Lulusan Madrasah di NTB Kesulitan Melanjutkan ke PT

Editor: Mahadeva

MATARAM – Banyak lulusan Madrasah dan Pondok Pesantren (Ponpes) di NTB saat ini tidak melanjutkan pendidikannya ke Perguruan Tinggi (PT). Alasan ekonomi membuat mereka tidak mengenyam pendidikan tinggi.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) NTB, Baiq. Mulianah/ Foto : Turmuzi

“UNU NTB siap membantu Lulusan Madrasah supaya bisa menikmati pendidikan lebih tinggi, melalui pemberian beasiswa, termasuk keringanan pembayaran SPP terutama bagi yang berprestasi,” kata Rektor Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Nusa Tenggara Barat, Baiq. Mulianah, Kamis (5/9/2019).

Hasil pengamatan UNU NTB, selama ini salah satu alasan tidak melanjutkan pendidikan ke PT karena mereka tidak mampu membayar kuliah. Dengan persoalan tersebut, UNU NTB mengeluarkan kebijakan membayar uang kuliah dengan sampah. “Paradigma kuliah mahal, memang masih melekat dibenak Masyarakat kita. Padahal UNU sudah memberikan beragam kemudahan, termasuk beasiswa sampai dua semester,” tandasnya.

Namun demikian, kemudahan yang diberikan seperti beasiswa, belum mampu membalik paradigma berpikir masyarakat tentang pentingnya pendidikan. Karena itu, melalui pendekatan yang sama, UNU memberi kemudahan bagi masyarakat untuk berkuliah. “Kalau bisa membayar kuliah dengan sampah, kuliah jadi terasa sangat mudah dan murah, sehingga mereka berpikir ulang, dan akan mendorong anak untuk berkuliah,” tandasnya.

Dekan Fakultas Teknik UNU NTB, Gendewa Tunas Rancak, M.T mengatakan, selain untuk menjawab masyarakat yang mengeluhkan biaya kuliah. Misi lain di balik kebijakan sampah untuk membayar kuliah adalah, program UNU Go Green atau UNU Eco Campus.

Menciptakan lingkungan kampus berbasis cinta lingkungan dan upaya pengelolaan yang baik. Dengan program tersebut, mendorong partisipasi masyarakat dalam upaya pengurangan sampah. “Masalah lingkungan kita, selain pemanasan Global, juga disebabkan kompleksnya persoalan sampah, bumi kita tercemari luar dalam,” ungkapnya.

Untuk pengelolaan sampah, UNU NTB telah memiliki bank sampah. Pengelolaanya dengan sistem teknologi berbasis aplikasi. Sistem tersebut akan dicoba diintegrasikan dengan model manajemen keuangan digital. “Bank sampah tersebut memiliki sistem online berbasis aplikasi. Layaknya sistem mobile banking diperbankan, nasabah juga dapat mengetahui saldo sampah yang mereka miliki,” pungkasnya.

Lihat juga...