Warga Sampit Serahkan Orangutan ke BKSDA

Orangutan betina berusia delapan tahun yang diserahkan warga kepada BKSDA untuk dilepasliarkan, Kamis (15/8/2019) - Foto Ant

SAMPIT – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Tengah menerima seekor orangutan (pongo pygmaeus) dari masyarakat.

Satwa yang telah dipelihara selama tujuh tahun tersebut, diserahkan seorang warga Desa Bejarum, Kecamatan Kota Besi, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah.

“Orangutan itu sempat dirawat selama tujuh tahun. Setelah diserahkan warga, orangutan itu langsung dibawa ke Pangkalan Bun untuk diobservasi sebelum dilepasliarkan,” kata Komandan Pos Jaga BKSDA Sampit, Muriansyah, Jumat (16/8/2019).

Awalnya, BKSDA menerima informasi dari masyarakat pada Minggu (11/8/2019) lalu, ada warga Desa Bejarum yang memelihara orangutan. Seperti diketahui, orangutan termasuk satwa dilindungi sehingga tidak boleh dipelihara, dibunuh atau diperjualbelikan. Apabila dilakukan maka pelakunya dinilai melanggar hukum.

Informasi itu ditindaklanjuti dengan turun ke lapangan, dan setelah tiga hari ditelusuri, akhirnya ditemukan orangutan yang dipelihara warga tersebut. Orangutan itu berjenis kelamin betina, berusia sekitar delapan tahun. Orangutan itu dirawat oleh warga bernama Anang Ariansyah.

Anang mengaku menemukan orangutan itu ketika satwa langka itu berukuran kecil, tanpa induk di hutan Desa Kandan, Kecamatan Kota Besi, saat bekerja membelah kayu. Merasa kasihan, Anang kemudian membawa pulang anak orangutan tersebut untuk dirawat.

Hingga kini, sudah sekitar tujuh tahun, Anang merawat orangutan tersebut. Dia memperlakukannya dengan baik, dengan memberi makan agar satwa tersebut tetap sehat. Anang baru mengetahui bahwa orangutan tidak boleh dipelihara, setelah Muriansyah dan timnya datang memberi penjelasan. Setelahnya, meski dengan berat hati, Anang dan keluarga merelakan dan menyerahkan orangutan tersebut kepada BKSDA.

Nantinya, satwa tersebut akan dilepasliarkan ke hutan yang merupakan habitat aslinya. “Kondisi orangutan cukup sehat. Kami berterima kasih atas pengertian dan kesadaran masyarakat untuk turut menyelamatkan satwa dilindungi,” kata Muriansyah.

Muriansyah mengimbau, masyarakat untuk tidak menangkap, memelihara, memperjualbelikan atau membunuh satwa dilindungi. Selain melanggar hukum, tindakan tersebut juga bisa menyebabkan satwa dilindungi menuju kepunahan.

Jika menjumpai satwa dilindungi, seperti orangutan, beruang, bekantan atau satwa lainnya, masyarakat diminta menghubungi BKSDA. Hal itu agar satwa tersebut ditangkap dan dievakuasi dengan cara yang benar, untuk kemudian kemudian dilepasliarkan di hutan yang merupakan habitat aslinya. (Ant)

Lihat juga...