hut

Upacara Kemerdekaan ala Warga Desa Kembang di Samping Kuburan

Editor: Mahadeva

BONDOWOSO – Warga RW 8 Desa Kembang, Kecamatan Kota, Kabupaten Bondowoso memiliki cara menarik untuk merayakan kemerdekaan Indonesia.

Digelar di kebun kosong, yang terletak di dekat kuburan, mereka mengadakan upacara pengibaran bendera dengan kostum para tokoh pejuang.  “Biar unik dan menarik. Tapi yang lebih penting, kami ingin khususnya kepada generasi muda agar jiwa patriotisme tetap terjaga dengan baik,” ujar, Peltu Giyono Adi Solik, Ketua RW 8 Desa Kembang, Kecamatan Kota, Bondowoso usai upacara bendera, Sabtu (17/8/2019).

Sementara untuk peserta upacara yang merupakan bapak dan ibu, yang sudah tidak muda, hadir mengenakan busana dengan profesi tertentu. Seperti dokter, polisi, tentara atau petani.

Peltu Giyono Adi Solik, Ketua RW 8 Desa Kembang, usai upacara bendera. Sabtu (17/8/2019). Foto: Kusbandono.

Melalui upacara tersebut, Giyono yang merupakan purnawirawan TNI sejak 2004 berharap, warga bisa menyadari bahwa kemerdekaan Indonesia diraih dengan perjuangan. Mengorbankan darah dan harta yang tak terhingga. “Karena itu, mari kita isi kemerdekaan dengan hal-hal yang baik,” ujar Giyono.

Persiapan menggelar upacara secara unik dan khidmat tersebut, juga terbilang mepet. Mereka berlatih selama satu minggu terakhir. Dasar-dasar baris berbaris yang dimiliki semasa aktif di militer, ditularkan kepada warga dan terutama petugas upacara. “Nasionalisme dan semangat patriotik itu harus tetap dijaga,” papar Giyono.

Meski sederhana, suasana khidmat tetap terjaga selama upacara. Sebelum upacara, pada malam harinya warga juga menyempatkan diri mengadakan renungan suci. “Kalau dalam tradisi militer biasanya ada renungan suci di makam taman pahlawan. Kalau kami digelar di musala warga sambil berdoa dan makan bersama,” papar Giyono.

Usai upacara bendera, giliran generasi muda yang unjuk kebolehan. Secara swadaya, mereka menghelat drama kolosal untuk mengenang perjuangan para pahlawan mengusir penjajah. “Kami mementaskan perjuangan Bung Tomo dan para pasukannya dalam mengusir penjajah pada momen pertempuran 10 November 1945 di Surabaya,” ujar Novela Yuni Pangistu, sutradara drama kolosal.

Pementasan melibatkan sekira 30 anak-anak usia SD dan SMP. Meski persiapan terbilang minim, namun berhasil berjalan dengan lancar. “Kami cuma latihan sekali, kemarin sore. Karena anak-anak masih sibuk sekolah dan idenya juga mendadak,” tutur pemudi asli Desa Kembang yang kini berkuliah di Polije itu.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

»
escort99.com