hut

Walkot Tanggapi Wacana Bekasi Wilayah Jakarta Tenggara

Editor: Koko Triarko

BEKASI  – Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, lebih memilih bergabung dengan DKI Jakarta ketimbang masuk dalam Provinsi Bogor Raya.  Hal tersebut menanggapi adanya wacana Kota Bekasi yang akan dijadikan wilayah DKI Jakarta Tenggara, dan pembentukan Provinsi Bogor Raya yang digagas oleh Wali Kota Bogor.

“Kota Bekasi itu polisinya seperti polres, secara administrasi menginduk ke Polda Metro Jaya. Begitu pun TNI menginduk ke Kodam Jaya. Dan, soal hirarki budaya dan sejarah, dulu satu kerisidenan dengan Jatinegara, sebelum pecah pada 1976,”ujar Rahmat Effendi, Senin (19/8/2019).

Rahmat Effendi mengaku, jika dirinya tidak ambil pusing dengan wacana pemekaran wilayah yang santer diberitakan belakangan ini. Tetapi sepanjang untuk percepatan pembangunan, kenapa tidak? Tetapi, perlu dipahami, bahwa di Kota Bekasi ada kepala daerah dan DPRD, tentu harus bersama.

Dia berpendapat, jika sebagian besar warganya pasti setuju jika Kota Bekasi bergabung dengan Provinsi DKI Jakarta dibanding masuk dalam Provinsi Bogor Raya, karena sejarah dan kultur Bekasi dianggap lebih dekat dengan Jakarta.

Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi, menanggapi wacana Kota Bekasi yang akan dijadikan wilayah DKI Jakarta Tenggara, dan pembentukan Provinsi Bogor Raya yang digagas oleh Wali Kota Bogor, Senin (19/8/2019). –Foto:M Amin

“Kalau dijajak pendapat, pasti 60, 70, 80 persenlah, karena DKI kan punya support yang luar biasa, ke Kota Bekasi” tandasnya.

Dia juga menjawab komentar di media sosial, jika wacana DKI Jakarta memasukkan Kota Bekasi sebagai wilayah Jakarta Tenggara untuk menguasai lahan Sampah di Bantargebang, hal tersebut menurutnya salah besar.

“Apa yang mau dikuasai di Bantargebang? Toh, lahan tersebut milik DKI Jakarta sendiri. Ada lagi yang mengatakan, pasti pilih DKI karena banyak kucuran dana, itu tidak benar,” tukasnya.

Menurutnya, memilih Kota Bekasi menjadi Jakarta Tenggara tak lain karena dilihat dari aspek sosial, budaya dan ekonomi Kota Bekasi dengan Jakarta yang masih satu kesatuan.

Dia beranggapan, bahwa konteks Bogor Raya lebih kepada sistem kepakuan dari sisi histori, dia menerangkan melalui sistem kepakuan maka lebih relevan adalah Pakuan Bhagasasi, karena punya hirarki dulu sejarah kerajaan, Tarumanegara Pajajaran. Tapi, kalau dari sisi kultur, lebih dekat DKI, budayanya sama.

Bahkan, kata dia, pada 1050-an, Keresidenan Jatinegara, Bekasi dan Cilincing itu, satu. “Pada 1976, Cilincing dengan Cakung diambil DKI kita dikasih stadion dan pada 1996 pemekaran, kita jadi Kota Bekasi,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!