hut

Tarian Potanganga dari Mandar Meriahkan Parade Tari Nusantara TMII

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Potanganga, karya seniman Nurfadilah, adalah penampilan tari dari Sulawesi Barat (Sulbar) yang memeriahkan Parade Tari Nusantara ke-38 di Teater Garuda Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Sabtu (10/8/2019).

Potanganga adalah sebutan bagi nelayan pencari telur ikan terbang. Atau biasa disebut dalam  bahasa Mandar, ikan tiung-tiung. Nelayan di pesisir pantai Polewali, Mandar, tak hanya berburu ikan terbang, tapi juga mengolah telur ikan terbang, khususnya di pesisir pantai desa Tanganga-tanganga, Kecamatan Tinambung, kabupaten Polewali Mandar.

Ini sudah menjadi rutinitas para nelayan Mandar sejak dahulu kala. Proses pencarian telur ikan terbang, kini telah menjadi salah satu obyek wisata bahari di kabupaten Sulbar.

Kasubit Hubungan Antar Lembaga Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Barat, Zulfikly, mengatakan, Potanganga adalah sebuah tradisi bagi nelayan Mandar di Sulbar, untuk memburu ikan terbang. Ini sudah menjadi tradisi setiap tahunnya, di musim tertentu nelayan di Mandar memburu ikan terbang.

Kasubit Hubungan Antar Lembaga Badan Penghubung Provinsi Sulawesi Barat, Zulkifli (baju merah) berfoto dengan penari Potanganga di area Teater Garuda TMII, tempat Parade Tari Nusantara ke-38 digelar,Jakarta, Sabtu (10/8/2019). -Foto: Sri Sugiarti

“Ikan ini memang  cukup unik, karena prosesi untuk menangkapnya tidak sembarangan. Ada nuansa-nuansa mistik di dalamnya. Nah, Potanganga ini jadi inspirasi bagi adik-adik di sanggar tari diangkat sebagai sebuah tema tari tradisi Sulbar,” kata Zulkifly, kepada Cendana News, di sela-sela acara.

Intinya, lanjut dia, tarian ini menggambarkan tradisi masyarakat nelayan di Mandar yang diangkat sebagai tema tarian.

“Kita tahu bersama, bahwa tarian khas Sulbar ini sebenarnya masih belum banyak dieksplorasi. Jadi, agak berbeda dengan tarian di  pulau Jawa dan Bali, tentu mereka agak lebih mapan. Tapi, kalau kami  memang masih sungguh banyak yang perlu dieksplorasi,” tukasnya.

Dia mengatakan, sejak Anjungan Sulawesi Barat hadir di TMII pada 2004, pihaknya sudah aktif mengikuti Parade Tari Nusantara.  “Tepatnya sejak 2006, kami sudah berpartisipasi di ajang Parade Tari Nusantara yang digelar TMII. Kami pernah meraih juara 3 besar, tapi saya lupa tahun berapa,” ujarnya.

Dengan aktif mengikuti pagelaran budaya yang digelar TMII, menurutnya, anjungan Sulawesi Barat menjadi makin memiliki pengalaman dalam berkarya seni.

Bahkan, generasi muda di daerahnya juga menjadi termotivasi untuk melestarikan budaya khas Sulbar dengan mengikuti Parade Tari Nusantara.

Terbukti, Sanggar Lambada dengan kreasi tari yang khas menjadi perwakilan Provinsi Sulbar pada ajang budaya tingkat nasional.

Menurutnya, sanggar ini sangat kreatif. Untuk persiapan kreasi sudah sangat siap, karena mereka kerap tampil di beberapa festival daerah mewakili Sulbar.

“Potanganga ini adalah karya original mereka, dan manakala pemerintah Sulbar diminta untuk partisipasi di parade tari ini, mereka seketika langsung bisa untuk tampil sebagai degelasi Sulbar,” ujarnya.

Persiapan untuk tampil di ajang ini membutuhkan waktu latihan sebulan setengah. Ada pun jumlah peserta sebanyak 14 orang, terdiri dari 7 orang penari dan 7 orang pemain musik.

Ada pun penata tari adalah Nurfadilah, penata musik Ahmad Ashary, serta penata hias dan busana, Mustika Sahibuddin.

Aini, salah satu penari Potanganga mengaku senang bisa mewakili Sulbar di Parade Tari Nusantara ke-38 ini. “Ada perasaan bangga, ada tanggung jawab besar untuk tampil maksimal mewakili Sulbar,” ujar Aini, kepada Cendana News.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!