hut

Ikan Koi, Motif Batik Henrykyo

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Ide bisa datang dari mana saja, termasuk dari hobi atau kegemaran seseorang terhadap sesuatu. Seperti halnya yang dialami salah satu perajin batik tulis di Malang, Henrykyo, dalam menuangkan hobi berternak ikan Koi pada motif batiknya.

Diakui Henry, dalam dunia batik dirinya masih terhitung baru karena ia baru menekuni kerajinan batik sejak dua tahun yang lalu dengan nama Batik Tulis Poesaka Djagad.

Namun demikian Henry tidak pernah merasa minder, karena ia mampu menghasilkan motif-motif yang unik tetapi tetap mudah dipahami oleh konsumen.

“Untuk motif batiknya sendiri, saya lebih ke arah realis. Jadi kita membuat motif yang unik-unik tapi ketika orang melihat motif tersebut mereka langsung paham bentuk motifnya seperti apa tanpa harus menebak-nebak ini motif apa. Contohnya motif ikan koi yang menjadi ciri khas dari Batik Tulis Poesaka Djagad,” ujarnya, Selasa (17/9/2019).

Menurutnya, dari sekian banyak motif batik yang ia buat, motif ikan koi menjadi motif paling favorit yang banyak dicari pembeli. Sehingga ketika orang melihat batik dengan motif ikan koi mereka sudah bisa menebak bahwa itu batik buatan Henry Poesaka Djagad.

Berbagai motif Batik Tulis Poesaka Djagad, Selasa (17/9/2019) – Foto: Agus Nurchaliq

Dipilihnya ikan Koi sebagai ciri khas motif batik buatannya lebih kepada kesukaannya beternak ikan koi. Dari situ kemudian Henry menjadikan ikan Koi sebagai motif batik andalannya.

“Saya berusaha menuangkan apa yang saya cintai sebelumnya ke dalam motif batik, supaya saya bisa mencintai batik lebih dalam lagi,” akunya. Selain motif ikan koi juga ada motif topeng Malangan, tandasnya, ada juga bunga dan motif-motif lainnya.

Untuk batik tulis karyanya, Henry mematok harga paling murah 1 juta rupiah. Sedangkan untuk batik tulis dengan motif Ikan koi dihargai 50 juta rupiah.

Terkait harga, tergantung tingkat kerumitan dari motif batik itu sendiri. Kalau bahan sebenarnya murah, tapi karena rumit sehingga proses pengerjaannya memakan waktu lebih lama daripada membuat batik yang sederhana.

“Kemudian dari pewarnaannya. Kalau hanya menggunakan satu pewarna maka harganya memang lebih murah. Tapi kalau lebih dari satu warna atau banyak warna tentu harganya akan lebih mahal,” terangnya. Hingga saat ini, lanjutnya, dirinya masih menggunakan pewarna sintetis.

Sementara untuk pemasarannya, Henry kerap mengikuti pameran dan juga memanfaatkan media sosial untuk memasarkan produk batiknya tersebut.

“Pemasaran melalui getok tular atau dari mulut ke mulut, ikut pameran dan melalui media sosial. Ada juga batik kita yang dibeli oleh konsumen dari Dubai,” akunya.

Lebih lanjut disampaikan Henry, dirinya juga mempelopori terbentuknya kampung Batik di kawasan perumahan Karanglo Indah (Karolin). Di sana banyak ibu rumah tangga yang diajarkan agar bisa membatik.

“Kami berupaya membuat Kampung Batik Karolin bisa menjadi salah satu tujuan wisata edukasi dan surga bagi para pecinta batik tulis,” pungkasnya.

Lihat juga...