hut

Tari Bedoyo Majakirana Meriahkan Malam Satu Suro di TMII

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Memeriahkan malam Tahun Baru Islam 1 Muharram atau 1 Suro 1953, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menyajikan tari ‘Bedoyo Majakirana’.

Pagelaran seni yang dibawakan para penari diklat tari Anjungan Jawa Timur TMII, sangat memukau.

Gerak gemulai para penari wanita berbusana tradisi warna hijau tua dan muda ini sangat gemulai berpadu dalam alunan musik gamelan Jawa Timur.

Tarian ‘Bedoyo Majakirana’ persembahan diklat tari Anjungan Jawa Timur TMII pada perayaan Malam 1 Suro di Sasono Utomo TMII, Jakarta, Sabtu (31/8/2019) malam. Foto: Sri Sugiarti

Liuk tubuhnya sesekali memutar dalam keserasian lentik jemari tangan menebar bunga semerbak wangi. Selendang warna hijau tua pun dikipaskan seiring gerakan tubuh gemulainya.

Bedoyo Majakirana ini karya Dimas Pramuka dan Epsi Poerwadi oleh diklat tari Anjungan Jawa Timur.

Bedoyo Majakirana merupakan garapan baru yang berpijak pada identitas tari tradisi yang berkembang di wilayah budaya arek dan Mataraman.

Tarian ini sebagai wujud syukur, tolak bala dan spirit dari kerajaan Majapahit yang memancarkan kirana atau kebaikan.

Usai tarian Bedoyo Majakirana, dilakukan penyerahan pusaka tombak Kyai Joko Tole dari Direktur Operasional dan Pengembangan TMII, Maulana Cholid kepada Manggoto Yudho.

Dengan gagahnya, Manggoto Yudho membawa pusaka tombak Kyai Joko Tole keluar dari Sasono Utomo, dengan diiringin musik tradisi.

Lalu pusaka itu dikirabkan bersama para penghayat kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Bersamaan itu, kirab tumpeng persembahan pecak silat Setia Hati Teratai, dan beberapa anjungan yakni Bengkulu, Sulawesi Tenggara, Bali, Kalimantan serta lainnya memeriahkan malam 1 Suro.

Tak hanya tumpeng yang berhiaskan ragam lauk pauk dan uraban, tapi juga aneka buah-buahan yang tertata menjulang tinggi membentuk gunung juga diarak.

Arak-arakan pusaka pada perayaan Malam 1 Suro di Kuncungan Sasono Utomo TMII, Jakarta, Sabtu (31/8/2019) malam. Foto: Sri Sugiarti

Arak-arakan pusaka dimulai dari Kuncungan Sasono Utomo mengelilingi gedung pengelola TMII.

Gamelan Jawa dan musik dol khas Bengkulu terus menggema mengiringi arak-arakan pusaka ini. Hingga kemudian mereka kembali lagi ke Sasono Utomo.

Lalu mereka menyantap tumpeng secara bersamaan sebagai ungkapan syukur atas berkah yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

“Arak-arak pusaka memiliki makna hidup rukun dan gotong royong sebagai wujud persatuan menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI),” ujar Maulana.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!