hut

Bawalah Saya dari Halmahera

CERPEN ARIS KURNIAWAN

SAYA bosan di sini. Hanya desis ombak, kepak burung, aroma cengkeh, pala, kayu manis. Saya ingin masuk diskotik, menari dalam siraman warna warni lampu disko.

Saya cuma tahu Jakarta dari televisi. Semarak dan indah sekali. Segalanya ada. Malnya besar-besar. Bioskop, hotel, tempat hiburan tersebar di setiap pojok gang.

Menyenangkan sekali hidup di sana, apa saja yang kita ingin tersedia asal kita punya duit banyak. Tidak seperti di sini, cuma teluk, gugusan bukit dan pegunungan hijau yang sebagian puncaknya diselubungi kabut.

Selebihnya hamparan pantai melulu, tebing-tebing curam yang dikepung perairan biru jernih. Tak ada butik, distro, dan gedung pertunjukan, apalagi perpustakaan. Mau jadi apa saya terus di sini? Pengkhayal seumur hidup?

Saya ingin pergi dari tempat ini sesekali. Melupakannya beberapa waktu. Kamu mau kan mengantar saya? Apa yang bisa saya kerjakan di sini selain menghitung butiran pasir di pantai sembari memandang terumbu dan tebing-tebing karang yang menjulang?

Jajaran pohon kelapa dan enau yang berbaris di lereng bukit, kenapa sih membuat kamu terlihat takjub sekali memandangnya. Berdiri di lereng perbukitan Jailolo, melihat matahari perlahan-lahan tenggelam di laut Halmahera saja kamu kegirangan dengan cara begitu naif lagi kampungan.

Baiklah saya akan mengantarmu ke mana pun kamu mau di pulau ini. Kita menyewa speedboat untuk menyeberang ke Pulau Gorngofa. Apa jangan speedboat? Kamu mau kita naik perahu dayung ke pulau karang itu?

Kamu tak takut wajahmu belang? Tapi berjanjilah kamu nanti mengantarku saat saya datang ke Jakarta. Saya tahu kamu mau mengantar saya melihat keajaiban-keajaiban yang ada di Jakarta.

Menelusuri relung-relungnya yang menggairahkan pada malam hari. Bukankah saya juga bersedia mengantarmu ke mana saja di pulau ini? Kamu orang baik yang tahu membalas kebaikan teman.

Akan kucarikan perahu dayung untuk mengantarmu ke Pulau Gorngofa. Istirahat saja dulu sebentar di kamar penginapan. Kamu pasti lelah setelah mendaki bukit. Lihat sepatumu, lihat kakimu.

Kamu mau makan popeda? Ya, orang di Jawa biasa menyebutnya papeda. Tunggulah saya akan mengirim orang membawakan popeda untukmu. Wah kamu sudah mahir cara makan popeda rupanya.

Tak pakai sendok melainkan jari telunjuk dan jempol untuk memisahkan bagian yang akan kamu masukkan ke mulut. Betul, tak perlu dikunyah, melainkan langsung telan.

Habiskan popedamu. Saya akan menjemputmu setelah kamu cukup segar untuk kembali bertualang. Apa, kamu mau ikut mencari perahu dayung? Baiklah.

Kita akan mendayung selama satu jam untuk mencapai Pulau Gorngofa. Duduklah di belakang. Bantu saya mendayung kalau mau. Saya pernah ke pulau ini waktu sekolah dulu bersama kawan-kawan. Itu pengalaman yang membosankan.

Saya mau mengulanginya hanya karena kamu sudah berjanji akan menjemputku tahun depan di Pelabuhan Jailolo, membawaku dari sini dan terbang Jakarta. Apa, pulau ini unik kamu bilang? Hanya pulau biasa yang tak memiliki garis pantai.

Dinding dan tebing-tebing karang yang tinggi menjulang sangat curam dan langsung masuk ke dasar laut. Orang-orang kampung bilang pulau ini berawal dari perahu musuh yang karam oleh dahsyatnya ombak. Mereka sering mengada-ada. Para pengkhayal yang tak tersembuhkan.

Apa sih sebenarnya yang kamu cari di Jailolo? Liburan? Kenapa tak ke Bali saja. Di Jailolo kafe untuk sekadar nongkrong dan ngobrol dengan nyaman saja tak ada. Apalagi pijat refleksi, salon, dan fitness center.

Bayangkan, kami masak saja masih pakai kompor minyak bersumbu dua puluh. Bagaimana mau bikin ayam goreng cepat saji kalau kompor gas saja tak ada. Buang-buang waktu kan?

Di sini waktu memang bergerak seperti siput. Pelan dan menjengkelkan. Apa? Kamu menyukai kelambanan? Hahaha. Semua orang menginginkan kemudahan dan keserba-lekasan. Itulah ciri peradaban modern. Kenapa di dunia ini ada orang yang menyukai kelambanan seperti kamu?

Sebentar lagi kita sampai di Pulau Gorngofa. Hai kenapa wajahmu muram? Baiklah, saya pelankan mendayung supaya kamu bisa menikmati semua pemandangan ini lebih lama, menghayati desir angin dan suara ombak.

Ikan-ikan berenang dan mengejar kita di bawah permukaan air jernih seolah terbang. Pohon-pohon kelapa yang berkeriap daunnya melambai-lambai di gigir bukit.

Lihatlah, angin yang mendorong laju perahu kita. Bukan karena saya cepat mendayung. Ayo berikan tanganmu. Nah. Sekarang kita sudah menjejak di Pulau Gorngofa. Hanya begini-begini saja kan? Dinding karang yang tabah diterjang gelombang berulang-ulang sejak nun miliran tahun silam…

Dari Pulau Gorngofa kita menyeberang lagi ke perbukitan Jailolo. Di lerengnya yang agak landai sedang ada perhelatan Jailolo Kitchen. Ini perhelatan masak-memasak. Semua kuliner tradisional Jailolo disajikan. Kamu bilang pengin mencicip semua kuliner kami, bukan?

Mereka mendirikan tenda, membuat panggung dan dapur. Semuanya dari batang-batang pohon bambu, kelapa, dan terutama enau.

Mereka juga membuat bangku-bangku dan meja panjang untuk menyajikan masakan sambil menari. Bahkan saat meracik bumbu pun mereka lakukan sambil menggerakkan kaki dan bahu secara ritmis. Para laki-laki menabuh tifa dan gong kecil di panggung.

Kamu akan dipersilakan mencicip semua kuliner yang disajikan. Jangan protes ke saya kenapa mereka menamai acara ini Jailolo Kitchen dan bukan Dapur Jailolo. Apalagi protes kenapa mereka tak mampu menangani sampah plastik dari acara ini.

Duduklah di sana sambil menghirup air jahe hangat campur nira dengan taburan kacang tanah di bawah kerindangan pohon cengkeh dan pala. Akan kupetikkan sebutir pala untukmu. Kamu mau memetik sendiri?

Ya mirip apel dan warnanya kekuningan serupa markisa, namun dagingnya tidak selunak itu. Kamu bisa menggigitnya langsung. Rasanya pedas dan membuat rongga mulutmu kesat, semriwing tanpa perlu sikat gigi dan berkumur.

Lelaki itu, ya lelaki bertampang Portugis itu, kepala desa sini. Namanya William Calvin. Dia pasti senang menjawab pertanyaan orang-orang seperti kamu yang baru melihat perhelatan ini. Bahkan dia tak keberatan memperagakan cara memetik cengkeh di dahan-dahannya yang tinggi sekadar untuk kamu potret.

Saat ini harga cengkeh sedang jatuh, hanya Rp80 ribu per kilo. Karena persediaan sedang melimpah. Maklum, para petani cengkeh menanen dalam waktu hampir bersamaan. Pada saat yang tepat, harganya bisa mencapai Rp190 ribu per kilo.

Mau apa ke Desa Guaeria di Tufiri? Itu desa yang sangat sepi. Penduduknya hanya beberapa puluh orang. Mereka tinggal di rumah-rumah panggung di antara lereng bukit dan garis pantai. Lebih senyap dari Pelabuhan Jailolo.

Mau ketemu Willy? Siapa dia, pacar kamu? Bagaimana kalian bisa saling mengenal? Oh kamu blogger.

Kalau kamu menikah dengan orang sini, kamu tak akan sulit ke mana-mana. Dulu saya pernah menikah dengan orang Gorontalo, waktu kami kuliah di Ternate. Kami menikah terpaksa karena pacar saya hamil.

Setelah itu kami bercerai. Dia kembali ke Gorontalo membawa anak kami, saya kembali ke Jailolo.
Sejak itu saban bulan saya harus menyeberang ke Ternate untuk memenuhi hasrat bercinta. Di Ternate meskipun kecil ada klab dan tempat minum-minum.

Saya tidak mungkin berkencan dengan perempuan di sini. Bisa-bisa saya dipaksa menikah. Saya tak mau menikah. Berkeluarga itu menjengkelkan. Lagi pula mahal sekali untuk meminang perempuan di sini.

Jadi, besok kamu mau ke Tufiri, naik perahu dayung lagi? Lihat kulit dan wajahmu belang-belang. Oke-oke, malam ini tidurlah yang nyenyak supaya besok lebih segar. Saya akan datang pagi-pagi menjemputmu.

Tetapi kalau boleh tahu, apa betul kamu hanya berteman dengan Willy? Tak apa kalau kamu tak mau menjawab pertanyaanku.

Saya baru ingat, Willy itu aktivis lingkungan. Dia dan teman-temannya rajin menanami kembali terumbu karang yang rusak, memunguti sampah-sampah plastik di perairan Halmahera.

Itulah pekerjaannya. Tapi jangan lama-lama di Tufiri. Karena sore hingga malam nanti kita ke desa Suku Sahu, suku terbesar di Halmahera Barat. Ada perayaan adat Horom Toma Sasadu.

Kamu senang melihat tarian tradisional kan? Di perayaan adat ini kamu boleh ikut menabuh tifa dan menari. Tentu saja ada tari Cakalele. Tarian yang kamu bilang membuat jiwamu menggelegak gembira dan menemukan kembali sesuatu entah apa yang pernah hilang dalam jiwamu.

Ah kamu, ada-ada saja.

Habis menari kalau lapar kamu dapat langsung makan nasi cala, nasi yang dimasak dengan cara dibungkus daun pisang lalu dimasukkan ke dalam batang-batang bambu sebelum dibakar. Rasanya gurih dan sedap.

Nanti kamu akan melihat kawanan anak-anak berpakaian tradsional berkeliling menawari saguer, arak lokal dari fermentasi air nira. Mungkin kamu akan menyukainya.

Perayaan Horom Toma Sasadu menjemukan. Begitu-begitu saja tariannnya. Hanya orang-orang tua dan anak-anak yang gembira menyambut perayaan ini. Saya ingin menari disko yang lampu berkeredap menggairahkan.

Apa, kamu mau ke perayaan Horom Toma Sasadu bersama Willy? Baiklah. Tak apa-apa. Seperti yang kubilang, itu perayaan yang membosankan.

Tetapi akan saya pegang janji kamu untuk membawa saya dari Jailolo tahun depan. Mengantar saya menghirup udara malam Jakarta di relung-relungnya yang paling dalam.  ***

Halmahera Barat, 2019

Aris Kurniawan, karya fiksinya pernah dimuat di berbagai media baik cetak maupun online. Salah satu buku kumpulan cerpen terbarunya berjudul Monyet Bercerita.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik media cetak, online, atau juga buku. Kirimkan karya cerpen Anda ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...