Konventer Kit Diesel Duel Fuel Diklaim Lebih Hemat Energi

SEMARANG – Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohamad Nasir meluncurkan konverter kit, sebagai solusi pengolah bahan bakar minyak (BBM) yang lebih hemat energi.

Keberadaan konverter tersebut diharapkan dapat meningkatkan efisiensi biaya operasional bagi nelayan untuk melaut. “Kalau solar penggunaannya bisa 100 persen, dengan konverter kit ini ada penghematan sebesar 35 persen. Penghematan ini karena kita pakai LPG yang harga per kg mencapai Rp10 ribu,” kata Nasir, dalam acara uji terap konverter kit diesel duel fuel (DDF).

Uji coba dilakukan untuk kapal di atas 30 GT dan transportasi darat lainnya di Balai Besar Penangkapan Ikan (BPPI) Kementerian Kelautan dan Perikanan, Semarang, Jawa Tengah, Minggu (29/9/2019). Sistem diesel duel fuel, memungkinkan mesin kapal untuk menggunakan dua jenis bahan bakar yakni diesel dan gas. Hal itu untuk mencapai penggunaan energi yang optimal antara bahan bakar gas (BBG), yang memiliki efisiensi tinggi dan diesel yang bertenaga besar.

Produk tersebut, merupakan karya cipta dari PT Cahya Gemilang, yang bermanfaat bagi keberlangsungan nelayan dalam mencari ikan di laut. Dengan harga BBM mulai melonjak naik, maka dibutuhkan suatu alternatif energi berupa bahan bakar gas (BBG) yang memiliki efisiensi pembakaran lebih baik daripada BBM serta harga yang lebih murah.

Pada kesempatan itu, juga dilakukan penandatanganan nota kesepahaman antara PT Cahya Gemilang Semesta, selaku pemegang teknologi dan PT Para Amartha LNG sebagai industri yang akan menggunakan konverter kit.

Biaya operasional nelayan saat melaut sangat didominasi oleh unsur dari BBM, yang menempati porsi kurang lebih 60-70 persen. Dengan kondisi ini, maka didorong penggunaan teknologi untuk penghematan atau efisiensi penggunaan bahan bakar melalui pemanfaatan konverter kit.

Abdul Hakim Pane, inventor dari konventer kit mengatakan, alat tersebut, merupakan produk teknologi yang menerapkan energi baru untuk menjawab kebutuhan masyarakat terutama nelayan. Penelitian yang menghasilkan konventer kit ini, dilakukan kurang lebih lima tahun. Insentif pembiayaan penelitian yang dikucurkan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi pada 2019 saja sebesar Rp800 juta.

Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah, Sri Puryono, mengapresiasi konverter kit yang dapat mengurangi biaya operasional nelayan khususnya dalam biaya penggunaan bahan bakar. Dengan biaya lebih hemat, maka keuntungan nelayan lebih besar sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan nelayan. “Melalui kemajuan teknologi serta riset dan inovasi kita majukan Indonesia dan sejahterakan masyarakat Indonesia,” pungkasnya. (Ant)

Lihat juga...