hut

Bulan Muharram, Bubur Suro dan Padusan Lestari di Lamsel

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Kedatangan bulan Muharram yang menandai tahun baru Islam diisi dengan sejumlah kegiatan di Lampung Selatan (Lamsel).

Sejak Sabtu (31/8) malam sejumlah desa menggelar takiran atau makan bersama dan doa penghujung tahun.

Sementara saat tahun baru tiba pada 1 Muharram 1440 Hijriah atau bulan Suro sebagian warga melakukan sejumlah tradisi. Tradisi membuat bubur suro dan padusan masih dilestarikan sejumlah warga.

Hasanah, salah satu warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan dan sejumlah ibu rumah tangga membuat bubur suro. Makanan terbuat dari beras dengan cita rasa gurih hanya dibuat setiap bulan suro sebagai ungkapan syukur.

Hasanah, warga Desa Padan Kecamatan Penengahan memasak bubur suro untuk dibagikan kepada tetangga dan sejumlah anak yatim pada tahun baru Islam 1 Muharram 1441 H , 1 September 2019, Minggu (1/9/2019) – Foto: Henk Widi

Maknanya pengingat akan Nabi Muhammad yang dalam kisahnya peduli anak-anak yatim. Sebagai tradisi yang masih dipertahankan oleh masyarakat Sunda dan Lampung bubur suro menjadi bentuk sifat gotong royong.

Sifat gotong royong disebut Hasanah terlihat dari kerjasama sejumlah ibu rumah tangga. Sesuai kesepakatan para ibu akan membawa bahan untuk membuat bubur suro.

Beras, bumbu, kerupuk, lauk pauk serta sejumlah keperluan seperti daun pisang akan dibawa pada satu rumah warga. Sesuai kesepakatan sepekan sebelumnya kegiatan memasak akan dilakukan sejak pagi.

“Nilai gotong royong pada awal bulan Suro mengingatkan akan rasa syukur tahun yang baru. Harus bisa saling berbagi terutama warga yang kurang mampu, anak yatim diwujudkan dengan pembuatan bubur suro,” ungkap Hasanah saat ditemui Cendana News, Minggu (1/9/2019).

Hasanah menyebut dalam satu kelompok kerap ada sebanyak sepuluh orang ibu rumah tangga. Sejak pagi semua bahan akan diolah menjadi bubur suro.

Sejumlah ibu rumah tangga akan berbagi tugas meracik bumbu, membuat bubur, menyiapkan wadah daun pisang. Bubur terbuat dari beras setelah menjadi bubur akan dimasukkan pada wadah atau takir dari daun pisang. Tambahan bawang goreng, suiran daging ayam, kerupuk akan disertakan.

Semua bubur suro yang dibuat akan diantar ke rumah warga, pesantren dan sejumlah anak yatim. Tradisi tersebut kerap dilakukan warga di kaki Gunung Rajabasa mulai awal 1 Muharram hingga puncaknya pada 10 Muharram.

Selain bubur suro menu pelengkap lain yang  dibuat berupa nasi uduk. Nasi uduk dibuat dengan warna putih dan kuning diberi taburan bawang goreng, kacang goreng dan orak arik tempe serta telur dadar.

“Takiran bubur suro, nasi uduk akan dibagikan kepada anak-anak yatim disertai uang sebagai bentuk menyantuni dengan nilai beragam sesuai kemampuan,” tutur Hasanah.

Bagi sejumlah warga yang menerima kiriman bubur suro, nasi uduk akan menikmati dengan ngariung. Ngariung dilakukan pada setiap rumah sebagai tanda kebersamaan. Sebagian membawa ke lokasi tempat pemandian atau padusan.

Berada di dekat tempat pemandian way tebing cepa, sebagian membawa bubur suro dan nasi uduk untuk disantap di lokasi pemandian. Sebagian membawa ke pantai untuk kegiatan padusan dan bancakan.

Hamidah, warga Desa Munjuk Sampurna, Sidomulyo memilih mengunjungi pantai menyambut 1 Muharram. Ia bersama sejumlah keluarga lain mengajak serta anak-anak berwisata di pantai Suak.

Hamidah (kanan) melakukan tradisi bancakan atau makan bersama saat tahun baru Islam 1 Muharram 1441 Hijriah di pantai Suak Sidomulyo Lampung Selatan, Minggu (1/9/2019) – Foto: Henk Widi

Sebagai kegiatan menyambut tradisi tahun baru Islam ia mengaku membawa serta kiriman bubur suro, nasi uduk dari tetangga. Selain itu ia membawa menu bancakan untuk disantap bersama di tepi pantai.

“Sebagian anggota keluarga mengisi awal tahun Hijriah dengan mandi atau padusan menyimbolkan bersih diri,” papar Hamidah.

Sembari menunggu padusan, ia dan sejumlah ibu rumah tangga memanggang ikan, daging ayam. Sebagian membuat sambal pekhos khas Lampung untuk penggugah selera. Nasi dan sejumlah lauk seperti kerupuk, tempe, rebusan daun singkong telah dipersiapkan sebelumnya.

Setelah semua bahan matang, makan bersama atau bancakan dilakukan sebagai simbol rasa syukur atas tahun yang baru.

Hamidah menyebut pada tahun sebelumnya kegiatan serupa juga dilakukan. Makan bersama dan padusan di tepi pantai diakuinya menjadi sarana pemersatu antar tetangga dan kerabat.

Melakukan kegiatan mandi di pantai sekaligus menjadi simbol membersihkan diri agar bisa mengawali tahun baru dengan niat dan hati yang bersih.

Lihat juga...

Mersin escort

»

bodrumescort.asia

»

Escort Adana bayan

»

Mersin türbanlı escort Sevil

»

Mersinde bulunan escort kızlar

»

storebursa.com

»

maltepeescort.org

»

Kayseri elit eskort

»

Eskişehir sınırsız escort

»

Eskişehirde bulunan escort kızlar

»

samsuni.net

»

Escort Adana kızları

»

eskisehir eskort

»

adana eve gelen escort

»

adana escort twitter

»

adana beyazevler escort

»

http://www.mersinindex.com

»

pubg mobile hileleri

»

Nulled themes

»

www.ankarabugun.org

»

www.canlitvtr.net

»

escort izmir

» www.escortantalyali.com