hut

Unitas Berdayakan Masyarakat Pessel Kembangkan Tanaman Kelor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PADANG — Universitas Tamansiswa Padang, melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM), melakukan pengembangan tanaman kelor di Nagari atau Desa Kapuh, Kecamatan XI Koto Tarusan Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai ekonomis lahan bagi masyarakat setempat.

Ketua Tim Kegiatan, Dr. Ir. Zasmeli Suhaemi, MP, mengatakan, program tersebut berupa rangkaian kegiatan yang pernah dilakukan pada April lalu, dan direncanakan akan berlanjut hingga November 2019 mendatang.

“Kegiatan PKM sehubungan dalam rangka memberdayakan keluarga di Dasa Wisma Anggrek II dengan jumlah 64 keluarga. Kaum ibu tumah tangga dapat memanfaatkan lahan mereka sebagai sumber ekonomi keluarga,” katanya, yang turut didampingi bersama Tim Pelaksana PKM, Syahrial, SP., M.S dan Nurlina, SE., M.Si, Senin (05/08/2019).

Ia menyebutkan, dengan adanya kegiatan tersebut, masyarakat yang selama ini mungkin mengabaikan lahan yang ada, seperti di kawasan rumah, akan dapat menjadi sebagai sumber ekonomi keluarga dengan menambah nilai ekonomi.

“Melalui penanaman kelor ini dan melalui pengolahannya menjadi teh kelor, akan mampu memberikan penghasilan. Teh kelor memiliki banyak manfaat kesehatan,” terangnya.

Ketua Tim Kegiatan, Dr. Ir. Zasmeli Suhaemi, MP, saat menyampaikan materi. Foto: Ist

Emi menjelaskan, tanaman kelor tersebut sangat mudah dikembangbiakan, serta tidak membutuhkan tanah dengan kualifikasi khusus serta bersifat tahunan, sehingga tidak memberatkan masyarakat dalam pengelolaannya.

“Kegiatan ini bisa berjalan berkat kerja sama Universitas Tamansiswa dengan Kemenristek Dikti dengan masyarakat mitra anggota Dasa Wisma Anggrek II. Kegiatan ini juga dilaksanakan bersamaan dengan mahasiswa KKN-PPM yang ditempatkan di Nagari Kapuh,” tambahnya.

Dikatakan, kelor ini Miracle of Tree yang belum membudaya di masyarakat Kabupaten Pesisir Selatan dan Sumatara Barat, bahkan sebagian besar masyarakat menganggap tanaman ini mengandung mistis, sehingga justru dijauhi oleh masyarakat.

Menurutnya, dengan adanya kegiatan tersebut, diharapkan masyarakat khususnya anggota Dasa Wisma Anggrek II, mulai mengubah anggapan mereka tentang Kelor.

“Guna meningkatkan partisipasi masyarakat, maka peserta pelatihan yang telah berhasil menumbuhkan tanaman Kelor dengan baik di lahan rumah mereka, diberikan apresiasi berupa hadiah peralatan produksi,” tutupnya.

Lihat juga...