hut

Ubah Limbah Kulit dan Daun Kopi Jadi Teh Menyehatkan

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BONDOWOSO – Selama ini, tanaman kopi hanya dimanfaatkan isi buahnya untuk diolah sebagai bubuk kopi. Meski sudah cukup menguntungkan, tetapi hal ini tidak cukup memuaskan bagi petani kopi Arabika dan Robusta di Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan, Bondowoso.

Dengan kreativitas tinggi, daun dari pohon kopi Arabica bisa diolah menjadi teh celup. Tidak sekedar teh biasa, namun menjadi minuman kesehatan dengan kandungan senyawa aromatik. Hal itu yang kini sedang dikembangkan oleh sekelompok petani kopi di Desa Tanah Wulan, Kecamatan Maesan.

“Selama ini sekitar 50 hingga 60 persen dari total hasil panen, hanya menjadi limbah. Biasanya limbah berupa kulit biji kopi itu hanya diolah menjadi pupuk kompos, karena punya unsur hara sehingga cocok menyuburkan tanaman. Tetapi tetap saja, nilai ekonominya rendah, kalau hanya jadi pupuk organik,” tutur Muhammad Arif Ansori Hadi, sekretaris Kelompok tani (Poktan) Sinar Tani yang berbasis di Desa Tanah Wulan, kepada Cendana News, Selasa (6/8/2019) sore.

Karena itu, terdorong oleh keinginan untuk menambah kesejahteraan petani kopi, Afif dan rekan-rekannya berinisiatif untuk mengubah limbah biji kopi tersebut menjadi minuman kesehatan berupa teh.

Selain itu, daun dari pohon kopi juga mereka olah. Untuk teh yang terbuat dari kulit biji kopi, mereka namakan Teh Celup Cascara. “Kalau yang terbuat dari Daun Kopi kami beri nama Teh Konoha,” tutur Arif.

Arif menjamin, produk teh buatan kelompoknya ini alami. Terbebas dari SP sintetis (pemanis, pewarna, pengawet dan perisa).

“Yang paling penting, teh celup buatan kami mengandung berbagai macam manfaat kesehatan. Mulai dari mencegah kanker, melindungi lambung, menjaga kesehatan jantung, mencegah diabetes dan mengencangkan kulit. Karena kaya akan vitamin dan antioksidan,” ujar Arif.

Untuk mengembangkan usahanya tersebut, Poktan Sinar Tani mendapat bantuan dari Tim Pendamping Inovasi Desa (TPID) Kecamatan Maesan.

“Untuk pemasarannya, kami serahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Tanah Wulan. Alhamdulillah, dari pihak desa sangat mendukung,” ujar Slamet Suraji, Ketua TPID Kecamatan Maesan.

Sejauh ini, mereka belum menentukan harga jual secara pasti. Karena produk ini baru dikembangkan selama satu bulan terakhir.

“Kami masih fokus di promosi produk dulu,” tutur Slamet.

Lihat juga...