hut

Aktivitas GAK Masih Normal Meski Semburkan Asap Hitam

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

LAMPUNG — Aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK) di Selat Sunda dipastikan normal meski menyemburkan asap hitam keluar dari kawah. Tinggi kolom asap diperkirakan mencapai 300 meter pada Selasa (18/9/2019).

Suwarno, petugas pos pengamatan gunung berapi, Gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran kecamatan Rajabasa Lampung Selatan. Foto: Henk Widi

Suwarno, petugas pos pengamatan gunung berapi, Gunung Anak Krakatau di desa Hargo Pancuran kecamatan Rajabasa Lampung Selatan (Lamsel) menyebutkan, hingga Kamis (19/9/2019) secara visual gunung berapi di Selat Sunda tersebut masih terlihat. Namun asap yang dikeluarkan berwarna putih.

Ia menyebut berdasarkan pemantauan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tercatat sebanyak 5 kali letusan diiringi asap pekat setinggi 150 hingga 300 meter.

Kondisi tersebut diakui Suwarno masih wajar sebagai aktivitas vulkanik gunung yang tengah membangun dirinya. Sebab usai letusan pada 22 Desember 2018 silam, gunung berapi tersebut runtuh. Akibatnya gunung setinggi 338 meter di atas permukaan laut (mdpl) ambles.

Ketinggian gunung sempat hanya mencapai 110 mdpl lalu naik menjadi 157 mdpl. Erupsi membawa material pasir menambah ketinggian GAK secara bertahap.

“Pemantauan menggunakan cctv pada gunung tersebut memperlihatkan aktivitas vulkanik terus berlangsung normal seperti pada gunung api yang aktif dan menjadi aktivitas harian,” ungkap Suwarno saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (19/9/2019)

Pos pemantauan di Desa Hargo Pancuran,Kecamatan Rajabasa, disebutnya terus melakukan pencatatan. Namun dalam jarak dekat peralatan seismograf, cctv digunakan untuk memantau kondisi dan data dibaca oleh PVMBG di Bandung. Pemantauan selama 24 jam tersebut akan dilaporkan setiap enam jam.

Meski aktivitas letusan kecil disertai asap hitam, imbauan kepada nelayan tidak mendekat pada radius 2 kilometer masih diberlakukan. Sejak mengalami letusan berimbas tsunami Selat Sunda status GAK masih ditetapkan pada level II atau waspada.

“Nelayan harus memperhatikan arah angin sebab material debu vulkanik yang terbawa angin mengganggu pernapasan dan penglihatan,” tegasnya.

Aktivitas GAK yang menggeliat dengan letusan kecil dan asap hitam tidak mengganggu aktivitas nelayan dan warga pesisir. Marjaya, nelayan bagan apung di Dusun Minang Rua, Desa Kelawi mengaku aktivitas melaut berjalan normal.

“Jika ketinggian gunung sudah rendah kami justru tenang karena energi yang ada semakin kecil, kalau hanya letusan dan asap sudah puluhan tahun biasa terjadi,” tutur Marjaya.

Marjaya juga menyebut aktivitas GAK di Selat Sunda tidak mengganggu kegiatan warga pesisir. Sebab kolom asap hanya setinggi 300 meter. Gangguan akibat debu disebutnya bisa berpotensi terjadi jika ada letusan disertai kolom abu setinggi 1.000 meter dan angin mengarah ke timur. Kolom asap yang disertai abu menurutnya akan jatuh di sekitar Krakatau dan tidak membahayakan nelayan.

Lihat juga...