hut

Kampung Kadipaten Kidul, Kawasan Ramah Pangan Lestari di Kota Yogyakarta

Editor: Mahadeva

YOGYAKARTA – Suasana Jalan Nogosari Lor, kampung Kadipaten Kidul, Keraton, Yogyakarta, terlihat jauh lebih asri dibanding jalan kampung lain. Beragam jenis tanaman buah dan sayur, nampak berderet tertata rapi di kiri dan kanan jalan. 

Ada yang diletakkan di sejumlah rak besi berisi pot-pot dengan sistem vertikultur. Ada pula yang disusun dengan menggunakan pipa paralon dengan sistem aquaponik. Tanaman seperti selada, kobis, kangkung, sawi, cabai, tomat, loncang hingga seledri terlihat setumbuh sehat dan sebagian sudah berbuah dan bisa dipanen.

Atik Susilowati penggerak petani perkotaan di kampung Kadipaten Kidul, Kraton, Yogyakarta saat ditemui Cendana News, Rabu (11/9/2019) – Foto Jatmika H Kusmargana

“Sebagian hasil panen kita konsumsi sendiri. Sebagian ada juga yang dijual. Khususnya sayuran seperti cabai, sawi, bayam merah, kangkung, kobis. Kobis ungu misalnya, dijual dengan harga Rp50 ribu per-pot. Sementara kobis hijau Rp40 ribu. Sejauh ini kita sudah mampu menjual 27 pot,” ujar salah seorang warga, Atik Susilowati, Rabu (11/09/2019).

Tak hanya berisi beragam sayur-sayuran, di kawasan tersebut juga bisa dijumpai kolam-kolam ikan lele, yang dipelihara warga dengan menggunakan sistem bak semen mini. Termasuk juga tananam padi yang dikombinasikan dengan belut pada media lumpur.

Sejak 2013 lalu, kampung Kadipaten Kidul khususnya lingkungan Jalan Nogosari RT 04-05 RW 02, memang ditetapkan sebagai kampung Model Kawasan Ramah Pangan Lestari (MKRPL).  Tak hanya itu, kampung tersebut juga memiliki predikat kampung seribu cabai, serta kampung lorong sayur kota Yogyakarta.

“Kawasan ini memang ingin kita jadikan sebagai percontohan, sekaligus edukasi bagi masyarakat. Agar masyarakat memiliki motivasi untuk memanfaatkan lahan pekarangan dengan menanam tamanan produktif. Selain bisa dimanfaatkan hasilnya, hasil panen juga bisa dijual untuk tambahan penghasilan keluarga,” kata Atik yang merupakan penggerak petani perkotaan.

Atik mengakui tidak mudah untuk mengajak masyarakat agar mau menanam sayur di lingkungan pekarangan sekitar rumahnya. Butuh keteladanan, ketelatenan, serta dukungan sejumlah pihak. Termasuk juga dukungan dari pemerintah, sebagai penyuplai berbagai kebutuhan upaya penghijauan.  “Salah satu kunci memajukan pertanian di perkotaan memang ada pada dukungan pemerintah. Yakni sebagai pemantik agar masyarakat memiliki motivasi menanam. Apalagi sitem pertanian di perkotaan membutuhkan modal yang cukup besar,” tandasnya.

Salah satu kunci lainnya untuk menggalakkan pertanian perkotaan, juga terletak pada nilai estetika sitem pertanian itu sendiri. Pasalnya selain memanfaatkan lahan sempit yang tersedia, masyarakat perkotaan bisanya juga memfungsikan tanaman sebagai hiasan rumah.  “Kalau orientasinya bisnis tidak akan bisa. Karena hasilnya tidak sebanding dengan modal yang harus dikeluarkan. Sehingga arahnya harus lebih pada hoby dan alasan kesehatan. Karena dengan mengkonsumsi sayuran yang ditanam sendiri, tentu akan lebih menyehatkan,” paparnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!