Tekan Stunting di Sikka Perlu Sinergi Berbagai Pihak

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

MAUMERE — Menekan angka stunting di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur memerlukan sinergi berbagai pihak. Mulai dari bidang kesehatan hingga non kesehatan.

Bupati kabupaten Sikka, Fransiskus Roberto Diogo. Foto : Ebed de Rosary

“Bicara stunting bukan hanya soal gizi tetapi juga soal lain, misalnya ketersediaan air bersih, sanitasi layak dan lain-lainnya,” Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, Kamis (8/8/2019).

Dikatakan, menurunkan angka stunting atau kekerdilan harus dilakukan lewat dua intervensi, yakni spesifik dan sensitif. Spesifik dilakukan oleh dinas Kesehatan kabupaten Sikka melalui anggaran, sosialisasi dan pendampingan oleh tenaga kesehatan hingga tingkat desa. Sementara sensitif dilakukan oleh sektor terkait dan masyarakat.

“Mengingat masalah stunting adalah masalah bersama, maka dalam setiap langkah penanggulangan harus selalu melibatkan semua sektor terkait dan masyarakat,” katanya.

Disebutkan, perlu selalu meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang stunting melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE).

“Berdasarkan Laporan hasil analisis situasi pada aksi 1 dari 8 aksi konvergensi yang telah dilakukan terdapat 102 desa dengan prevalensi stunting tinggi yang diberi warna merah,” tuturnya.

Robi berharap agar masing-masing kepala desa dapat merencanakan penganggaran. Para camat dan kepala Puskesmas agar selalu mendukung kegiatan penurunan stunting di desa.

Desa-desa lainnya sebut bupati Sikka, tetap merencanakan kegiatan yang dapat mencegah terjadinya stunting sehingga status aman tetap dipertahankan. Perencanaan penganggaran bukan hanya kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan gizi dan kesehatan saja.

“Penganggaran juga dilakukan untuk air bersih, sanitasi layak, ketahanan pangan keluarga dan pola asuh dalam keluarga. Sehingga semua sektor terkait termasuk tim penggerak PKK juga mempunyai tanggungjawab yang sama dalam penurunan stunting,” ungkapnya.

Kepala dinas Kesehatan provinsi NTT, drg. Dominggus Minggu Mere mengatakan, stunting masih merupakan masalah yang sangat besar, walaupun angkanya sudah berhasil diturunkan dari 51 persen tahun 2013 menjadi menjadi 42 persen tahun 2018.

“Tetapi angka tersebut masih tertinggi secara nasional. Berdasarkan Riskesdas 2018, prevalensi stunting kita di NTT masih di atas 40 persen dan masuk kategori berat,” tegasnya.

Sementara itu, kepala bidang Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, Klotildis Gandut, SKM mengatakan, langkah yang dilakukan yakni dengan melatih kader agar bisa melakukan konseling terhadap setiap sasaran atau penderita.

Intervensi spesifik yang dilakukan oleh dinas Kesehatan, kata Telly sapaannya, terutama fokus terhadap seribu hari pertama kehidupan. Intervensi ini, kontribusinya hanya 30 persen sementara sisanya dari sektor lainnya dan masyarakat.

“Intervensi yang kami lakukan sudah terbukti menurunkan angka stunting dari 41 menjadi 33 persen,” tutupnya.

Lihat juga...