hut

Malaysia Tunda Kelanjutan Pembangunan Kereta Api RTS Dengan Singapura

ILUSTRASI - Kereta cepat di Berlin, Jerman, menggunakan teknologi maglev (magnetic levitation) dan mampu melintas dengan kecepatan 350 km/jam - Foto Ant

KUALA LUMPUR – Malaysia dan Singapura, sepakat kembali menunda selama satu bulan kelanjutan proyek pembangunan jalur kereta api senilai miliaran dolar AS, yang menghubungkan dua Negara.

“Proyek kereta api RTS (rapid transit system) yang rencananya menghubungkan Singapura dengan Johor, Malaysia, ditunda kelanjutannya hingga 31 Oktober,” kata Kementerian Transportasi Malaysia dalam siaran tertulisnya, Minggu (29/9/2019).

Dalam siaran tertulis itu, Kementerian Transportasi Malaysia menjelaskan, tidak ada biaya tambahan yang dibebankan akibat penundaan tersebut. Pernyataan itu disampaikan pihak kementerian, karena Malaysia diharuskan membayar ke Singapura apabila proyek kereta api RTS gagal dilanjutkan.

Malaysia dan Singapura pertama kali menunda proyek pembangunan jalur kereta api RTS pada Mei 2019. Penundaan itu terjadi karena pemerintahan baru Malaysia terlilit hutang mencapai 1,087 triliun Ringgit (setara dengan 259,7 miliar dolar AS). Nilai hutang itu merupakan catatan per-akhir 2017. Oleh karena itu, pemerintah Malaysia di bawah pimpinan Perdana Menteri, Mahathir Mohamad, akan meninjau kembali proyek yang disepakati oleh pemerintahan sebelumnya di bawah kepemimpinan Najib Razak.

Pemerintah Malaysia, sebelum Mahathir dikabarkan berhasil membujuk Cina, untuk memangkas biaya pembangunan hingga nyaris sepertiganya senilai 11 miliar dolar AS. Jalur kereta RTS yang pembangunannya diprediksi tuntas pada 2026, didesain untuk mengangkut lebih dari 10.000 penumpang per-jamnya di rute tertentu.

Kapasitas penumpang itu diyakini 30 kali lebih besar daripada kereta biasa yang telah beroperasi di Malaysia. Pemerintah Malaysia pada tahun lalu juga menunda kelanjutan pembangunan jalur kereta api cepat dari ibu kota negara di Kuala Lumpur menuju Singapura. Sejumlah pengamat memperkirakan biaya pembangunan mencapai 17 miliar dolar AS. (Ant)

Lihat juga...