Di 2020, Yogyakarta Tetap Alokasikan Dana Penelitian untuk Kampus

Ilustrasi - Dokumentasi CDN

YOGYAKARTA – Pemkot Yogyakarta tetap akan mengalokasikan dana penelitian untuk institusi pendidikan, khususnya perguruan tinggi, di Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020.

“Pengajuan usulan atau proposal penelitian sudah kami buka. Sampai sejauh ini, ada tiga proposal yang dinilai memenuhi tema. Kami harapkan, ada tambahan lima proposal lagi yang sesuai dengan tema penelitian di 2020,” kata Kepala Sub Bidang Penelitian Bappeda Kota Yogyakarta, Sulistyo Handoko, Sabtu (28/9/2019).

Tema penelitian yang diharapkan muncul di 2020, di antaranya mengenai upaya peningkatan program lele cendol dan kampung sayur, yang saat ini sedang digencarkan oleh Pemkot Yogyakarta. Selain itu, juga diharapkan adanya penelitian mengenai manajemen penggunaan telepon selular di sekolah, evaluasi infrastruktur parkir pendukung kota wisata, tata kelola wisata kawasan Malioboro, evaluasi kesiapan warga terhadap layanan publik berbasis elektronik.

Kemudian mengenai, pengembangan pengelolaan kampung wisata, internet of things penyiraman taman wisata Code, dan psikologi budaya dalam peningkatan pajak. “Proposal penelitian yang disampaikan diharapkan bisa memecahkan permasalahan yang ada di Kota Yogyakarta,” katanya.

Proposal penelitian bisa diajukan melalui aplikasi riset.jogjakota.go.id, dengan terlebih dulu melalukan registrasi di aplikasi Jogja Smart Service (JSS). Seleksi ditutup pada akhir September. Dana penelitian yang disiapkan untuk setiap proposal penelitian yang disetujui bervariasi antara Rp25 juta dan Rp40 juta.

Di tahun anggaran 2019, setidaknya terdapat enam penelitian dari perguruan tinggi yang dibiayai oleh Pemerintah Kota Yogyakarta. Kegiatan penelitian yang didanai pemerintah daerah meliputi pemetaan aset komunitas terkait layanan kesehatan dan sosial bagi lansia (Universitas Kristen Duta Wacana) dan pengembangan taman pintar menjadi objek wisata go digital dengan aplikasi mathcitymap (Universitas Ahmad Dahlan). “Di playground Taman Pintar akan ada semacam permainan matematika, misalnya mengukur tinggi bangunan, atau luas bangunan,” kata Sulistyo.

Pendanaan juga diberikan kepada Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, untuk penelitian tentang healing peer group untuk pencegahan dan penanganan perilaku agresif remaja di Yogyakarta. Kemudian, IST Akprind mendapatkan dana untuk penelitian tentang penerapan internet of things untuk aplikasi sistem parkir cerdas berbasis mobile. “Untuk sistem parkir cerdas ini juga sedang dalam proses uji coba di kompleks Balai Kota Yogyakarta,” katanya.

Sementara itu, STIE YKPN mendapat pendanaan untuk melakukan kajian tentang industri ekonomi kreatif fesyen, terhadap perkembangan sektor pariwisata dan Universitas Nahdlatul Ulama melakukan penelitian tentang CSR untuk pembentukan karakter berbasis sociopreneur. “Dana yang dialokasikan untuk setiap kegiatan penelitian Rp25 juta, kecuali untuk penelitian tentang sistem parkir yang memperoleh dana Rp30 juta,” ungkap Sulistyo.

Pemerintah Kota Yogyakarta juga sudah mengadopsi sejumlah hasil penelitian dari warga maupun institusi pendidikan, untuk meningkatkan kualitas pelayanan publik pemerintah. Di antaranya hasil penelitian di 2017, berupa Sistem Informasi Warga yang diajukan oleh LPMK Kelurahan Patehan. “Aplikasi tersebut kini diadopsi oleh pemerintah, sehingga bisa digunakan di seluruh Kota Yogyakarta. Tujuannya untuk memudahkan masyarakat mengakses pelayanan publik,” katanya.

Selain itu, Pemerintah Kota Yogyakarta juga mengadopsi hasil penelitian pada 2018 tentang becak listrik dan penelitian tentang batik pewarna alam. (Ant)

Lihat juga...