hut

Masyarakat di Denpasar Diedukasi Cara Membuang Sampah Obat

Ilustrasi [Ist]

DENPASAR – Masyarakat Bali diedukasi untuk tidak membuang sampah obat secara sembarangan. Hal itu untuk mencegah sampah obat disalahgunakan oknum tak bertanggung jawab.

“Karena masih kurangnya edukasi, selama ini sebagian besar masyarakat kerap membuang sisa obat tanpa mengindahkan prosedur yang benar,” kata Wakil Ketua Tim Penggerak PKK Provinsi Bali, Tjokorda Putri Hariyani Ardhana Sukawati, saat menghadiri kampanye ‘Ayo Buang Sampah Obat’, di depan Monumen Perjuangan Rakyat Bali, di Denpasar, Minggu (1/9/2019).

Bahaya yang harus diwaspadai, bila masyarakat membuang sampah obat sembarangan adalah, dimanfaatkan oleh pihak yang tak bertanggung jawab. “Misalnya, obat yang baru dikonsumsi beberapa butir dan sudah kedaluwarsa dibuang begitu saja dengan kemasan masih utuh. Cara membuang sampah obat seperti itu akan menjadi celah bagi pihak-pihak yang tak bertanggung jawab,” ucapnya pada acara yang digelar Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Denpasar tersebut.

Padahal, obat yang dibuang dan mungkin sudah kedaluwarsa itu, bisa dikemas kembali dan sangat mungkin diedarkan lagi ke masyarakat. Mengingat besarnya bahaya yang ditimbulkan, istri Wakil Gubernur Bali itu mengajak masyarakat, untuk mulai lebih berhati-hati ketika membuang sisa obat.

Ke depannya, Tim Penggerak PKK sebagai organisasi yang mempunyai kader hingga lingkup rumah tangga, akan terus mengedukasi masyarakat terkait tata cara membuang sampah obat.

Plh Kepala BPOM Denpasar, I Wayan Eka Ratnata, mengimbau masyarakat agar mengikuti prosedur yang tepat ketika membuang sampah obat. Caranya, kemasan dan obat harus benar-benar dihancurkan sebelum dibuang. “Dibuangnya jangan ke saluran air karena itu juga berbahaya. Lebih baik ditimbun di tanah,” ujar Ratnata.

Ratnata menambahkan, gerakan Ayo Buang Sampah Obat ini merupakan program nasional. Peluncurannya dilaksanakan di Jakarta dan diikuti 15 provinsi termasuk Bali. Gerakan akan dilaksanakan selama sebulan penuh dengan melibatkan 1.000 apotek se-Indonesia dan 82 diantaranya ada di Bali.

Pihaknya berharap seluruh komponen masyarakat ikut berperan aktif mencegah peredaran obat ilegal, melalui gerakan membuang sampah obat secara benar. “Kami sangat mengharapkan peran dari ibu rumah tangga karena mereka yang biasanya aktif mengurus kebutuhan obat bagi keluarga,” ucapnya. (Ant)

Lihat juga...