hut

Warga di Lamsel Manfaatkan Air Hujan Pertama

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Hujan yang mulai turun di wilayah Lampung Selatan (Lamsel) sejak dua hari terakhir, dimanfaatkan warga dengan menampungnya menggunakan tandon air, jerigen dan ember.

Edi Gunawan waerag Penengahan, Lasmel, menyebut hujan turun sejak Selasa (27/8) dan Rabu (28/8) dengan intensitas deras. Selama kemaraun, ia mengaku kesulitan mendapatkan air bersih dari sumur. Mesin pompa air yang kerap digunakan sementara harus diangkat dan beralih memakai timba.

Saat hujan turun,  cukup membantu bertambahnya debit air pada sumur. Selain memanfaatkan air hujan yang meresap pada sumur, ember dan jerigen disiapkan pada sejumlah talang.

Menurutnya, talang atau tempat aliran air yang disalurkan melalui pipa menghasilkan ratusan ember air. Sebagian air langsung diangkut ke bak penampungan air di dalam kamar mandi untuk diendapkan.

Edi Gunawan memenuhi jerigen dengan air hujan yang mulai melanda Lamsel sejak dua hari terakhir, Rabu (28/8/2019). -Foto: Henk Widi

Edi Gunawan sengaja mengambil air hujan untuk dipergunakan untuk mandi, mencuci dan kakus. Kebutuhan air untuk masak dan minum masih bisa diperoleh dari sumur yang mulai terisi air resapan.

“Hampir tiga bulan, wilayah kami tidak pernah turun hujan, namun penghujung Agustus ini mulai diguyur hujan yang membantu pasokan air bersih dan mata air di sumur kembali bertambah debitnya,” ungkap Edi Gunawan, saat ditemui Cendana News, Rabu (28/8/2019).

Edi Gunawan menyebut, untuk mengurangi keasaman (Ph) air hujan ia memilih melakukan proses pengendapan memakai pasir, ijuk, genting dan arang. Selain itu, tawas juga digunakan agar air hujan yang ditampung bisa digunakan untuk memcuci. Air hujan yang ditampung pada hari kedua, lebih bersih dari hari sebelumnya, sehingga langsung dipindah ke bak mandi.

Sumur yang kering akibat kemarau, menurut Edi Gunawan ,mulai mengalami penambahan air. Hujan hari pertama kedalaman sumur mencapai sekitar 15 meter, dan masih bisa ditimba. Memasuki hujan hari kedua, sumur miliknya mulai bisa dipompa menggunakan mesin dengan kedalaman air hanya mencapai 10 meter. Jika hujan turun secara rutin, dipastikan ia tidak lagi kesulitan air bersih.

“Air hujan tetap saya tampung untuk mengepel, membersihkan lantai yang selama kemarau air selalu dihemat,” jelas Edi Gunawan.

Air yang ditampung pada sejumlah ember, tandon air, bisa dipakai untuk menyiram bunga. Ia menyebut, meski hujan melanda dua hari terakhir, musim kemarau belum berakhir.

Sebagai antisipasi kemarau masih akan berlanjut, kegiatan menampung air hujan bisa digunakan untuk stok. Sekaligus bisa dipergunakan untuk menyiram tanaman dan bunga, jika kemarau masih berlanjut.

Penampungan air saat hujan juga dilakukan oleh Suyatinah, warga desa yang sama. Memanfaatkan kolam penampungan dari terpal bulat dan kolam semen, air ditampung untuk kebutuhan menyiram tanaman.

Ia menyebut, sejatinya kolam penampungan dipakai sebagai tempat memelihara ikan nila dan lele. Namun selama kemarau, air juga digunakan menyiram sayuran dan bunga.

“Tampungan air dengan luas 12 meterpersegi bisa menampung air hujan musim sebelumnya, dan efektif bisa membantu menyiram tanaman selama kemarau,” timpalnya.

Hujan yang mengguyur, meski belum menjadi tanda tibanya musim penghujan, namun cukup membantu. Sejumlah tanaman di halaman rumah serta di kebun ,kembali menghijau setelah mengalami kekeringan hampir selama lima bulan lebih.

Kolam ikan dengan terpal berbentuk kotak dan bulat yang sempat menyusut, bahkan mulai limpas.

Suyatinah menambahkan, saat hujan turun ia juga menampung air dengan bak plastik, jerigen serta tower penampung air. Air hujan yang ditampung sebagai tabungan air bersih, sekaligus untuk berjaga saat kemarau berlanjut.

Air tampungan hujan menjadi cara efektif menghemat penggunaan air. Sebab, dengan adanya stok air hujan, air sumur bisa dipergunakan untuk keperluan lain.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!