hut

Kemin : Jaman Pak Harto Setiap Musim Tanam/Panen Sekolah Diliburkan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Dunia pendidikan saat ini dinilai tidak memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengembangkan sektor pertanian. Hal itu dikarenakan sistem pendidikan saat ini hanya berorientasi untuk mencetak para pekerja pabrik/industri.

Petani sekaligus penggerak sektor pertanian Kemin, warga Gegunung, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta. Foto: Jatmika H Kusmargana

Hal itulah yang menjadi kekhawatiran sejumlah petani dan penggerak sektor pertanian di desa-desa selama ini. Mereka khawatir, di masa yang akan datang, tidak akan ada lagi anak muda yang mengerti dan mau menjadi petani. Padahal dunia pertanian merupakan sektor vital kemandirian sebuah bangsa.

“Sekarang ini sulit sekali mencari anak muda yang mau bekerja di sektor pertanian, meskipun di desa-desa. Kebanyakan mereka bersekolah untuk jadi pegawai. Kalaupun ada yang mau jadi petani itu pasti karena terpaksa,” ujar petani sekaligus penggerak sektor pertanian Kemin, warga Gegunung, Sendangsari, Pengasih, Kulonprogo, Yogyakarta.

Minimnya SDM di bidang pertanian itu menurut Kemin akan terasa dampaknya saat generasi tua yang selama ini menjadi petani telah habis. Yakni sekitar 20-30 tahun mendatang. Jika hal itu sampai terjadi, bukan tidak mungkin semua hasil komoditas pangan harus diimpor seluruhnya dari luar negri.

“Padahal negara kita ini begitu subur. Semua jenis tanaman ada dan bisa tumbuh dengan baik sepanjang tahun. Sayang jika tidak ada yang mau mengelola,” katanya.

Kemin pun menyebut di masa pemerintahan Presiden ke II RI, Soeharto, sektor pertanian menjadi perhatian utama pemerintah untuk dikembangkan. Selain membangun infrastruktur pendukung pertanian, anak-anak muda juga didorong untuk mau mengembangkan sektor andalan itu. Termasuk juga di sekolah-sekolah.

“Jaman Pak Harto dulu, ada pelajaran muatan lokal. Dalam pelajaran itu anak-anak diajak untuk mengenal dunia pertanian. Bahkan saat sedang musim tanam atau panen, sekolah diliburkan selama beberapa hari. Agar anak-anak bisa ke sawah untuk membantu orang tua mereka,” kenangnya.

Ia pun hanya bisa berharap agar hal semacam itu bisa kembali diterapkan. Tujuannya tak lain agar generasi muda memiliki kemauan dan kebanggaan untuk menjadi seorang petani dan memajukan sektor pertanian. Sehingga di masa yang akan datang Indonesia tidak tergantung dengan komoditas pangan impor.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!