gadu diprediksi akan membuat harga GKP meningkat. Terlebih diprediksi musim kemarau masih akan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Lihat juga...