hut

Atasi Kebakaran, Satgas Karhutla Sumsel Libatkan Tujuh Helikopter

PALEMBANG – Satuan Tugas (Satgas) Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) menurunkan tujuh unit helikopter pembom air (water bombing) sekaligus untuk memadamkan api yang tersebar di sejumlah kabupaten pada Ahad.

Titik kebakaran lahan dan hutan di Sumatera Selatan masih didominasi di wilayah Kabupaten Ogan Komering Ilir dan Kabupaten Musi Banyuasin.

Bahkan berdasarkan data dari Satelit Lapan terdapat sekitar 587 titik panas, dimana 251 di OKI dan 159 di Musi Banyuasin.

“Titik panas hari ini memang cukup banyak. Bahkan dari pengamatan hari ini jumlahnya bertambah menjadi lebih dari 700 titik. Didominasi di OKI dan Muba,” ujar Kabid Penanganan Bencana BPBD Sumsel, Ansori.

Ia mengatakan dari tujuh unit helikopter pembom air itu, tiga unit helikopter untuk pemadaman di OKI, tiga unit di Ogan Ilir dan satu unit di Penukal Abab Lematang Ilir.

“Awalnya kita rencanakan empat helikopter di OKI dan tiga helikopter di Muba. Namun, karena jangkauan pandangan (visibility) rendah di Muba, maka kami alihkan helikopter ke sana. Untuk daerah lain, kami maksimalkan pemadaman dari tim satgas darat,” kata dia.

Selain itu, dua helikopter untuk patroli juga sudah bekerja mengitari dan mengecek via udara lokasi-lokasi lahan terbakar.

Sementara itu, Kasi Observasi dan Informasi BMKG Bandara SMB II Palembang, Bambang Beni Setiadji mengatakan angin permukaan yang tercatat di BMKG Stasiun Meteorologi SMB II Palembang umumnya dari arah timur – tenggara dengan kecepatan 4-14 Knot (7-28 Km/Jam).

“Ini yang mengakibatkan potensi masuknya asap akibat karhutla ke wilayah Kota Palembang dan sekitarnya,” kata dia.

Sumber dari Lapan mencatat beberapa titik panas di wilayah sebelah timur – selatan Kota Palembang dengan tingkat kepercayaan di atas 80 persen yang berkontribusi asap ke wilayah Kota Palembang yakni pada wilayah Banyu Asin I, Pampangan, SP Padang, Pedamaran, Tulung Selapan, Cengal, Pematang Panggang, Tanjung Lubuk, dan Cempaka.

Intensitas Asap (smoke) umumnya mulai meningkat terjadi pada sore hari (16.00 WIB) hingga menjelang pagi hari (00.00-07.00 WIB) dikarenakan pergerakan udara yang stabil pada saat tersebut.

Keberadaan asap diindikasikan dengan kelembaban yang rendah dengan partikel-partikel kering di udara, mengurangi jarak pandang, beraroma khas, perih di mata, mengganggu pernafasan dan matahari terlihat berwarna oranye/merah pada pagi/sore hari.

Hal ini berpotensi jadi lebih buruk jika adanya campuran kelembaban yang tinggi (partikel basah/uap air) sehingga membentuk fenomena kabut asap yang umumnya terjadi pada pagi hari.

Ia mengatakan jarak pandang tertinggi yang tercatat di Bandara SMB II Palembang pada tanggal 21 September 2019, yakni 10 Km dan yang terendah pada pagi hari tanggal 22 September 2019 berkisar 200-800 m dengan Kelembaban 88-95 persen.

“Dengan keadaan cuaca asap seperti ini berdampak pada penundaan penerbangan hingga delapan jam,” kata dia.

Berdasarkan model prakiraan cuaca BMKG akan ada potensi hujan dalam rentang prakiraan 23-24 September 2019 di wilayah Sumatra Selatan.

Pada 23 September 2019 peluang hujan 20-40 persen untuk Sumsel bagian timur dan 40-80 persen untuk Sumsel bagian barat untuk peluang hujan minimal 10 mm. Sedangkan pada 24 September 2019 peluang hujan 40-80 persen untuk seluruh wilayah Sumsel untuk peluang hujan minimal 10 mm.

BMKG mengimbau masyarakat untuk berhati-hati dalam berkendaraan pada pagi hari (04.00-07.00 WIB) dan pada sore hari (17.00-19.00 WIB) seiring potensi menurunnya jarak pandang.

Selain itu, warga juga diminta senantiasa menggunakan masker dan mengonsumsi banyak air saat beraktivitas di luar rumah untuk menjaga kesehatan. (Ant)

Lihat juga...