hut

Surut Terjauh Bawa Berkah bagi Warga Pesisir Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Surut terjauh di pantai Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan (Lamsel) membawa berkah bagi warga di sekitar pantai.

Adi dan Hasan, warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa menyebut surut terjauh merupakan siklus alami yang terjadi setiap bulan. Namun memasuki bulan purnama, saat siang hari wilayah pesisir Lamsel dominan surut.

Surut terjauh yang kerap terjadi sejak pagi hingga sore menjadi kesempatan mencari bahan makanan. Sejumlah bahan makanan dari pantai yang bisa diperoleh meliputi kerang, kepiting, kima, ikan karang, gurita, rumput laut jenis using dan lumai.

Bahan makanan tersebut menurut Adi mudah diperoleh. Membawa ember, bambu galah, serokan warga bisa memperoleh bahan makanan tanpa harus membeli.

Proses pencarian kerang disebut Adi bisa dilakukan pada sejumlah batu karang. Meski demikian batu karang yang ada di pesisir sebagian sudah terangkat ke daratan akibat tsunami 22 Desember 2018 lalu.

Sejumlah warga bahkan membawa peralatan seadanya berupa pisau dapur, bambu untuk mencongkel kerang. Kerang yang diperoleh diantaranya ketepong dan tetala.

“Saat surut terjauh warga berbondong bondong ke pantai karena fenomena surut sudah siklus bulanan dengan jarak bisa mencapai seratus meter dari bibir pantai. Bisa digunakan untuk mencari berbagai jenis bahan makanan,” ungkap Adi saat ditemui Cendana News, Jumat (16/8/2019).

Kegiatan mencari sejumlah bahan makanan laut disebut Adi sudah menjadi kegiatan rutin bertahun-tahun. Sejumlah nelayan yang memilih istirahat melaut memakai perahu bahkan memilh mencari ikan dengan peralatan seadanya.

Pada kondisi normal, Adi menyebut perairan di wilayah Rajabasa memiliki kedalaman sekitar satu meter. Namun saat surut perairan di pantai Rajabasa hanya sebetis orang dewasa.

Kegiatan mencari kerang, kepiting dan sejumlah bahan makanan disebut Adi kerap menjadi kegiatan rekreatif. Sebab masyarakat kerap mengajak serta keluarga sembari mengumpulkan kerang.

Saat beruntung Adi menyebut bisa mendapatkan kerang berukuran besar. Selain daging kerang bisa dimanfaatkan sebagai bahan kuliner, cangkang yang sudah dibersihkan bisa menjadi asbak dan hiasan meja.

“Kerang jenis ketepong dan tetala bahkan bisa dikonsumsi langsung tanpa harus diolah karena rasanya gurih,” papar Adi.

Adi juga menyebut saat surut terjauh ia mempergunakan peralatan sederhana berupa tombak ikan. Tombak ikan tersebut merupakan modifikasi kayu dengan penarik karet, tombak yang digunakan terbuat dari besi diruncingi.

Alat tombak tersebut bisa digunakan untuk membidik ikan jenis kerapu, lapeh dan ikan karang yang terjebak di batu karang berbentuk kolam.

“Sejak pagi hingga sore surut membuat ikan terjebak di batu karang, air yang jernih membuat kami bisa menangkap ikan dengan mudah,” timpal Adi.

Kegiatan mencari ikan dan kerang saat surut terjauh disebut Adi sekaligus mencari bahan makanan yang murah meriah. Meski demikan saat surut terjauh ada batas menyerupai palung dalam yang harus dihindari.

Sejumlah batu karang yang berjajar alami di sepanjang pantai Desa Way Muli, Desa Kunjir dan desa di Kecamatan Rajabasa sekaligus menjadi penahan ombak.

Pencari ikan memanfaatkan surut air laut terjauh bernama Hamid mengaku, memilih mencari gurita. Gurita yang kerap bersembunyi di batu karang berair jernih bisa dimanfaatkan sebagai umpan memancing.

Hamid, salah satu warga Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan melakukan proses pencarian ikan karang dan gurita saat surut terjauh di pantai Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Jumat (16/8/2019) – Foto: Henk Widi

Gurita tersebut menurutnya mudah diperoleh hanya mempergunakan galah bambu. Saat ditemukan gurita maka galah bambu akan menjadi lilitan tetangkel sehingga gurita mudah ditangkap.

“Saya kerap mendapatkan gurita hingga mencapai lima kilogram untuk umpan memancing dengan sistem rawe dasar,” cetus Hamid.

Selain mendapatkan gurita untuk bahan umpan, gurita berukuran besar kerap bisa digunakan sebagai bahan makanan. Gurita disebutnya mudah ditangkap saat surut dengan kondisi air jernih. Meski proses mencari gurita cukup mudah, warga disebutnya harus berhati-hati.

Sebab saat surut binatang bulu babi dan sejumlah kerang dan karang tajam berpotensi membahayakan kaki. Ia bahkan menganjurkan warga agar memakai sepatu tahan air melindungi kaki terluka.

Selain mendapatkan sejumlah ikan, warga memanfaatkan kondisi surut air laut terjauh untuk mencari lumai.

Latifah,warga Bakauheni Lampung Selatan memanfaatkan surut terjauh untuk bahan makanan, Jumat (16/8/2019) – Foto: Henk Widi

Latifah, warga Bakauheni menyebut lumai merupakan jenis rumput laut menyerupai anggur berbentuk bulat. Saat surut terjauh lumai yang tumbuh di bebatuan bisa diperoleh dengan kondisi segar. Lumai diakuinya bisa dimanfaatkan sebagai lalapan, digunakan sebagai sayur.

Surut terjauh diakui Latifah menjadi berkah bagi masyarakat untuk mendapatkan sejumlah bahan makanan bergizi dari laut. Sebab meski surut terjauh berbarengan terjadi hampir di seluruh pantai, pencarian lumai hanya bisa diperoleh pada pantai berbatu.

Selain mendapat sayuran segar, surut terjauh dimanfaatkan oleh sang suami mencari berbagai jenis ikan yang bisa digunakan sebagai lauk tanpa harus membeli.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!