hut

TMII Siapkan Replika Burung Garuda dari Kacang Tanah

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Tangan mungil seniman bernama Uthe, sangat lincah menyusun satu per satu biji kacang tanah di atas hamparan triplek yang sudah tergambar sayap burung Garuda. Begitu pula dengan seniman lainnya, terlihat sangat antusias menyusun kacang tanah menjadi bagian tubuh replika burung Garuda. 

Replika burung Garuda dibuat oleh 45 orang di area Anjungan Gorontalo Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta, Rabu (14/8).

“Kita siang malam mengerjakan replika Garuda ini. Ini seni kreasi untuk Indonesia,” kata Uthe, kepada Cendana News, di temui di sela-sela pembuatan replika burung Garuda di Anjungan Gorontalo TMII, Jakarta, Rabu (14/8/2019).

Suprayogi, seniman yang membuat replika burung Garuda ini, mengatakan, pada 2004 pihaknya telah membuat replika ini setinggi 8 meter dan ditampilkan di TMII, dalam perayaan HUT RI.

Menyambut HUT ke-74 Kemerdekaan RI, TMII kembali menampilkan replika burung Garuda setinggi 17 meter. Replika ini terbuat dari kacang tanah sebanyak 1,5 ton. Kacang tanah tersebut dibeli dari petani Sukabumi, Jawa Barat.

Para pekerja seni sedang melapisi triplek dengan lem dan menempelkan kacang tanah dalam proses pembuatan replika burung Garuda di Anjungan Gorontalo TMII, Jakarta, Rabu (14/8/2019). -Foto: Sri Sugiarti

Lalu, kenapa ide membuat replika ini berbahan kacang tanah? Dengan bijaksana, Suprayogi menjawab, bahwa sebagai pendidik, dirinya merasa prihatin melihat anak muda sekarang  kurang berpikir positif tentang Pancasila.  Bahkan, orang dewasa pun barangkali sudah agak melupakan nilai luhur Pancasila.

“Jadi, kalau itu dilalukan oleh bangsa Indonesia, ya bagaikan pepatah kacang lupa kulitnya. Ya, filosofinya itu, tidak ada lupa kulitnya, yang ada kacang lupa kulitnya,” kata Yogi, demikian sapaan Suprayogi kepada Cendana News.

Replika burung Garuda setinggi 17 meter ini dikerjakan dalam 8 hari oleh seniman sebanyak 45 orang. Ke 45 orang ini adalah para seniman, pekerja seni dan pemuda Karang Taruna.

“Jadi, replika burung Garuda ini analoginya dengan 17 Agustus 1945,” ujar Yogi yang juga berprofesi sebagai guru.

Ada pun bahan dasar replika, jelas dia, adalah multiplek dan lem putih. Terlebih dahulu, per lembar triplek digambar. Ini untuk memudahkan menempel kacang tanahnya.

Sebelum ditempel, tiplek tersebut terlebih dulu dilapisi lem untuk merekatkan kacang-kacang itu disusun.

“Konsepnya sederhana, tapi setelah dikerjakan tidak sesederhana konsepnya. Kesulitannya tinggi, karena area pembuatan ini terbuka, ada angin. Jadi, kerangka ini harus benar-benar aman. Kalau untuk penempelan kacangnya tidak ada kesulitan, dikerjakan 24 jam setiap harinya,” jelas Yogi.

Setelah per lembar triplek yang sudah digambar, burung Garuda itu terhiasi kacang tanah. Kemudian lembaran triplek tersebut akan disatukan menjadi replika raksasa burung Garuda yang akan dipasang di Plaza Tugu Api Pancasila pada 16-31 Agustus 2019.

“Pengerjaannya 8 hari, tanggal 16 Agustus replika burung Garuda ini akan kita pajang di Plaza Tugu Api Pancasila,” imbuhnya.

Plh. Direktur Penelitian, Pengembangan, dan Budaya TMII, Sigit Gunardjo, menambahkan, TMII adalah rumah budaya bangsa, serta rumahnya para seniman dan budayawan.

“Sehingga ide kreatif dan inovasi yang memang perlu kita wadahi. Ya, kita wadahi di TMII. Pak Yogi ini, teman sejawat saya. Seminggu lalu dia ketemu saya. Dia bilang ingin pasang replika burung Garuda spektakuler di TMII,” ujar Sigit, kepada Cendana News.

TMII memberi fasilitas pemasangan replika tersebut di Plaza Tugu Api Pancasila. Sedangkan proses pembuatannya dilakukan di area Anjungan Gorontalo TMII.

“Saya kira ini sangat relevan sekali dengan keberadaan TMII. Jadi, TMII dalam hal ini sebagai fasilitator menjadi rumah budaya untuk mengisi dan mengoptimalkan kegiatan kebudayaan Indonesia,” pungkasnya.

Lihat juga...