hut

Malang Fashion Runway, Wadahi Karya Desainer Lokal

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MALANG – Sejumlah desainer kenamaan Malang raya siap memamerkan karya busana unggulannya dalam gelaran Malang Fashion Runway (MFR) 2019. Tidak hanya menampilkan karya desainer ternama, MFR juga menjadi ajang untuk mewadahi hasil karya desainer muda.

Malang Fashion Runway merupakan event fashion yang digagas sebagai bentuk apresiasi terhadap pesatnya perkembangan fashion di Kota Malang. Selain itu, event ini hadir untuk mendukung desainer-deainer lokal yang memiliki kualitas tidak kalah bagusnya dengan desainer level nasional.

“MFR juga diharapkan dapat mewadahi para desainer muda untuk terus berkarya menuangkan ide-ide kreatifnya dalam berbusana,” jelas creative director, Sasmitha Rahayu, dalam sesi press conference di hall lobi Malang Town Square (Matos), Selasa (17/9/2019).

Mall director Fifi Trisjanti dan creative director Sasmitha Rahayu (dua tengah depan) bersama beberapa desainer dan model peserta MFR, di Matos, Selasa (17/9/2019). Foto: Agus Nurchaliq

Di MFR para desainer bebas berkreasi dan menampilkan karya mereka sebagai tren fashion 2020 dengan tema universal “EXPRESSION “ yang menonjolkan ekspresi diri dari para desainer untuk menunjukkan hasil karya mereka.

Diawali oleh opening act treatical dance dengan tata gerak yang, dinamis, ekspresif dan para penari akan menonjolkan balutan kain yang akan dimainkan dalam ekspresi gerakan dengan warna-warna bold sebagai warna trend di 2020 .

“Untuk desainer sendiri kita total ada 39 desainer yang siap memeriahkan MFR terdiri dari desainer Malang raya, Jakarta, Solo, Banyuwangi, dan beberapa kota lainnya. Selain itu  banyak desainer muda yang nanti juga kita ikutkan,” jelasnya.

Yang tidak kalah menarik, MFR kali ini menghadirkan dua guest designer ternama untuk turut mempertunjukkan karya terbaik mereka  yakni Geraldus Sugeng dan Herman Sahara.

Lebih lanjut, mall director, Fifi Trisjanti, meminta para desainer untuk tetap konsisten mengagumi produk-produk dalam negeri, misalnya baju khas daerah yang ada di Indonesia.

“Meskipun tentu tidak bisa dipungkiri bahwa kita harus mengikuti pola perkembangan zaman. Namun yang penting jangan pernah ditinggalkan bahwa kita mempunyai sesuatu yang begitu kaya yaitu baju khas daerah.

Kita harus bangga dengan kekhasan yang dimiliki daerah-daerah di Indonesia,” ucapnya. Hal tersebut tentu harus terus digalakkan agar orang Indonesia tetap bangga dengan khas baju mereka sendiri.

Selain itu Fifi meminta agar para desainer busana anak-anak sebisa mungkin jangan memaksakan desain yang sebenarnya tidak pas untuk anak-anak, contohnya penggunaan sepatu yang ada hak tinggi.

“Di luar negeri sana kalau mengadakan fashion show untuk anak-anak tidak ada yang menggunakan sepatu dengan hak tinggi. Bajunya lucu-lucu dan tidak terlalu terbuka, sehingga tetap terkesan anak-anak. Bukan anak yang didewasakan,” ungkapnya.

Hal ini perlu disampaikan agar desainer mengerti apa yang mereka harus lakukan sebagai pembawa model. Karena selama ini banyak model anak-anak kecil yang bajunya buka-bukaan dan dandanannya juga terlalu menor.

“Saya penyuka fashion tapi saya selalu miris melihat anak-anak yang didewasakan,” pungkasnya.
Sementara itu disebutkan, Malang Fashion Runway siap digelar selama dua hari pada 21 dan 22 September 2019.

Lihat juga...