hut

FAS Berharap Kekerasan Terhadap Anak di Sikka Dihentikan

Editor: Mahadeva

MAUMERE – Peringatan Hari Anak Nasional (HAN) di Kabupaten Sikka, NTT,  menjadi momentum bagi anak untuk bersuara, menyampaikan pendapat.

“Kami berharap di hari anak nasional ini kita semua harus berpartisipasi lebih, agar anak di Sikka lebih sejahtera. Pemerintah, masyarakat dan keluarga, lebih mempedulikan suara dan hak anak,” harap Bernadus Morientes Jagong, Duta Anak Sikka periode 2019-2020, Jumat (6/9/2019).

Anak yang akrab disapa Ien tersebut menegaskan, harus dihentikannya aksi kekerasan terhadap anak. Dia melihat, banyak aksi kekerasan terhadap anak, khususnya di Kabupaten Sikka. Kekerasan saat ini menjadi salah satu ancaman bagi anak di Sikka. “Sebagai duta anak Sikka, kami akan menyuarakan hak-hak anak di Kabupaten Sikka, dan akan melakukan kegiatan serupa di tingkat provinsi,” tuturnya.

Bernadus Morientes Jagong (kiri) dan Grace Imanuelasari Derio, Duta Anak Sikka masa bakti tahun 2019-2020.Foto : Ebed de Rosary

Diharapkan FAS bisa tersebar di 147 desa dan 13 kelurahan di Kabupaten Sikka. Keberadaanya menjadi penting, untuk membantu anak kebih percaya diri tampil di depan umum. “Lewat Forum Anak, anak-anak bisa dilatih mentalnya dan berbicara yang baik. Serta melatih anak berpikir lebih luas, agar suaranya bisa didengar saat menyuarakan hak-haknya,” tandasnya.

Grace Imanuelasari Derio, Duta Anak Sikka lainnya berharap, ada lebih banyak anak di Sikka yang mengikuti organisasi. Dia ingin, Forum Anak Sikka semakin dikenal di desa –desa dan kecamatan. FAS dengan berbagai kegiatannya, membuat suara anak-anak di Sikka bisa didengar dan akhirnya hak-hak mereka bisa terpenuhi. “Pemerintah kabupaten Sikka harus memperhatikan kebutuhan anak-anak di desa yang banyak tidak bisa sekolah karena orangtuanya tidak memiliki dana,” pintanya.

Siswi SMAK Frateran Maumere kelas X MIPA tersebut berharap, pemerintah sebisa mungkin mengupayakan agar anak-anak di Kabupaten Sikka tidak putus sekolah. Aksi kekerasan terhadap anak semakin berkurang, dan anak-anak yang mengalami gizi buruk bisa ditekan jumlahnya. “Saya berharap  anak-anak Sikka lebih mampu mengembangkan kualitas dirinya lewat organisasi. Juga melatih anak-anak Sikka lebih berani dan mampu menyuarakan pendapatnya supaya bisa didengar orang banyak,” tandasnya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk, KB dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak kabupaten Sikka, dr. Maria Bernadina Sada Nenum mengatakan, Forum Anak Sikka sudah ada di beberapa wilayah. Tercatat sudah 71 desa dan kelurahan di 11 kecamatan yang memiliki organisasi tersebut. Saat ini di Sikka ada 21 kecamatan. Pemerintah daerah mengupayakan, semua desa dan kelurahan memiliki forum anak.

“Harus ada kepedulian dan peran aktif semua pihak agar anak-anak Sikka bisa menjadi generasi yang cerdas dan ikut berparitisipasi dalam pembangunan,” pungkasnya.

Lihat juga...