hut

Makanan Tradisional Laris Manis di Festival Lamaholot

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Festival Lamaholot di desa Bantala, kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur, NUSA Tenggara Timur (NTT), memberi berkah tersendiri bagi para pedagang makanan dan minuman.

“Hari pertama saya bawa ketupat dan habis diserbu pembeli. Hari ke dua, ketupat saya tambah dan tetap saja habis terjual,” kata Esi Koten, salah seorang pedagang makanan kepada Cendana News, Sabtu (14/9/2019).

Esi menyebutkan, di hari pertama festival, ketupat yang dijual seharga Rp5.000 per dua buah, habis terjual. Selain itu, dirinya pun menjual Lemet yang terbuat dari singkong yang diparut. Kue ini pun habis terjual. Dirinya mengaku mendapatkan keuntungan bersih minimal Rp200.000.

“Saya juga menjual kopi dengan harga  per gelas Rp5.000, dan teh. Meskipun ada beberapa penjual makanan dan minuman, namun keutungan yang kami dapat pun berlipat ganda,” ungkapmnbya.

Esi Koten, penjual makanan saat ditemui di festival Lamahaolot, di desa Bantala kecamatan Lewolema, kabupaten Flores Timur, NTT, Sabtu (14/9/2019). -Foto: Ebed de Rosary

Hal senada juga disampaikan Mia Soge, penjual makanan dan minuman lainnya. Mia mengaku menjual nasi dengan lauk ikan asin seharga Rp10.000 seporsi, serta kopi.

Mia pun menjual jagung titi, makanan khas Flores Timur dengan harga Rp15.000 dan Rp25.000. Dalam sehari, dirinya pun bisa mengantongikeuntungan bersih minimal Rp200.000.

“Pembelinya banyak sekali, sehingga makanan kami habis terjual menjelang sore hari. Saya bersyukur, karena ada festival ini sehingga saya bisa berjualan di tempat ini,” ungkapnya.

Mia juga menjual es kelapa muda. Satu buah kelapa muda dijual dengan harga Rp5.000. Hasil menjual kelapa muda, dirinya bisa mengantongi keuntungan Rp50.000.

“Makanya, saya ajak anak saya untuk bantu saya berjualan. Kalau hari biasa, paling kami hanya membuat kue dan menjualnya keliling kampung, namun keuntungan yang didapat paling hanya Rp30.000 sampai Rp50.000 ribu sehari,” katanya.

Mia bersyukur pagelaran festival bisa mendatangkan keuntungan bagi pedagang kecil. Bahkan, kain tenun yang dijual pun ikut dibeli pengunjung dari luar daerah.

“Kami bersyukur, tahun ini pun festival tetap diselenggarakan di desa kami, sehingga kami pedagang kecil ini bisa mendapatkan keuntungan,” pungkasnya.

Lihat juga...