hut

Alsintan Magnet Penarik Tenaga Kerja ke Sektor Pertanian

Editor: Mahadeva

Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Kota Balikpapan, Heria Prisni, Foto Ferry Cahyanti

BALIKPAPAN – Pemerintah berupaya agar tenaga kerja atau pencari kerja, tertarik masuk ke sektor pertanian. Salah satu upayanya dengan memanfaatkan teknologi inovasi alat mengolah lahan pertanian.

Pemerintah Kota Balikpapan, mendorong petani untuk menggunakan alat dan mesin pertanian (Alsintan) modern. Hal itu dilakukan sejak dua tahun terakhir. Petani mulai menggunakan alsintan seperti Kultivator, atau alat pengaduk dan penghancur gumpalan tanah.

Alat tersebut dilakukan sebelum penanaman (untuk mengaerasi tanah), maupun setelah benih atau bibit tertanam (untuk membunuh gulma).  “Strateginya seperti apa? Agar generasi penerus mau bertani, khususnya dalam mengolah pertanian dapat terus bertahan dan tidak ditinggalkan dengan alsintan. Jadi, kadang generasi muda ini tidak mau capek. Alat dan mesin pertanian, kultivator hanya berapa jam untuk satu hektare sudah bisa dilakukan. Tidak harus mencangkul berhari-hari. Sekarang kita mulai kenalkan,” jelas Kepala Dinas Pangan, Pertanian dan Perikanan Balikpapan, Heris Prisni, Senin (9/9/2019).

Berdasarkan data, tercatat jumlah tenaga kerja yang terserap di sector pertanian sebanyak 9.341 orang. Jumlah itu terbagi untuk 262 kelompok tani. Terdiri dari 147 kelompok Tani Pangan, 56 kelompok Nelayan, 14 kelompok Wanita Tani, lima kelompok Pengolah Hasil dan empat kelompok Pembudidaya Perikanan.

“Jumlah itu menurun, apabila merujuk data Badan Pusat Statistik Kota Balikpapan tahun 2018. Ada penurunan sekitar 2.500 kk, dan memang beberapa tahun terakhir, mengalami penurunan untuk SDM yang bergelut pada pertanian,” keluhnya.

Berdasarkan Survei Pertanian Antar Sensus (Sutas) 2018 oleh BPS kota Balikpapan, jumlah petani di kota minyak ada 8.646 orang. 78 persen diantaranya, petani berjenis kelamin laki-laki dan 22 persen petani perempuan.  Adapun rumah tangga pertanian, berdasarkan jenis usaha utama adalah tanaman padi sebanyak 30 rumah tangga, tanaman palawija 633 rumah tangga, hortikultura 2.342 rumah tangga, perkebunan 1.246 rumah tangga, peternakan 1.173 rumah tangga, budidaya ikan sebanyak 263 rumah tangga, penangkapan ikan 1.218 rumah tangga, budidaya tanaman kehutanan 2 rumah tangga, kehutanan 25 rumah tangga dan jasa penunjang pertanian 3 rumah tangga.

Penyebab turunnya jumlah tenaga kerja yang terserap di sektor pertanian menurut Heria, karena tenaga kerja cenderung tidak memilih pertanian. Hal itu dilakukan dengan alasan upah murah. Sehingga pertanian cenderung diteruskan dengan turun menurun.  “Biasanya orang tua yang memiliki lahan pertanian dilanjutkan oleh anaknya atau keluarganya sendiri. Buruh tani untuk di Balikpapan dalam sehari diberikan honor Rp90 ribu hingga Rp100 ribu. Sehingga tenaga kerja lebih memilih sektor lainnya,” pungkasnya.

Penyebab lainnya, karena adanya alih fungsi lahan seperti ada pembangunan perumahan dari lahan yang dimiliki petani. “Penurunan banyak lahan pertanian yang alih fungsi pembangunan perumahan. Tetapi apabila lahan pertanian yang sudah masuk rencana tata ruang wilayah (RTRW) tidak akan digunakan, kecuali untuk pertanian. Karena sudah berdasarkan RTRW maka tidak akan dibangun,” tegas Heria Prisni.

Luas lahan pertanian di 2017 ada 15 ribu hektare. Dan yang dimanfaatkan seluas 10 ribu hektare. “Tahun 2018, kalau merujuk BPS, luas lahan yang dikuasai petani di Balikpapan juga tidak banyak. Kalau kami mengukur dari petani yang mengolah,” sebutnya.

Upaya penyerapan tenaga kerja ke sektor pertanian, dilakukan dengan upaya pengenalan peralatan teknologi pertanian modern. Dengan tujuan, tenaga kerja pengolahan lahan pertanian lebih efektif, dan percepatan peningkatan produktivitas pertanian.  “Kami mulai kenaikan alsintan baik melalui bantuan APBN, maupun alat yang dibeli petani sendiri dengan swadaya. Kalau dilihat petani disini juga secara ekonomi mampu meningkatkan kesejahteraanya dengan lahan pertaniannya,” ujarnya.

Keberadaan alsintan, diharapkan dapat memberikan dampak pada penyerapan tenaga kerja sektor pertanian, meskipun harga untuk alsintan tidaklah murah. Satu unit kultivator harganya Rp17 juta.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!