hut

Tak Punya Laut, Bondowoso Justru Sentra Besek Ikan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Di Jawa Timur, Bondowoso selama ini dikenal sebagai salah satu kabupaten yang tidak memiliki garis pantai atau tidak berbatasan dengan laut. Namun yang menarik, Bondowoso justru menjadi salah satu sentra penghasil besek ikan, yakni pembungkus ikan laut yang terbuat dari potongan bambu.

Dalam mata rantai ekonomi perikanan, besek ikan menjadi salah satu komoditas penting. Sentra penghasil besek ikan di Bondowoso adalah Kecamatan Wringin yang berbatasan langsung dengan Situbondo. Selain itu, Kecamatan Suboh di Situbondo yang berbatasan dengan Bondowoso di sisi selatan, juga berbatasan dengan laut, yakni Selat Madura di sisi utara.

“Di sini jadi sentra pembuatan besek, meski Bondowoso tidak punya laut.  Wringin berbatasan dengan Suboh, Situbondo,” ujar Supyati, salah satu perajin besek ikan yang cukup ternama di Wringin kepada Cendana News, Selasa (20/8/2019).

Kebanyakan warga Wringin, terutama para ibu memang bekerja sebagai perajin besek ikan untuk kebutuhan ikan hasil tangkapan nelayan di laut.

“Biasanya kita kirim ke pelabuhan atau pantai di Situbondo atau Trenggalek seperti di Pantai Popo dan Pantai Prigi,” lanjut Supyati yang merupakan warga Desa Ambulu, Kecamatan Wringin, Bondowoso.

Selain dari Trenggalek, pesanan terkadang juga datang dari Jember. “Lebih sering daerah Barat. Kalau di Muncar, Banyuwangi, sudah ada tersendiri sentranya. Jadi tidak pesan ke kita,” lanjut Supyati yang sudah lebih dari 10 tahun menggeluti kerajinan besek ini.

Yang menarik, pemesanan dan transaksi besek ikan masih menggunakan cara-cara tradisional. Yakni dengan mengandalkan kepercayaan.

Harganya per 1 ikat isi 100 biji besek, bisa dihargai paling murah Rp 8 ribu. Jika harganya sedang bagus, paling mahal bisa mencapai Rp 30 ribu. “Ada tengkulak  yang datang ke sini. Kita percayakan saja fluktuasi harganya kepada mereka,” tutur Supyati.

Peran tengkulak tidak hanya dalam hal penentuan harga. Mereka juga berperan untuk membantu perajin mendapatkan dan mendatangkan bahan baku berupa bambu.

“Biasanya ibu-ibu kalau tidak sempat beli bambu, mereka pesan ke tengkulak yang dari luar kota. Jadi mereka ke sini ambil hasil produksi sambil membawakan bahan baku,” ungkap Supyati.

Sejauh ini, mereka masih menggunakan cara pengolahan tradisional. Dengan alat utamanya berupa tomang untuk memanaskan bahan baku bambu serta pasa, sejenis pisau yang biasa digunakan tukang serut kayu, untuk membelah dan membentuk bambu menjadi besek.

“Sebenarnya sudah ada upaya untuk meningkatkan nilai tambah dari kerajinan ini, tapi masih belum menyeluruh. Juga kesulitan pemasaran, sehingga masih bergantung pada sistem tradisional yang sudah bertahun-tahun,” pungkas Supyati.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!