hut

Indonesia Ajak ASEAN Perkuat Soliditas

BANGKOK – Indonesia akan mengajak negara-negara ASEAN untuk terus memperkuat soliditas dan kerja sama intrakawasan, untuk meredakan ketegangan hubungan ekonomi antarnegara di dunia, yang telah berimbas negatif terhadap pertumbuhan ekonomi global, dan turut meningkatkan ketidakpastian iklim investasi.

Menteri Perdagangan Indonesia, Enggartiasto Lukita, di sela rangkaian ASEAN Economic Ministers’ Meeting (AEM) ke-51 di Bangkok, Thailand, mengatakan, dalam konferensi itu Indonesia akan berupaya mengajak ASEAN untuk terus memperkuat kerja sama intrakawasan, dan tidak terpengaruh dengan ketegangan bilateral di perdagangan global yang terjadi antara Amerika Serikat dan Cina, atau pun Jepang dan Korea Selatan.

“Soliditas ASEAN itu terlihat sekali di sini. Kami juga akan berperan sebagai mediator untuk menjembatani, dan kita (ASEAN) sepakat tidak terlibat untuk kasus itu (ketegangan bilateral). Ada kebanggaan mengenai soliditas di ASEAN,” kata Enggar, Jumat (6/9/2019).

Dalam AEM ke-51, terdapat berbagai rangkaian pertemuan tingkat tinggi bersama negara-negara mitra ASEAN, seperti ASEAN plus 3 (Cina, Jepang, dan Korea), ASEAN plus 6 (Cina, Australia, India, Jepang, Korea Selatan dan Selandia Baru), dan juga akan terdapat forum regional East Asian Summit yang di dalamnya terdapat Amerika Serikat, dan juga Rusia.

Saat ini, ketegangan hubungan dagang yang masih mewarnai hubungan AS dan Cina serta Korea Selatan dan Jepang telah menekan optimalisasi pertumbuhan ekonomi global dan memperlemah nilai perdagangan negara-negara di dunia.

Mendag mengatakan, setidaknya ASEAN dalam AEM tidak akan terpengaruh dalam konflik politis bilateral antara negara-negara yang masih bersengketa. Bahkan, dalam pertemuan makan malam menjelang pembukaan AEM di Kamis (5/9) malam, mengemuka gagasan, bahwa ASEAN sepakat untuk berupaya menjadi negara penengah, dan tetap memprioritaskan kepentingan ASEAN.

“Ada kebanggaan mengenai soliditas ASEAN, apalagi dibandingkan kawasan lain yang suasananya penuh juga ketidakpastian seperti Uni Eropa dengan isu Brexit,” ujar Enggar.

Enggar mengatakan, Indonesia akan lebih mendorong penyelesaian janji-janji dan proses kesepakatan sebelumnya. Misalnya, proses penyelesaian naskah perjanjian Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), yang sudah beberapa tahun masih belum terselesaikan.

Padahal, RCEP sangat dinantikan untuk menjadi perjanjian regional yang sangat bermanfaat bagi negara-negara ASEAN, terutama untuk mereduksi imbas negatif dari perlambatan nilai perdagangan dan investasi di ekonomi global.

Enggar meyakini, RCEP bisa disepakati negara-negara kawasan paling lambat November 2019.

AEM resmi dibuka pada Jumat ini. Sebelum pembukaan, Perdana Menteri Thailand Prayut Chan-o-cha akan mengadakan pertemuan kehormatan dengan para Menteri perwakilan negara-negara AEM.

Selanjutnya, rangkaian AEM ke-51 akan dilaksanakan pada 6 September hingga 11 September 2019 di Bangkok, Thailand. (Ant)

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!