hut

Dampak Kabut Asap, Sekolah di Sumsel Diminta Tiadakan Jam Luar Kelas

Editor: Mahadeva

PALEMBANG – Pemprov Sumatera Selatan mengimbau sekolah yang belum merumahkan siswanya, agar meniadakan jam belajar di luar kelas. Hal itu untuk menghindari dampak negatif dari kabut asap yang melanda daerah tersebut.

“Karena pekatnya kabut asap ini, saya sudah minta agar semua kepala sekolah meniadakan dulu sementara kegiatan diluar kelas. Seperti upacara, senam, kegiatan olahraga, kegiatan ekstrakurikuler dan sebagainya,” ungkap Widodo, Kepala Dinas Pendidikan Sumsel, saat mengedukasi pencegahan dampak kabut asap di SMA 20 Palembang, Kamis (12/8/2019).

Widodo menyebut, hingga saat ini sudah cukup banyak sekolah yang meniadakan aktivitas diluar kelas. Di Musi Banyuasin, ada SMA N 1 Lalan, SMAN 2 Lalan, SMA Hijratul Munawaroh, SMA IT Asyafiah, SMA Bina Pratama, SMA PGRI, dan SMA Mahmambul Ikhsan, yang sudah menerapkan.

“Kita juga sudah melakukan edukasi ke sekolah-sekolah untuk bisa mengantisipasi agar tidak terkena penyakit akibat kabut asap, kami juga minta agar setiap guru maupun siswa meng-update informasi mengenai kualitas udara di website BMKG. Sehingga jika memang kualitas udara semakin memburuk pada saat sedang belajar mengajar, maka sekolah bisa memulangkan siswa, tapi dengan catatan siswa harus belajar mandiri di rumah,” ucapnya.

Selain itu sebagai solusi, sekolah juga bisa merubah jam pelajaran. Dan pada Kamis (12/8/2019), SMAN Pemulutan Barat Ogan Ilir dan SMAN 2 Air Sugihan OKI, juga mengambil kebijakan memundurkan jam masuk belajar. “Sekolah bisa memberikan tenggang waktu masuk sekolah hingga pukul 08.00 WIB jika memang kabut asap pekat pada pagi hari. Karena memang berdasar indikator kualitas udara dibawah pukul 08.00 WIB kualitas udara masih kurang sehat,” jelasnya.

Imbauan dan arahan terkait kebijakan menghadapi bencana kabut asap, diprioritaskan untuk kabupaten dan kota yang terdampak, seperti di OKI, Ogan Ilir, Musi Banyuasin, Palembang, Musi Rawas, Pali. Pemprov Sumsel juga melakukan pembagian masker untuk para siswa di sejumlah sekolah. “Karena itu, kami juga sudah meminta agar sekolah menyediakan masker, dan membagikannya untuk siswa. Sekolah bisa menggunakan swadana menggunakan dana BOS untuk pengadaan masker. Juga untuk mensiagakan UKS dengan perlengkapan seperti oksigen dan sebagainya,” tuturnya.

Solusi lain menghadapi kabut asap, sekolah bisa menerapkan sekolah maya. Siswa dan guru dapat memanfaatkan akses internet, untuk kegiatan belajar dan mengajar. “Pemanfaatan alat pendidikan gadget untuk mengatasi kondisi jika kabut asap semakin parah. Siswa belajar dirumah tapi tetap dipantau oleh guru dengan terhubung ke akses internet juga,” kata dia.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!