Alih Fungsi, Lahan Sawah di Sumbar Mengalami Penyusutan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

PADANG — Seiring berkembangnya pembangunan rumah di sejumlah daerah di Provinsi Sumatera Barat, berdampak buruk kepada kondisi lahan sawah produktif. Dari waktu ke waktu, terus terjadi penyusutan, bahkan hingga 2018 lalu, 10.000 lahan sawah telah menjadi kawasan perumahan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra, saat ditemui di salah acara di Padang, Senin (9/9/2019)/Foto: M. Noli Hendra

Kepala Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumatera Barat, Candra , mengatakan, kondisi alih fungsi lahan produktif menjadi kawasan perumahan dapat dikatakan dalam kondisi mengkhawatirkan.  Hal tersebut terjadi karena tidak tegaknya aturan tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW).

“Padahal dalam aturan RTRW itu jelas, bagi yang mendirikan bangunan di atas lahan produktif bisa dipidana. Tapi kenyataannya sekarang itu, lahan produktif seakan jadi sasaran mendirikan bangunan rumah atau perumahan,” katanya, Senin (9/9/2019).

Menurutnya, alasan yang membuat lahan sawah produktif menjadi kawasan perumahan, karena letaknya yang strategis di tepi jalan, serta memiliki hamparan yang luas tanpa ada pohon-pohon besar yang mengganggu pembangunan rumah.

“Padahal, kondisi tersebut sangat disayangkan karena dapat mempengaruhi target produksi padi di Sumatera Barat,” tambahnya.

Candra mengatakan, melihat data terakhir pada 2017 lalu, luas lahan sawah di provinsi itu mengalami pengurangan signifikan dari 230 ribu hektare menjadi 127.800 hektare berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS). Sumatera Barat telah kehilangan 14,6 persen lahan sawah sehingga seluruh kabupaten dan kota.

“Lalu kalau kita lihat luas penambahan tanam sawah juga mengalami pengurangan dari 609.810 hektare menjadi 593.160 hektare. Kondisi tersebut sangat berpengaruh pada anggaran sektor pertanian,” ucapnya.

Lihat juga...