hut

Lawan Dominasi Impor, Warga Gegunung Kembangkan Tepung dari Umbi-umbian Lokal

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

YOGYAKARTA — Berawal dari keprihatin melihat dominasi tepung gandum impor yang masuk ke Indonesia, seorang warga Kulonprogo Yogyakarta mengembangkan sentra produksi tepung dari bahan umbi-umbian lokal.

Kemin (55), warga dusun Gegunung Sendangsari Pengasih Kulonprogo bersama sekitar 20 warga dusun lainnya ingin melawan politik gandum negara-negara barat yang hendak mematikan sumber pangan lokal berupa umbi-umbian.

“Bangsa kita ini kan begitu kaya dengan aneka jenis umbi-umbian lokal yang bisa dibuat tepung dan dijadikan bahan baku makanan. Tapi kenapa hampir semua jenis makanan saat ini justru harus dibuat dari tepung gandum? Padahal itu semua kan harus impor?,” katanya Rabu (11/09/2019).

Melalui kelompok Mekarsari yang didirikannya, Kemin, memproduksi tepung dari bermacam umbi lokal seperti ketela/singkong, ubi ungu, garut, kimpul, ganyong, gembili, uwi, tales, gading, gadung, suwek, iles, bothe, porang, walur dan berbagai macam jenis umbi-umbian lokal lainnya. Ia menyebut umbi-umbian ini sangat mudah tumbuh dan ditemukan hampir di semua wilayah Indonesia.

“Tapi kenapa gandum yang tidak bisa ditanam di Indonesia, sehingga harus impor, justru malah dipromosikan besar-besaran?. Sementara umbi-umbian lokal kita justru dipandang negatif, sehingga sering dianggap hama tanaman?,” Ujarnya.

Untuk melestarikan berbagai jenis umbi-umbian lokal itu lah ia dan kelompoknya menggalakkan dan menggerakkan penanaman kembali di desanya. Lahan-lahan kosong, pekarangan rumah, hingga lahan di bawah tegakan, mereka tanami aneka jenis umbi-umbian lokal. Semua hasilnya lalu mereka olah untuk dijual. Baik dalam bentuk tepung ataupun produk makanan.

“Kita mulai gerakan ini sejak 2008 silam. Motifnya sederhana, agar kekayaan umbi-umbian lokal tidak mati dan hilang. Selain itu juga sebagai sumber cadangan makanan, ketika sedang musim paceklik. Karena umbi-umbian ini bisa tumbuh kapan saja, termasuk saat musim sulit,” ungkapnya.

Memanfaatkan peralatan sederhana yang mereka beli secara swadaya, kelompok Mekarsari ini mampu memproduksi sekitar 5 kwintal lebih tepung aneka jenis setiap bulannya. Tepung umbi lokal itu mereka jual sendiri melalui reseller-reseller yang ada di sejumlah wilayah di Yogyakarta.

“Untuk tepung garut itu kita sudah rutin jual 2 kwintal per bulan. Harganya Rp25ribu per kilo untuk tepung dan Rp40ribu per kilo untuk pati. Itu belum termasuk yang lainnya seperti ubi ungu, pisang. Juga olahan makanan yang kita buat sendiri seperti roti kering, roti basah, roti kukus,” jelasnya.

Tak seperti tepung gandum yang banyak mengandung gluten, tepung dari bahan umbi-umbian lokal saat ini lebih banyak disukai karena tak memiliki kandungan gluten. Sehingga bagus untuk pencernaan, termasuk bagi penderita diabetes, stroke. Terlebih tepung dari bahan umbi-umbian lokal juga tak kalah dibanding tepung gandum jika diolah menjadi sejumlah makanan seperti kue roti.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!