hut

Tiga Kawasan Ini, Diprediksi Menjadi Ibu Kota Baru

Foto udara kawasan Bukit Nyuling, Tumbang Talaken Manuhing, Gunung Mas, Kalimantan Tengah. Daerah yang menjadi bakal calon ibu kota negara itu telah ditinjau oleh Presiden Joko Widodo pada Mei 2019, saat mengecek kelaikan lokasi terkait wacana pemindahan Ibu Kota Negara - Foto Ant

SAMARINDA – Setelah ditetapkannya Kalimantan Timur menjadi Ibu Kota Negara, diprediksi titik Ibu Kota Negara (IKN) ada di tiga kawasan.

Ketiga kawasan tersebut adalah, Samboja di Kabupaten Kutai Kartanegara, Sepaku dan Penajam di Kabupaten Penajam Paser Utara. keduanya berada di dekat Balikpapan. “Lokasi calon ibu kota sudah ditetapkan di Kaltim meski belum diputuskan titik persisnya, namun berdasarkan analisa di tiga kawasan itu,” ujar Ketua Pusat Kajian Perencanaan Pembangunan dan Keuangan Daerah (PKPPKD) Universitas Mulawarman, Samarinda, Dr Aji Sofyan Effendi di Samarinda, Sabtu (24/8/2019).

Ia meyakini, tim dari pemerintah pusat akan memilih salah satu dari ke-tiga lokasi tersebut. Bahkan, ketiganya memiliki arah pengembangan ke depan sebagai kawasan strategis. ketiganya juga memiliki keunggulan seperti lahan luas, aman, dan jauh dari pemukiman.

Seandainya, ibu kota diputuskan di Samboja, maka kawasan Sepaku-Penajam tetap diuntungkan, karena akan menjadi daerah penyangga. Bahkan, untuk pemukiman pegawai yang diperkirakan mencapai 1,5 juta jiwa, juga lebih tepat diarahkan ke Kabupaten Penajam Paser Utara.

Jika untuk perumahan pegawai mengarah ke Penajam, Aji menyebut, Penajam Paser Utara akan diuntungkan banyak hal. Yaitu, mulai dari percepatan pembangunan infrastruktur dasar. Seperti penyelesaian pembangunan Jembatan Pulau Balang yang digunakan untuk menghubungkan Balikpapan-Penajam.

“Total anggaran yang akan dialokasikan untuk membangun infrastruktur dasar awal persiapan ibu kota baru ini mencapai Rp466 triliun. Dilakukan secara tahun jamak, yang pembangunannya dimulai dari 2021. Anggaran awal yang akan dikeluarkan kemungkinan Rp50 triliun. Inilah salah satunya bisa untuk Jembatan Pulau Balang,” ucap Aji.

Sementara itu, berdasarkan dokumen rencana pemindahan ibu kota di Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional Republik Indonesia/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), dipilihnya Kaltim menjadi ibu kota baru karena memiliki beberapa keunggulan.

Keunggulan itu antara lain, memiliki dua bandara besar, yakni Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman di Balikpapan, kemudian Bandara Internasional Aji Pangeran Tumenggung Pranoto di Kota Samarinda. Terdapat jalan tol Balikpapan-Samarinda, memiliki Pelabuhan Semayang, infrastruktur jaringan energi dan air bersih.

Struktur demografi heterogen atau sebagian besar penduduknya merupakan pendatang, yang tentu lebih bersifat terbuka. Dengan demikian, warganya juga lebih mudah berinteraksi dan menerima perubahan. Kemudian masuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) II.

“Atas berbagai keunggulan ini, maka lokasi ibu kota tidak jauh dari tiga kawasan yang saya sebut tadi. Setelah ibu kota benar-benar pindah, maka infrastruktur dasar akan terpenuhi yang pada akhirnya akan menurunkan Incremental capital rasio (icor) alias produksi, konsumsi dan distribusi barang/jasa mengecil sehingga mampu meningkatkan investasi,” tutup Aji. (Ant)

Lihat juga...