hut

Tanamkan Kecintaan Nilai Budaya Lokal melalui Pendidikan Mulok

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LOMBOK TENGAH – Sebagai upaya menanamkan kecintaan terhadap nilai budaya dan kearifan lokal di masing-masing daerah, termasuk di Provinsi Nusa Tenggara Barat, kurikulum pendidikan muatan lokal (Mulok) perlu lebih digalakkan, dan tidak sekedar jadi pelajaran sampingan.

“Nilai budaya dan kearifan lokal yang berlangsung di tengah masyarakat banyak mulai dilupakan bahkan ditinggalkan generasi muda, termasuk pelajar, karena itu pendidikan Mulok meski digalakkan,” kata Ketua Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama (NU) Lombok Tengah, H. Hambali, Kamis (8/8/2019).

Dikatakan, selama ini pendidikan Mulok di setiap sekolah hanya dijadikan mata pelajaran tambahan (ekstrakurikuler), bukan mata pelajaran wajib, sehingga terkesan tidak dianggap terlalu penting.

Salah satu kearifan lokal di NTB, perayaan Gunungan Ketupat, sebagai bagian yang bisa dipelajari dalam pendidikan muatan lokal. Foto: Turmuzi

Padahal pendidikan Mulok, selain sebagai upaya menanamkan kecintaan pelajar terhadap nilai budaya lokal, di dalamnya juga terdapat nilai pendidikan yang berlangsung di tengah masyarakat.

“Pendidikan Mulok juga bisa menjadi bagian  menangkal pengaruh budaya luar yang negatif, termasuk bisa menjadi filter masuknya paham radikalisme di tengah masyarakat,” jelas Hambali.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pendidikan (Dikbud) NTB, H. Rusman, mengatakan, pendidikan Mulok menjadi salah satu perhatian Pemprov NTB dan bisa dijadikan mata pelajaran wajib di sekolah.

Menurutnya, melalui pendidikan Mulok, siswa diharapkan bisa mengenal dan mencintai nilai sosial, budaya dan kearifan lokal di tengah masyarakat, yang justru bisa menjadi kekuatan kehidupan berbangsa dan bernegara di tengah realitas masyarakat Indonesia yang majemuk dan plural, baik budaya, adat istiadat, dan agama.

Lihat juga...