Bupati Pessel: Petani Jangan Rusak Lingkungan, Hentikan Karhutla

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PESISIR SELATAN – Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel), Sumatera Barat, memberikan peringatan tegas kepada masyarakat ataupun petani untuk tidak melakukan pembakaran lahan.

Hal ini sering dengan seringnya terjadi kebakaran hutan dan lahan yang ada di daerah setempat, dan menyebabkan kualitas udara semakin memburuk.

Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni, mengatakan membakar lahan sebagai upaya membuka areal untuk berkebun bukanlah cara yang benar, dan tidak direkomendasikan. Karena cara yang demikian mengakibatkan dampak yang buruk bagi lingkungan dan tentunya bagi masyarakat.

Untuk itu, mengingat kondisi kualitas udara yang tidak begitu sehat untuk dihirup secara normal, petani perlu menanamkan kesadaran terkait tindakan yang demikian.

“Membuka ladang dengan cara membakar tidak direkomendasikan, apalagi dengan kondisi saat ini. Jika berpikir untuk keuntungan ladang atau kebunnya, lakukan cara lain yang tidak berdampak kepada banyak orang,” ujarnya, Rabu (25/9/2019).

Menurutnya membuka areal berladang dengan cara membakar merupakan salah satu kegiatan yang berpotensi menyebabkan kebakaran lahan, terutama di areal gambut.

Meski dilihat dari sisi proses pembukaan areal berladang dengan cara dibakar, lebih mudah dan efisien dari sisi waktu dan tenaga. Namun jika dilihat sebaliknya, kerugian yang ditimbulkan sangat luar biasa.

Ia menegaskan, kerugian tersebut mulai dari semakin tebalnya kabut asap, kerusakan lingkungan, punahnya ekosistem di areal yang terbakar, kekeringan dan lain sebagainya. Untuk itu, Pemkab Pesisir Selatan secara intens melakukan sosialisasi ke masyarakat melalui perangkat daerah terkait.

“Saya tegaskan, Pemkab Pesisir Selatan tidak akan mentolerir bagi si perusak hutan atau si pembakar hutan dan lahan. Pemerintah akan memproses pelakunya secara hukum,” ucapnya.

Hendrajoni menyebutkan, melihat ke situasi yang belum lama ini terjadi di daerah Pesisir Selatan, ada seluas lebih kurang 53 hektare hutan. Meski kini titik kebakaran telah berhasil dipadamkan, namun dampaknya berlangsung lama.

Hal inilah yang perlu disadari oleh petani, jangan memikirkan keuntangan pribadi semata.

Ia menjelaskan, untuk hutan yang pernah terbakar belum lama ini itu, berada di hutan produksi yang dapat dikonversi di Kecamatan Pancung Soal dan sisanya di areal hutan lindung di Kecamatan Silaut.

Sementara itu, Kepala Kesatuan Pengelola Hutan Produksi Unit IX Kabupaten Pesisir Selatan, Madrianto, mengatakan, kebakaran hutan dan lahan di Pesisr Selatan sudah terpantau sejak Kamis pekan kemarin, dan sejak saat itu hingga saat ini pemadaman telah berhasil dipadamkan.

Sebelumnya pada awal Agustus 2019 juga ada terjadi kebakaran yang mencapai 50 hektare hutan produksi yang dapat dikonversi juga terbakar di perbatasan Kecamatan Basa IV Balai Tapan dan Lunang.

Proses pemadamannya tidak hanya melibatkan Dinas Kehutanan Sumatera Barat, BPBD Pesisir Selatan dan personel dari Kesatuan Pengelola Hutan Produksi Unit IX Pesisir Selatan, namun juga TNI, Polri serta dibantu masyarakat setempat.

Terkait memberikan layanan terdampak kabut asap, Dinas Kesehatan Kabupaten Pesisir Selatan, juga telah menyiagakan seluruh Puskesmas untuk memberikan layanan pengobatan bagi masyarakat terkena dampak dari kondisi udara yang terbilang kurang sehat.

“Ya seluruh puskesmas kami siagakan menyikapi situasi yang terjadi saat ini,” ungkapnya.

Puskesmas tersebut katanya disiagakan 24 jam sehingga jika ada masyarakat yang perlu dan secepatnya membutuhkan penanganan medis bisa secepatnya dilayani. Selain menyiagakan tenaga medis dan para medis, setiap puskesmas juga dituntut aktif menyosialisasikan bahaya dari kabut asap ke seluruh lapisan masyarakat.

Lihat juga...