hut

Lestarikan Tradisi, TMII Gelar Ruwatan Massal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indonesia (TMII) berkomitmen mengembangkan dan melestarikan seni budaya bangsa. Salah satunya ruwatan yang merupakan tradisi budaya Jawa,  digelar setiap tahun pada bulan Suro misalnya pada 1 Muharram.

Pada bulan Suro atau bulan Muharram 1441 Hijriyah, ruwatan massal kembali digelar di pelataran Museum Pusaka TMII, Jakarta, Sabtu (7/9/2019). Ruwatan massal ini diikuti oleh 62 sukerto (peserta) se-Jabodetabek.

Happiyanto dalam sambutannya mewakili Direktur Utama TMII, Tanribali Lamo, mengatakan, ruwatan adalah tradisi budaya Jawa yang patut dilestarikan dan diperkenalkan kepada masyarakat luas, terutama generasi muda.

“Melalui TMII, kita terus melestarikan dan mengembangkan budaya tradisi ruwatan ini. Semoga kita dapat memelihara warisan leluhur yang mengandung pelajaran moral dan budi pekerti ini,” kata Happi yang juga menjabat sebagai Staf Ahli Direktur TMII Bidang Tata Lingkungan dan Teknik Bangunan.

Happi pun bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah sehingga ruwatan massal bisa dilaksanakan setiap bulan Suro di Museum Pusaka TMII.

Dia berharap ruwatan massal ini dapat berjalan dengan baik dan lancar, serta bermanfaat bagi peserta dalam membangun keluarga yang harmonis dan sejahtera menggapai masa depan yang lebih cerah.

Mengawali ruwatan massal, TMII telah mengadakan Selamatan Kenduri dan Kirab Agung Suro di Sasono Utomo pada 31 Agustus 2019 atau malam 1 Suro 1441 Muharram.

Kirab Pusaka diarak mulai dari Kuncungan Sasono Utomo mengelilingi Gedung Pengelola TMII, pada malam Suro 1 Muharram 1441 Hijriyah. Peserta kirab pun kemudian kembali lagi ke Sasono Utomo.

“Selamatan kenduri dan kirab agung Suro merupakan agenda tetap TMII yang digelar setiap tahun,” ujarnya.

Malam 1 Suro juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit di Anjungan Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dan hari ini, Sabtu acara ruwatan massal di Museum Pusaka dengan pagelaran wayang kulit lakon Murwokolo dengan dalang Ki Slamet Hadisantoso.

“Saya sangat mengapresasi acara ruwatan massal ini dilaksanakan setiap bulan Suro, sehingga diharapkan akan tetap lestari dan berkembang serta berkelanjutan,” tandasnya.

Kegiatan ruwatan ini menurutnya, merupakan bentuk pelestarian tradisi yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya bangsa untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas. Baik itu wisatawan domestik maupun wisatawan mancanegara (wisman).

“Tapi utamanya dikenalkan kepada generasi muda, agar mereka tetap mencintai seni budaya bangsa. Sehingga budaya tradisi ini tidak punah, tapi tetap lestari,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!