hut

Masyarakat Indonesia Ingin Pengembangan EBT

Editor: Mahadeva

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Baru Terbarukan Dirjen EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM) Harris, ST, MT (kiri) dan Campaign Manager Coaction Indonesia Juris Bramantyo saat peluncuran hasil survei persepsi publik mengenai EBT di GoWork fx Sudirman Jakarta, Selasa (17/9/2019) - Foto : Ranny Supusepa

JAKARTA – Meskipun banyak yang belum pernah melihat secara langsung Energi Baru Terbarukan (EBT), menurut survei, mayoritas masyarakat Indonesia ingin pengembangan EBT untuk menggantikan energi fosil. 

Campaign Manager Coaction Indonesia, Juris Bramantyo, menyampaikan, kesimpulan tersebut didapatkan dari survei yang dilakukan bersama change.org, pada Mei 2019 lalu. “Tercatat 36,5 persen dari 96.658 responden yang berasal dari 34 provinsi, menyatakan rela membayar listrik lebih mahal, bila bersumber dari energi yang lebih bersih,” ungkap Juris dalam Diskusi Media, Selasa (17/9/2019).

Dari survey teresebut tercatat, ada 41,4 persen responden yang siap melakukan perubahan gaya hidup, untuk lebih hemat energy. Dalam survei juga terungkap, matahari merupakan EBT yang paling banyak terpilih sebagai alternatif energi. Survey menyasar responden usia produktif antara 17 hingga 30 tahun. “Mereka-lah nanti, yang akan berperan besar dalam penggunaan EBT untuk mencegah perubahan iklim,” tandas Juris.

Direktur Aneka Energi Baru dan Energi Baru Terbarukan Dirjen EBTKE Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM), Harris, ST, MT, menyatakan, sangat terkejut dengan hasil survei yang diselenggarakan atas kerjasama coaction dan change.org ini.  “Dengan melihat hasil ini, saya melihat kecenderungan masyarakat Indonesia adalah mengharapkan penggunaan EBT diperluas,” kata Harris.

Harris menyebut, diversifikasi energi di Indonesia sebenarnya sudah mulai dilakukan sejak 1980-an. Di awalnya, Indonesia masih hanya membicarakan keberadaan energy air.  “Karena teknologi untuk surya, masih sangat mahal. Tapi kebutuhan EBT ini memang suatu keniscayaan,” ujarnya.

Sebagai contoh, kebutuhan Indonesia akan pasokan minyak adalah 1,5 juta barrel per-hari. Sementara produksi Indonesia sendiri hanya 800 ribu barrel per-hari. “Untuk memenuhi kebutuhan ini kita impor. Bayangkan kalau terjadi gangguan distribusi. Karena itu kita membutuhkan EBT sebagai alternatif energi,” urai Harris.

Pemerintah disebutnya, sudah berkomitmen untuk menuju energi ramah lingkungan. Salah satunya melakukan kerjasama bilateral dengan Swiss, untuk menyusun kurikulum EBT guna pengajaran di tingkat SMK dan Politeknik. “Yang pasti masyarakat harus mengerti, kalau memang tidak bisa menghentikan energi fosil secara tiba-tiba. Tapi pemerintah sudah mempersiapkan semuanya untuk mencapai target bauran EBT sebesar 23 persen di tahun 2045,” pungkasnya.

Lihat juga...