hut

Kejar Peningkatan Kualitas Madrasah dengan ‘Geram’

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JEMBER  – Meski perhatian pemerintah terhadap kalangan santri diklaim terus meningkat, namun kesenjangan antara sekolah umum dengan pendidikan madrasah juga tetap ada. Karena itu, pemerintah diharapkan bisa merancang kebijakan yang lebih nyata untuk memajukan pendidikan madrasah.

“Tidak bisa dipungkiri, pendidikan madrasah masih jauh tertinggal dari sekolah umum. Meski upaya dari segenap pemangku kebijakan pendidikan madrasah, sudah bekerja cukup keras, tetapi tetap dibutuhkan kebijakan nyata yang efektif dari pemerintah pusat,” ujar praktisi pendidikan madrasah, Maijoso, kepada Cendana News, Kamis (12/9/2019).

Maijoso, Kepala MTsN 6 Jember saat di ruang kerjanya, Kamis (12/9/2019). –
Foto: Kusbandono.

Kesenjangan itu, salah satu yang gamblang bisa terlihat dari perbedaan alokasi anggaran pendidikan di Kemendikbud dan Kemenristek Dikti yang membawahi pendidikan umum, dengan di Kementerian Agama yang membawahi pendidikan agama.

“Secara kasar, persentasenya mencapai 70 dibanding 30 persen, di mana pendidikan umum jauh lebih besar. Walaupun memang jumlah sekolah umum lebih banyak, tetapi selisih anggarannya cukup jauh,” papar pria yang juga kandidiat doktor Pendidikan Islam di Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang ini.

Contoh kesenjangan lain yang sangat dirasakan oleh praktisi pendidikan madrasah di lapangan adalah perbedaan pembagian Program Indonesia Pintar (PIP, sebelumnya bernama Kartu Indonesia Pintar, red).

Di sekolah umum yang ada di bawah Dinas Pendidikan masing-masing daerah, pembagian PIP relatif merata di semua sekolah.

“Sedangkan kalau di madrasah yang ada di bawah Kemenag, tidak merata pembagiannya. Banyak madrasah yang tidak dapat. Ini yang kemudian dikeluhkan,” papar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 6 Jember ini.

Untuk memperkecil kesenjangan tersebut, Kemenag diharapkan lebih aktif memperjuangkan kepentingan kalangan pendidikan madrasah.

“Sangat diharapkan peran dan lobi-lobi aktif kepada pihak yang berwenang. Agar anggarannya untuk madrasah tidak lagi kecil seperti sekarang,” papar Maijoso.

Diakui Maijoso, saat ini beberapa kendala utama yang kerap dihadapi madrasah adalah keterbatasan Sumber Daya Manusia (SDM). Selain itu, akses finansial dari madrasah yang secara umum masih di bawah sekolah umum.

“Banyak madrasah yang ada di wilayah pinggiran, sehingga untuk akses IT saja sulit, karena sinyal terbatas. Juga banyak yang ada di pelosok desa belum terjangkau,” tutur Maijoso.

Sekalipun banyak mengalami kendala, para praktisi pendidikan madrasah tak mau berpangku tangan. Mereka sedang menjalankan serangkaian program untuk mengakselerasi percepatan peningkatan kualitas madrasah.

“Di Jawa Timur, sedang digalakkan program ‘Geram’ atau kepanjangan dari Gerakan Ayo Memajukan Madrasah. Ada beberapa item dari gerakan ini,” tutur Maijoso.

Gerakan yang pertama yakni peningkatan literasi. “Kita berupaya untuk mengajak para pelajar di madrasah untuk lebih rajin membaca buku. Karena itu, perpustakaan menjadi fokus peningkatan kualitas kita,” kata Maijoso.

Berdasarkan survei, kebanyakan pelajar madrasah lebih menyukai buku-buku fiksi seperti novel Islami. Karena itu, pengadaan buku-buku sastra seperti novel Islami akan menjadi salah satu prioritas di samping genre atau jenis buku lainnya.

“Buku-buku novel Islami ini sangat membantu kami sebagai pelaksana pendidikan madrasah. Karena langkah pertama adalah meningkatkan minat baca anak-anak terlebih dulu. Sastra Islami ini juga sangat baik dalam rangka pendidikan karakter religius,” jelas Maijoso.

Selain literasi, beberapa program lain yakni dengan meningkatkan kegiatan keagamaan serta kebersihan di lingkungan madrasah.

“Peningkatan kapasitas guru dan kepala madrasah juga menjadi perhatian,” pungkas Maijoso.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!