hut

Lintang Waluku

CERPEN EKO SETYAWAN

BINTANG berekor kekuningan melaju menerabas bintang-bintang yang lain di tengah kegelapan malam. Geraknya segaris lurus dengan arah angin yang membelai rambutku dari utara menuju selatan.

Lantas lindap di balik bukit yang memancarkan cahaya terang di punggungnya. Seperti halnya pentas di panggung pertunjukan yang belum lama mulai di lapangan kampung.

Bukit itu seperti bentangan layar panggung yang belum disingkap. Cahaya di baliknya masih malu-malu menampakkan diri sehingga hanya hadir sebagai siluet.

Tetapi lambat laun, sesaat setelah beberapa waktu di tempat ini, bulan hadir dengan sangat percaya diri. Ia menampakkan dirinya penuh dan seolah ingin menunjukkan padaku bahwa ia sedang sangat bahagia.

Layar panggung yang semula masih menyelimuti seolah terangkat dan siluet yang ada merupa menjadi cahaya sorot lampu panggung yang begitu meriah.

Aku duduk menghadap langit. Meninggalkan keriuhan di lapangan kampung dan memilih menyendiri di gubuk timur kampungku ini. Jaraknya tak seberapa dari kampung.

Masih terlihat jelas nyala lampu rumah paling ujung. Ada lalu-lalang manusia yang tak lain adalah tetangga desa. Mereka tak mau ketinggalan dengan pertunjukan yang hanya setahun sekali digelar itu.

Sesekali mereka menyapa lantas menanyaiku dengan rasa ingin tahu yang sama: sedang apa kau di sini?

“Mencari angin, di sana terlalu sesak.” Begitulah jawabku pada pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.

Namun mereka seperti keberatan atas jawaban yang kulontarkan atas pertanyaan mereka. Kupikir itu adalah hal yang pantas kumaklumi karena memang tak wajar seorang perempuan yang masih segar dan muda sepertiku sendirian di tempat ini pada malam hari.

“Apa kau tidak takut digondol makhluk halus wewe gombel?” teriak mereka yang kupahami sebagai racauan untuk bercanda sembari berjalan menjauh menuju kampung.

“Mereka yang takut padaku!” timpalku dengan tujuan yang sama agar mereka terkekeh.

Setelah mereka menjauh, aku kembali memandang hamparan sawah dan bukit yang terbentang di depanku. Ini bulan Apit, bulan di mana orang-orang di kampung memanen kedelai.

Meskipun bulan Apit begitu kering dan panas pada siang hari, namun orang-orang tetap bisa memanen kedelai karena memang kedelai akan tumbuh dan berbiji ketika tidak turun hujan. Jika hujan, malah bisa jadi kedelai akan berguguran dan tak bisa dipanen.

Di lapangan tengah kampung ada pertunjukan wayang dalam rangka sedekah bumi. Hal itu sudah dilaksanakan sejak puluhan tahun yang lalu bahkan sejak sebelum aku lahir. Bapak yang menceritakannya padaku.

“Kampung kita ramai sekali. Ada apa, Pak?” tanyaku entah di usia berapa. Ingatanku pada saat ini tak mampu mencapai kapan saat itu aku bertanya. Tapi aku ingat jawaban bapak.

Lantas bapak menjelaskan bahwa sedang diadakan sedekah bumi dan kenapa ada pementasan wayang adalah sebagai perantara untuk mengingat Allah yang telah memberi segala rezeki pada warga kampung.

“Wayang adalah cara paling sederhana mengingat Gusti Allah, Cah Ayu. Gusti Allah yang selalu memberi kita rezeki yang cukup.”

Aku tak mengerti maksudnya pada saat itu, tapi setelah menginjak dewasa aku mulai memahaminya. Aku tahu dari kisah Mbah Nyai yang mengajariku mengaji bersama teman-teman yang lain.

“Kanjeng Sunan Kalijaga menyebarkan ajaran Islam dengan media wayang. Sehingga dakwah menjadi begitu dekat dan sampai di hati masyarakat,” Mbah Nyai menjelaskan.

Setelah memahaminya, aku jadi lebih sering datang ketika ada pertunjukan wayang termasuk ketika sedekah bumi berlangsung. Baik sedang berlangsung di kampungku maupun di kampung tetangga.

Sewaktu kecil― jika ada pementasan wayang di kampung sebelah― bapak selalu menggendongku di punggungnya. Bagiku pundak bapak adalah tanah lapang yang menampung segala hal tentangku.

Bahkan sesekali aku tak segan minta diangkat dan digendong di pundaknya. Mirip seseorang yang akan mencapai tempat yang tinggi.

Namun segalanya berlalu seiring kepergian bapak. Padahal aku masih menyimpan banyak keinginan bersama bapak dan belum terpenuhi. Salah satu yang sering dikatakan oleh bapak adalah mengenai lintang waluku.

Bapak sering mengatakannya dan berjanji akan mengajakku melihatnya. Aku mengiyakan dan tak memprotes lebih.

Tapi satu hal yang kusesali saat ini adalah keinginan menyaksikan lintang waluku bersama bapak belum terpenuhi. Lintang waluku adalah saat di mana bintang membentuk satu kesatuan yang padu seolah memiliki garis terdiri atas tiga bintang berderet dan dikelilingi empat bintang yang lain.

Aku tidak tahu persis seperti apa bentuknya. Namun bapak menjelaskan yang demikian.

Bukan hanya bentuk formasi bintangnya saja menarik hatiku, melaikan hal itu terjadi hanya pada sepasar saja menjelang musim tanam. Selain itu, formasi ini hanya akan terlihat pada waktu beberapa saat menjelang azan Subuh bergema di langit.

Aku menantikan saat di mana aku dan bapak bisa duduk berdua dan menatap lintang waluku. Hingga pada akhirnya hal itulah yang menjadi alasanku untuk masuk kuliah di jurusan pertanian.

Aku masih termenung di tempat ini dan suara punakawan mulai kudengar semakin keras. Suara dalang menggema karena jam sudah berubah dan mengganti hari yang baru. Tidak terasa aku sudah terlalu lama di sini dan memikirkan bapak yang telah tiada.

Kuharap apa yang kulakukan bukanlah kesalahan dan sampai sekarang aku bersyukur karena masih baik-baik saja di sini. Lalu-lalang tetangga kampung masih saja ada. Hilir mudik saling datang dan pergi ke kampungku. Jadi tidak ada alasan aku takut ada di sini sendiri. Bahkan aku cukup menyukainya.

Namun tiba-tiba kurasakan angin yang merambat pada sekujur tubuh. Selembar daun jatuh menimpa kepalaku dan luruh ke punggungku. Aku mengusapnya dan terkaget ketika kurasakan sebuah tangan yang menyentuh punggungku bersamaan dengan ayunan tanganku.

Aku terlonjak ke depan. Dadaku berdegup dan kubalikkan tubuhku.

“Ini aku,” Mas Jatmika menenangkanku.

“Ah, hampir saja jantungku copot, Mas.”

“Maafkan aku, Lintang. Aku hanya membantu membersihkan daun di punggungmu,” kata Mas Jatmika lantas duduk dan aku kembali ke tempatku.

Mas Jatmika adalah orang yang telah menggantikan peran bapak selama ini. Ia membantu banyak hal padaku dan juga pada ibu. Ketika aku kuliah, dialah yang menemami ibu dan selalu menjadi perantara ibu untuk menemuiku.

Bagiku, Mas Jatmika tak ubahnya seperti kakak yang begitu menyayangi adiknya. Ia juga yang sering dimintai tolong oleh bapak sewaktu masih hidup. Seperti seorang bapak dan anaknya sendiri.

Meskipun memang Mas Jatmika hanya tetanggaku yang rumahnya hanya sekitar lima puluh langkah ke arah matahari terbit. Tapi bapak memercayainya sehingga hubungan bapak dan Mas Jatmika begitu dekat.

“Sedang apa kau di sini, Mas?” tanyaku mencairkan keadaan.

Aku sudah lama sekali tidak bersua dengan Mas Jatmika semenjak kuliahku masuk masa yang menegangkan yakni aku harus menyusun tugas akhir. Hampir empat bulan aku tak pulang dan tak menemui ibu juga Mas Jatmika.

Jadi perasaanku sedikit canggung ketika kami hanya duduk berdua. Biasanya ada ibu yang selalu berbicara banyak dan kami hanya mengangguk dan menjawab seperlunya.

Tapi kini aku hanya berdua saja dengan Mas Jatmika. Sebenarnya hal ini tak pernah menjadi masalah. Namun aku begitu tak enak jika berdua saja. Tidak seperti biasanya ketika ada ibu. Apalagi kami sudah cukup lama tidak berjumpa.

“Itu yang baru saja akan kutanyakan padamu, Lintang,” sahut Mas Jatmika. “Aku tadi sedang di rumah dan ketika akan keluar, aku melihatmu dari jendela berjalan ke arah sini. Lalu aku tanya ke ibumu. Kamu ke mana. Beliau menjawab tidak tahu, sehingga kuputuskan untuk mencarimu ke arah sini,” tambahnya.

“Iya, Mas. Aku kangen sama bapak. Aku mengingat sesuatu tentang bapak dan membuatku gelisah,” Aku menjelaskan pada Mas Jatmika.

“Boleh aku menebak penyebab kegelisahanmu?” sahutnya cepat disertai candaan.

“Apa?”

“Perihal lintang waluku?”

Seketika jantungku berdetak kencang. Aku seperti sedang melayang dan tubuhku terbawa entah bermuara ke mana. Bagaimana mungkin Mas Jatmika mengetahui apa yang sedang kupikirkan?

Bagaimana mungkin ia memahami apa yang menjadi kegelisahanku? Bagaimana mungkin?

“Bapakmu sering mengatakan padaku tentang keinginannya mengajakmu untuk melihat lintang waluku ketika musim tanam tiba. Tapi hal itu diurungkan karena bapak merasa bahwa kamu masih terlalu kecil saat itu.

Bapak tak mungkin mengajak anak perempuannya keluar pada dini hari bahkan pada saat menjelang Subuh untuk mencari air. Bapak menceritakan semuanya ketika aku diajak menemaninya mencari air saat musim tanam. Sehingga bapak sering memberitahuku tentang lintang waluku dan seluruh keinginannya.” Mas Jatmika menjelaskan tanpa kuminta.

“Benarkah, Mas?” aku mencoba meyakinkan diriku.

“Tentu saja, Lintang. Bapak menamaimu demikian juga karena ia berkeinginan bahwa kau serupa lintang waluku yang tak lain adalah lambang kesuburan. Bapak ingin anaknya tumbuh subur dan berguna bagi orang banyak juga sebagai penunjuk jalan bagi musim yang membahagiakan.”

“Kau bicara apa, Mas?”

“Asal kau tahu, Lintang. Ada satu hal yang belum kupenuhi dari permintaan bapakmu,” kata Mas Jatmika.

“Apa itu?”

“Bapakmu ingin aku meminangmu. Ibu juga tahu soal ini. Tapi sepertinya memang belum ada yang mengatakan padamu ya? Kupikir memang ini saatnya kau mengetahuinya. Kau sudah dewasa dan kupikir memang sudah saatnya untuk mengetahuinya,” kata Mas Jatmika dengan begitu tenang namun penuh kharisma.

Aku kaget. Dadaku sesak mendengarnya. Tapi memang aku mencintai Mas Jatmika jauh sebelum ia mengatakan hal ini. Aku merasa tiba-tiba bintang di langit berpendar terang dan membentuk formasi lintang waluku. Bapak juga ada di sana. Aku melihatnya sekarang. Begitu terang. ***

Eko Setyawan, menempuh Pendidikan Bahasa Indonesia di FKIP Universitas Sebelas Maret. Bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar.

Redaksi menerima kiriman cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya cerpen orisinal, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online, atau buku. Kirimkan karya ke editorcendana@gmail.com. Disediakan honorarium bagi karya yang ditayangkan. 

Lihat juga...