Indonesia Bebas Rabies Butuh Partisipasi Aktif Masyarakat

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Target pemerintah untuk mencapai Indonesia Bebas Rabies 2020, dinyatakan sulit untuk diwujudkan jika peran serta masyarakat tidak dilakukan secara menyeluruh.

Data Ditjen P2P Direktorat Pengendalian Penyakit Tular Vektro Zoonotik tahun 2017, kasus kematian akibat rabies hanya mengalami penurunan sekitar 27,12 persen.

Begitu pula halnya dengan kasus gigitan hewan penular rabies (GHPR). Data ini menunjukkan bahwa peran serta masyarakat dalam pencegahan penularan rabies belum dilakukan secara menyeluruh.

Daerah yang dinyatakan bebas rabies baik secara historis maupun perlakuan hanya 9 provinsi. Menunjukkan masih panjangnya perjalanan Indonesia menuju bebas rabies sesuai dengan program Indonesia bebas rabies 2020.

Pemerhati Binatang, drh. Zulkarnain, menyatakan, upaya pemerintah sejauh ini masih dalam proses melakukan vaksinasi di daerah yang relatif tinggi tingkat penularan virusnya.

“Pemerintah tidak bisa menuntaskan masalah rabies ini jika masyarakat tidak ikut berperan aktif dalam mencegah rabies,” kata drh. Zulkarnain saat kegiatan terkait Peringatan Hari Rabies Sedunia, Senin (30/9/2019).

Ia menyebutkan pemerintah seringkali sudah menyelenggarakan vaksin rabies gratis. Tapi ada masyarakat yang enggan untuk membawa binatang peliharaannya ke lokasi vaksinasi.

“Karena itulah, menurut saya, pemerintah harus lebih aktif untuk mensosialisasikan terkait bahayanya penyakit rabies ini. Sehingga masyarakat akan termotivasi untuk membawa binatang peliharaannya,” ucapnya.

Rabies menurut drh. Zulkarnain termasuk penyakit berbahaya karena termasuk dalam klasifikasi zoonosis.

“Artinya, penyakit ini bisa menular dari binatang ke manusia dan sebaliknya. Kalau manusia tertular melalui gigitan yang mengandung air liur binatang yang terpapar rabies, maka manusia bisa menularkan ke binatang melalui air liurnya yang terjilat oleh binatang,” paparnya.

Karena tingginya tingkat risiko penularan ini, maka drh. Zulkarnain sangat mengimbau kepada para pemilik binatang, untuk melakukan vaksinasi rabies.

“Vaksinasi ini dilakukan berulang dalam periode satu tahun,” katanya tegas.

Dan ia juga menyarankan dengan tegas agar masyarakat tidak mengkonsumsi daging binatang yang dapat menularkan rabies.

“Selain itu, jika kita melihat ada binatang yang dicurigai terpapar rabies, secepatnya melaporkan ke dinas kesehatan. Untuk menghindar penularan yang meluas,” pungkasnya.

Lihat juga...