hut

Tape Ketan, Sajian Khas Suku Bugis di Hari Kurban

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Warga asal Sulawesi Selatan, seperti Soppeng, Bone, yang tinggal di Lampung Selatan, masih melakukan tradisi kunjungan silaturahmi pada momentum Iduladha. Pada tiap kunjungan itu, ada sajian khas Suku Bugis yang masih dilestarikan, yaitu Tape Ketan.

Erna atau kerap disapa Daeng Erna, mengatakan, pembuatan tape memanfaatkan beras ketan putih atau hitam. Tape yang dibuat dengan fermentasi butuh waktu lama, sehingga ia sudah menyiapkannya sejak Rabu (7/8). Dengan beras ketan berkualitas, tape tersebut pun sudah mulai matang pada Sabtu (10/8) ini, dan akan dihidangkan pada hari raya Iduladha 1440 H yang jatuh pada Minggu (11/8) esok.

Menurut Erna, proses pembuatan tape khas Bugis dilakukan dengan dua varian, sesuai selera. Bagi yang ingin menyajikan tape ketan dalam kondisi tanpa bungkus, tape dibuat bulat. Sedangkan tape yang dibuat dengan bungkus memanfaatkan daun pisang. Bahan baku yang mudah diperoleh membuat Erna kerap membuat tape ketan dengan cara dibungkus.

Erna, salah satu warga Dusun Muara Piluk, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, Lampung Selatan, saat ditemui di rumahnya, Sabtu (10/8/2019) -Foto: Henk Widi

“Hidangan tape kerap dibuat beberapa hari sebelum hari raya, agar rasa manis tercipta saat siap dihidangkan. Bagi kami yang berasal dari Bugis, membuat tape ketan hitam merupakan tradisi jelang hari raya kurban,” ungkap Erna, Sabtu (10/8/2019).

Menurut Erna, membuat tape ketan membutuhkan kesabaran. Sebab, berbeda dengan kuliner lain yang bisa disantap usai proses pengolahan, tape ketan minimal baru bisa disantap dua hari setelah proses fermentasi alami dengan ragi yang menciptakan sensasi rasa manis.

Bahan pembuatan ketan, sebut Erna, cukup sederhana. Yakni beras ketan putih atau ketan hitam. Selain itu, ragi yang disiapkan dengan jumlah menyesuaikan beras akan menjadi bahan proses fermentasi alami. Beras ketan yang sudah dicuci bersih, selanjutnya direndam dalam air bersih agar menjadi lebih lunak. Selanjutnya, beras ketan dikukus dalam dandang hingga matang.

“Saya kerap menggunakan beras ketan putih, terkadang ketan hitam. Kalau ingin variasi, pewarna alami bisa ditambahkan berupa pandan atau pasta merah agar menarik,” kata Erna.

Setelah ketan matang, proses mendinginkan ketan bisa dilakukan dalam wadah beralaskan daun pisang. Selanjutnya, ketan yang sudah dihamparkan ditaburi dengan ragi.

Salah satu resep agar tape ketan sempurna, menurut Erna, sebelum proses pembuatan tangan harus dalam kondisi bersih. Setelah ragi tercampur sempurna, ketan bisa dibuat bulatan dengan plastik. Sebagian ketan diberi perwarna merah serta pandan.

Setelah dibuat menjadi bulatan, ketan dimasukkan dalam wadah baskom dialasi dengan daun pisang. Setelah ketan berbentuk bulat selesai dibuat, wadah ditutup rapat dengan kain.

Pada hari kedua, penutup dibuka dan diperciki air hangat. Memasuki hari ketiga tape ketan sudah bisa dicicipi dan akan memunculkan rasa makin manis pada hari keempat.

Selain dibuat menjadi bulatan, ketan juga bisa dibungkus menggunakan daun pisang disemat lidi.

“Sebagian ketan saya buat menjadi tape yang dibungkus dengan daun pisang agar lebih tradisional,” cetus Erna.

Ketan sebagai bahan baku tape, kata Erna, memiliki filosofi beras yang disatukan. Sebagai sebuah kuliner, dengan penyatuan bahan yang berbeda antara ragi dan ketan yang tawar menjadi sebuah perpaduan yang baik.

Melalui hidangan ketan, ia juga memaknai tape sebagai cara menjalin silaturahmi dengan kerabat. Rasa manis dari ketan yang bisa dinikmati saat hari raya Iduladha dan momen istimewa, menjadikan hubungan persaudaraan makin akrab.

“Selain sebagai kuliner, makna pembuatan ketan yang penuh kesabaran menjadi sikap orang Bugis dalam menghadapi hidup, apalagi kami dominan berprofesi sebagai nelayan,” terang Erna.

Warsito, salah satu warga Desa Bandar Agung, Kecamatan Sragi, menyebut ketan mudah ditemui saat hari raya Iduladha. Selain di wilayah pesisir Bakauheni, sebagian warga pesisir Ketapang yang ditinggali oleh masyarakat asal Bugis kerap menyajikan ketan saat hari raya Iduladha.

Salah satu warga bernama Bubah yang akan merayakan Iduladha pada Minggu (11/8), sudah menghidangkan tape ketan. “Tape yang sudah dibuat rasanya manis, karena sudah dibuat dua hari sebelumnya dan bisa dinikmati saat kondisi cuaca panas dengan campuran es,” papar Warsito.

Selain tape ketan dengan variasi warna alami putih, tape juga bisa dinikmati dengan varian warna hitam. Ia menyebut, menikmati ketan sekaligus menjadi momen kebersamaan. Sehari sebelum Iduladha, dengan persiapan untuk kegiatan hari raya kurban, ia sudah bisa menikmati tape.

Hal yang sama juga dialami oleh Hadi yang mendapat hidangan tape ketan dari Firdaus, warga asal Bugis yang dikunjunginya. Menurut Hadi, tape ketan memiliki rasa manis alami dengan proses fermentasi. Namun dengan rasa yang cukup manis tersebut, ia mengaku hanya menyantap beberapa bungkus.

Rasa manis tape sangat cocok disantap dengan es dalam kondisi musim kemarau. Sementara itu dengan adanya hidangan tape, saat hari raya bisa menjadi variasi sebelum menyantap gulai kambing atau sapi.

Lihat juga...