hut

Keris Leluhur

CERPEN S. PRASETYO UTOMO

ESOK pagi Widi bakal pindah ke Ubud. Dalam hati ia bertanya: haruskah kubawa keris pusaka warisan leluhur?

Lima tahun silam ia menerima keris itu dari ayahnya. Seminggu menjelang ayahnya meninggal, tanpa sakit, seperti sudah berfirasat, mewariskan sebilah keris pusaka Ki Reksa Wana – penjaga bukit hutan larangan. Ia pewaris keris, keturunan keempat Ki Reksa Wana.

Ia merasa berat hati meninggalkan rumah kayu warisan orangtuanya. Semenjak lahir ia menempati rumah ini. Semasa kanak-kanak ia bermain di bukit hutan larangan, sendang, dan ladang, menari bersama teman-teman.

Ketika remaja dia meneruskan kegemaran ayahnya memahat topeng. Kadang suntuk memahat topeng siluman raksasa untuk pementasan tari topeng hitam. Ia juga memahat topeng-topeng pesanan dari keraton, turis, dan para penari. Ia melukis di waktu senggang.

Widi mengosongkan rumah kayu kenangan masa silam ini. Ia dan Rara telah menemukan tempat tinggal di Ubud. Ia ingin segera menempati rumah baru. Rumah dengan udara murni, menghadap pesawahan berundak-undak, kali gemericik bening di dasarnya.

Ia ingin membangun sanggar tari untuk Oka Swasti. Ia berhasrat membuka galeri seni lukis dan ruang pertemuan seniman-seniman.

Tersedia dua truk besar yang akan membawa perabot, lukisan-lukisan serta topeng-topeng pahatannya selama bertahun-tahun. Dua truk itu berangkat terlebih dahulu. Tengah malam akan diseberangkan kapal melintasi selat Bali mencapai Gilimanuk, melaju ke Ubud, pagi hari mencapai rumahnya yang baru.

Tetapi keris pusaka warisan leluhur ini, akankah dibawa serta? Ini keris Ki Reksa Wana, yang digunakan menumpas gerombolan perampok di kawasan perbukitan pesisir utara Pulau Jawa.

Ki Reksa Wana bermukim di lembah hutan larangan. Keris itu telah berkali-kali digunakan untuk menikam perampok dan berandal yang bersembunyi di goa hutan larangan. Ujungnya retak seutas rambut ketika ditikamkan berandal sakti.

Kini kenangan masa silam leluhur akan ditinggalkan Widi. Ia telah menemukan lingkungan baru yang menenteramkan jiwanya. Di Ubud ia menemukan teman-teman yang memberinya kegairahan memahat dan melukis.

Ia telah menikahi seorang penari legong yang mau menerima Rara, gadis kecilnya, sebagaimana anak sendiri. Ia akan memahat dan melukis dengan kesuntukan yang lebih menghentak-hentak jiwanya.

Rara berlari ke sanggar tari Dewi Laksmi. Gadis kecil itu menemui guru tarinya, mungkin untuk berpamitan.

Seperti yang diduga Widi, Rara pulang menjelang malam diantar Dewi Laksmi. Widi sudah memperkirakan bila ia mesti menghadapi gugatan Dewi Laksmi yang kadang tak terduga.

Ia masih mengagumi Dewi Laksmi, seperti dulu, sebelum ia memutuskan untuk menikah dengan Oka Swasti dan pindah ke Ubud.

“Aku tak bisa memahami keputusanmu yang mendadak meninggalkan semua tugas muliamu di sini, menjaga bukit hutan larangan, mencipta topeng, menari, dan menjaga Rara,” kata Dewi Laksmi.

“Lihat, sepeninggalmu, hutan larangan dibabat, bukit diratakan dengan jurang. Kini yang terlihat hamparan tanah datar kecoklatan, dan bakal didirikan perumahan. Tak ada lagi pemahat topeng, pelukis, dan penari topeng hitam yang dekat denganku.”

Menenangkan diri, mencecap kopi dalam cangkir, menghisap rokok, Widi membalas tatapan Dewi Laksmi.

“Yang memiliki kuasa menjaga bukit hutan larangan itu Ki Reksa Wana, leluhur kami. Keturunan sesudah itu tak punya kuasa apa pun atas bukit hutan larangan. Mereka menjaga hutan karena kecintaan dan kepercayaan penduduk. Lagi pula, dulu belum hadir pemilik modal yang berhasrat membeli bukit hutan larangan itu dengan harga mahal.”

“Mereka, pemilik lahan di bukit hutan larangan, tak akan menjualnya, kalau kau bertahan tak akan melepas lahan.”

Menahan kegugupan, Widi tak ingin menampakkan perasaannya yang gusar.

“Aku terpaksa meninggalkan tempat ini. Aku nikah dengan Oka Swasti, bertempat tinggal di Ubud, dan ingin mengembangkan karierku di sana. Ini bukan pilihan. Kalau boleh memilih, aku akan menikah denganmu, tinggal di rumah ini, menjaga bukit hutan larangan, dan mengembangkan sanggar tari bersamamu.

Tapi kau menolak untuk kunikahi. Aku tak bisa memaksamu. Kau juga tidak bisa memaksaku. Aku tak mau kau pandang sebagai biang keladi kerusakan bukit hutan larangan. Kita menciptakan kerusakan bukit hutan larangan bersama-sama.”

Widi merasa puas bisa melampiaskan perasaannya pada Dewi Laksmi, yang menolak dinikahinya. Gadis penari itu meninggalkan rumah Widi dengan langkah anggun, dengan perangai dan sepasang mata tetap bening.

Widi tak bisa mengingkari, sepasang mata bening tenang itulah yang telah memberinya rasa tenteram setiap kali berdekatan dengan Dewi Laksmi. Kini ia berada di pendapa rumahnya pada malam yang terakhir.

Masih ada kendang yang biasa ia hentak di kala senyap. Lembab. Dari pintu yang terbentang ia melihat purnama terhampar di sepanjang dataran tanah kecoklatan – bekas bukit hutan larangan.

Ia merasa asing di rumahnya sendiri: pemandangan hamparan tanah kecoklatan yang bakal didirikan rumah-rumah berderet itu bukanlah pemandangan pada masa lalu leluhurnya.
***
WIDI menghentak kendang, mata terpejam, mencipta irama pengiring tari topeng hitam. Dulu Dewi Laksmi biasa membawakan tari topeng hitam itu di pendapa rumahnya. Ia masih sangat mengingatnya.

Tanpa henti, Widi terus menghentak kendang. Memandang pelataran, pohon waru, kelelawar, dan hamparan tanah datar bekas bukit hutan larangan.

Ia teringat keris pusaka di kamar, keris luk sanga, sembilan lekuk, dengan bertabur pamor gemerlap keperakan yang di ujungnya kemerahan retak setipis rambut, bekas menikam berandal yang bersembunyi di goa bukit hutan larangan.

Ia merasa berkhianat pada leluhur justru setelah Dewi Laksmi yang menggugatnya meninggalkan rumahnya. Ia merasa malu dengan dirinya sendiri.

Baca Juga

Kendang itu terus dihentaknya serupa mengiringi tarian topeng hitam. Di pelataran rumah, dalam bayang-bayang purnama, muncul seorang lelaki tua penari topeng hitam. Sendirian. Kaki kanannya pincang.

Gerakan-gerakannya sempurna, terlatih, dan digetarkan dari kedalaman batin. Widi tercengang. Ia terus menghentakkan kendang. Siapakah dia? Lelaki tua dengan kaki kanan mengecil, mata juling, pakaian lusuh, menari topeng hitam, seperti muncul dari rimba masa silam.

Widi mengenali lelaki penari topeng hitam itu. Ia sudah mendengar kisah kenestapaan lelaki tua juling itu. Dialah salah seorang pemilik lahan di bukit hutan larangan. Dialah lelaki yang paling akhir menjual lahannya.

Dia menjual lahan lantaran istrinya sakit. Kini ia hidup sebatang kara. Istrinya meninggal. Ia tinggal seorang diri di rumah kayu lapuk kusam.

Langkah lelaki tua juling itu pelan melewati gang di depan rumah Widi. Hentakan kendang Widi menghentikan langkah lelaki tua bermata juling. Ia sangat mengenal hentakan kendang tarian topeng hitam.

Lelaki tua juling itu memasuki pelataran rumah Widi. Mengikuti irama kendang, ia menari topeng hitam. Tarian selesai. Lelaki tua juling itu masih mengenakan topeng siluman raksasa. Meminta Widi kembali menghentak kendang.

Ia menari dengan topeng siluman raksasa, dan ajaib, betapa tarian itu telah menjelmakan sosok siluman raksasa hutan larangan. Lelaki tua juling dan topeng siluman raksasa itu merupakan satu pribadi, satu karakter, satu sosok.

Duduk bersila menghadap kendang, Widi terdiam menahan tubuh bergetar. Lelaki tua juling itu melepas topeng siluman raksasa dari wajahnya.

“Rupanya kau yang selama ini menjaga keselamatan hutan larangan dengan berdandan siluman raksasa bila malam hari?” Widi memandangi lelaki tua juling itu.

Lelaki tua bermata juling itu tidak mengangguk, tidak pula menggeleng. Wajahnya penuh dengan ketenteraman. Wajah yang tak menggugat. Wajah yang tak mengenal kebencian. Wajah yang tenang tanpa permusuhan.

“Aku telah membuatmu hidup amat menderita,” pelan, Widi menunduk, tak berani menatap wajah lelaki tua juling. “Kau terpaksa menjual lahan di hutan larangan.”

“Sudahlah. Aku tak pernah berpikir untuk menyudutkanmu. Ini memang sudah waktunya bukit hutan larangan itu lenyap, menjadi padang datar, rumah-rumah didirikan di atasnya. Aku harus hidup dengan cara mengikuti kehendak zaman.”

“Tidak semestinya kau hidup terlunta-lunta seperti ini.”

“Justru sekarang aku hidup tenteram. Uang penjualan lahanku di hutan larangan telah disumbangkan untuk mendirikan masjid Kiai Sodik.”

Masih saja Widi merasa malu sepeninggal lelaki tua juling yang kehilangan lahan di bukit hutan larangan. Ia merasa tak pantas menjual semua ladang di bukit hutan larangan pada pengembang perumahan. Ia beringsut bangkit menuju kamar.

Dipandanginya keris pusaka peninggalan leluhurnya, dan masih diingatnya benar pesan ayah almarhum, ketika menyerahkan keris itu, “Kau sekarang yang berkewajiban menjaga bukit hutan larangan. Jangan mudah menyerah pada bujukan orang yang hendak membeli lahanmu. Dulu leluhurmu menumpas para berandal hutan dengan keris ini.”
***
DUA truk besar berisi perabot rumah tangga, lukisan, dan topeng-topeng pahatan. Widi berkemas berangkat menjelang matahari rekah. Sebuah mobil sedan disiapkan Suman untuk mengantar Widi dan Rara ke bandara. Mereka bakal terbang ke Denpasar.

Di pelataran rumah berdiri membisu Dewi Laksmi, melepas Rara yang bakal pindah selamanya ke Ubud. Berdiri juga lelaki tua juling itu, beberapa tetangga, dan Suman, pemborong perumahan, dengan wajah congkak penuh kemenangan.

“Sopir kami akan mengantar Bapak sampai bandara. Penerbangan ke Ngurah Rai pukul tujuh,” kata Suman dengan nada sombong yang terselubung. “Biar kedua sopir truk kami membawa perabot rumah sampai Ubud.”

Tak bergerak, Widi menahan diri menghadapi sepasang mata Dewi Laksmi yang menghujat. Sepasang mata yang menuduh. Sepasang mata yang menghinakannya. Ia tak ingin meninggalkan bumi kelahiran dan rumah leluhurnya dengan cara serendah ini: dicerca seorang gadis yang sangat dikaguminya. Tetapi ini harus dihadapi.

“Selamat menikmati tinggal di Ubud. Di sana kau dapat mendirikan sanggar tari dan sanggar lukis menghadap sawah bertingkat dan sungai bening. Jangan khawatir, kau akan menemukan karier yang gemilang, istri cantik, dan menikmati ketenangan hidup.”

Sepasang mata Dewi Laksmi seperti memendam bara tungku yang menyala. Dua truk itu berangkat terlebih dulu. Widi masih belum bisa melangkah berpamitan. Kakinya seperti tertancap dalam genangan lumpur liat.

Dia membuka tas. Mengambil keris. Tangannya gemetar. Tubuhnya gemetar. Bibirnya gemetar ketika ia mendekati lelaki tua juling itu dan berpesan, “Keris pusaka ini untukmu. Rawatlah. Aku tak bisa memilikinya lagi. Kau lebih pantas memilikinya. Ini keris yang diwariskan leluhurku untuk menjaga keselamatan hutan. Aku telah gagal memenuhi kewajiban itu.”

Lama lelaki tua juling itu memandangi keris peninggalan leluhur Widi. Ia tak segera menerima keris itu. Lama-kelamaan, seperti ada kekuatan yang menggerakkan kedua tangannya terjulur untuk menyambut keris itu.

Barulah Widi terbebas dari kecanggungannya. Ia menyalami Dewi Laksmi, berpamitan. Menuntun Rara menaiki mobil yang membawa mereka ke bandara. Rara, gadis kecil itu melambai. Dewi Laksmi mengangguk.

Tersenyum tipis. Senyuman yang menertawakan kekerdilan hidup Widi. Senyuman yang mengejek kekalahan lelaki itu.

Gerakan tubuh Suman seperti terlonjak bahagia, merayakan kemenangan, tertawa, melambaikan tangan pada Widi dan Rara, yang terusir dari bumi leluhur mereka. Saat itulah, dalam mobil yang menjauh dari pelataran rumah kayu, Widi menyadari keramahan Suman yang terselubung kelicikan, serupa manusia bertopeng, yang menyembunyikan perangai yang sesungguhnya di balik topeng keramahan.

Ia merasa sangat berdosa, membiarkan bukit hutan larangan jatuh ke tangan Suman, yang kini rata tanah, didirikan perumahan di atasnya. Tak seorang pun akan menandingi kelicikan Suman.

Dalam hati ia sempat menghujat diri sendiri: mungkinkah aku kembali ke bumi kelahiranku?  ***

S. Prasetyo Utomo, menyelesaikan studi doktor Ilmu Pendidikan Bahasa Unnes dengan disertasi “Defamiliarisasi Hegemoni Kekuasaan Tokoh Novel Kitab Omong Kosong Karya Seno Gumira Ajidarma”. Kumpulan cerpen tunggalnya Bidadari Meniti Pelangi (Penerbit Buku Kompas, 2005). Menerima Anugerah Kebudayaan 2007 dari Departemen Kebudayaan dan Pariwisata untuk cerpen “Cermin Jiwa” yang dimuat Kompas, 12 Mei 2007. Menerima penghargaan Acarya Sastra 2015 dari Badan Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Menerima penghargaan Prasidatama 2017 dari Balai Bahasa Jawa Tengah.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Naskah merupakan karya orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah dimuat di media apa pun baik cetak, online, atau juga buku. Kirimkan naskah ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...