hut

Mengenang BJ Habibie: Bertemu Pak Harto Sejak Usia 13 Tahun

PUTRA terbaik bangsa, Presiden  RI ke-3 Bacharuddin Jusuf Habibie berpulang ke haribaan Allah SWT pada Rabu (11/9), sekira pukul 18.05 WIB di RSPAD Gatot Subroto, Jakarta, dalam usia 83 tahun. BJ Habibie -begitu namanya biasa disingkat- dalam lintasan perjalanan hidupnya pernah menjadi menteri dan wakil presiden pada era Presiden Soeharto hingga secara konstitusional menggantikannya sebagai presiden pada 1998.
Pertemuan BJ Habibie dengan Pak Harto kala itu sebagaimana diungkapkan Habibie dalam buku “Diantara Para Sahabat: Pak Harto 70 Tahun” terbitan 2009 (Halaman 370-373) bermula saat ia berusia sekitar 13 tahun . Disebutkan Habibie, dari tahun 1950 hingga tahun 1974 pertemuan antara Pak Harto dengan dirinya dan keluarga tidak sesering sebagaimana telah berlangsung sejak pada tahun 1974 di mana ia memperoleh kehormatan membantu Presiden/Mandataris MPR melaksanakan pembangunan bangsa dan negara.
“Hubungan kerja dan silaturahmi dengan pertemuan-pertemuan yang sedemikian sering, teratur dan sistematis sejak tahun 1974 itu didahului oleh ikatan batin dan kekeluargaan yang telah berlangsung selama hampir 24 tahun,” tutur Habibie dalam buku tersebut sebagamana termuat dalam soeharto.co.

Habibie mengaku, melihat Pak Harto pertama kali pada tahun 1950 di Ujung Pandang (Makassar). Pada waktu itu umurnya baru 13 tahun. “Ketika itu saya sering melihat Pak Harto dengan ditemani oleh pemuda-pemuda lainnya, diantaranya Letnan Satu Subono Manthovani, anak buah beliau, yang sering berkunjung ke rumah dan kelak menjadi ipar saya. Saya melihat seorang muda, seorang pemimpin, seorang pejuang,” ceritanya.

Habibie melihat bagaimana waktu itu Pak Harto dengan yakin dan tekun melaksanakan tugas di Makassar untuk menyelesaikan masalah Andi Azis. “Saya tahu bahwa beliau datang untuk mempersatukan bangsa dari Sabang  hingga Merauke. Saya kagum melihat kesadaran nasionalnya yang tinggi dan komitmennya yang tegas pada Sumpah Pemuda 1928,” imbuhnya.

Ia memandang Pak Harto sebagai seorang pahlawan yang memimpin pahlawan-pahlawan lainnya untuk membebaskan bangsa Indonesia dari sisa-sisa penjajahan melalui rencana yang sistematis yang dijiwai semangat perjuangan dan semangat proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.

Disebutkan Habibie, pada waktu itu Pak Harto selalu memperhatikan kepentingan sekelilingnya sampai ke detail-detailnya, tidak saja kepentingan bawahannya sendiri tetapi juga kepentingan semua orang didalam lingkungannya, baik orang yang ia sukai maupun yang tidak. Termasuk juga kepentingan keluarga Habibie diperhatikan.

Menurut Habibie, umur Pak Harto waktu itu baru 28 atau 29 tahun. Kalau dibandingkan dengan sikap dan perilaku Pak Harto waktu itu dengan orang-orang muda berumur 28-29 tahun sekarang, kata Habibie, jelas terdapat perbedaan yang jauh. “Pada umur 28 tahun, pemuda Soeharto jauh lebih dewasa, jauh lebih berani. Kemandirian serta jiwa pejuang beliau tampak sekali, demikian pula kepeloporan beliau membuat terobosan-terobosan guna membangun sistem untuk membebaskan bangsa kita dari dampak penjajahan selama 350 tahun,” tandasnya.

Dari sudut penglihatan Habibie sebagai anak kecil berumur 13 tahun, Pak Harto adalah seorang idola yang patut dicontoh setiap orang. “Setidak-tidaknya setiap anak kecil seumur saya yang mampu berfikir dan berperasaan hati nurani yang dekat dengan keluarga, lingkungan, dan bangsanya,” katanya.

Kekaguman Habibie bercampur dengan rasa haru yang mendalam ketika pada tahun 1950 ayahnya mendapatkan serangan jantung sewaktu sembahyang Isya di rumah. Semua itu masih jelas di bayangan Habibie, bagaikan suatu skenario yang tertanam didalam otak dan hati sanubari.

“Waktu itu saya berdiri di belakang ayah yang bertindak selaku imam. Dengan mata kepala sendiri saya melihat ayah terjatuh dan, dengan ucapan “Allahu Akbar, Allahu Akbar…”, mengakhiri hidup beliau,” tuturnya.

Di saat itulah, kata Habibie, dirinya menyaksikan bagaimana Pak Harto bertindak tidak saja sebagai seorang pemimpin pemuda, tetapi juga sebagai seorang bapak, seorang pemimpin yang dekat dengan rakyatnya, seorang pemimpin dengan rasa kemanusiaan yang tinggi. “Masih jelas dalam ingatan saya bagaimana Pak Harto menutup mata ayah saya, mendoakannya, serta menghibur ibu dan seisi rumah. Beliau berusaha meyakinkan agar kami menerima musibah itu dengan tabah,” ungkapnya.

Disitulah hubungan antara pribadi Habibie dengan pribadi Soeharto terpateri menjadi hubungan batin yang sangat erat. “Pada saat ayah saya meninggal di tikar sembahyang itulah terbentuknya hubungan batin itu, ditakdirkan Tuhan, tanpa pribadi Habibie dan Soeharto menyadari maksud dan tujuannya, apalagi maknanya untuk masa depan,” kenangnya.

Perasaan ini, kata Habibie, menjadi salah satu bekal yang diberikan Tuhan kepadanya dalam hubungannya dengan Pak Harto sebagai manusia, sebagai pemimpin keluarga, sebagai pemimpin bangsa, dan  sebagai salah seorang pemimpin umat manusia. “Jika saya renungkan makna peristiwa itu…, maka dengan memanfaatkan ratio, saya dapat mengerti dan mendalami kepribadian seorang manusia Indonesia yang besar, seorang manusia Indonesia yang ditakdirkan untuk memimpin bangsanya dengan perasaan nasionalisme dan dedikasi yang tinggi pada bangsanya dengan sekaligus memiliki rasa kemanusiaan yang besar terhadap keluarga, dan orang serta rakyat di sekelilingnya,” sebut Habibie.

Sifat-sifat inilah yang menurut tafsiran Habibie, selalu menjiwai dan mengalbui Soeharto, putera Bangsa Indonesia. “Melalui ceritera-ceritera keluarga Subhono Manthovani, maka secara sengaja atau tidak, tetapi jelas, disamping Bung Karno dan pemimpin-peminpin Indonesia lainnya waktu itu, Soeharto sebagai pemuda yang pendiam tetapi tindakannya didalam perjalanan hidup saya selalu menonjol dan memberikan kehangatan, mungkin mempengaruhi pribadi saya sendiri,” tambahnya.

Karier dan Patriotisme

Seiring waktu berjalan, Pak Harto berkembang didalam kariernya di bumi Indonesia, sementara Habibie di Jerman Barat menambah bekal pengalaman, sesuai dengan ritme perkembangan semangat pembangunan diantara pemuda pelajar di rantau, dan dengan mendapatkan inspirasi dari pemimpin-pemimpin perjuangan.

Perkembangan idiologi di tahun-tahun 1960-an, dengan “Penemuan Kembali Revolusi Indonesia”, Manipol-USDEK, dan pernyataan idiologis-revolusioner lainnya, mempunyai pengaruh pada gerakan pemuda Indonesia di luar negeri, termasuk Eropa. “Kebetulan, saya waktu itu sedang diberi kesempatan untuk berperan serta dalam memimpin generasi saya didalam memberikan respon yang rasional tetapi penuh dedikasi terhadap panggilan perjuangan bangsa. Saya mendapatkan kehormatan untuk bergerak di dalam Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Jerman Barat dan di Eropa,” kata Habibie.

Melalui PPI, yang pada waktu itu oleh Pemimpin Besar Revolusi dinyatakan sebagai aparat revolusi, Habibie ikut di dalam perjuangan. Dan tanpa disadari, melalui bekal pengalaman dalam sistem itu, rupanya dalam pengakuan Habibie, dirinya dipersiapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa sebagai salah satu manusia Indonesia yang harus melanjutkan perjuangan bangsa.

“Saya yakin bahwa saya beserta putera-puteri Indonesia yang memperoleh kesempatan meresap ilmu pengetahuan di luar negeri, khususnya Eropa, berkewajiban mengamalkan ilmu yang diperolehnya untuk pembangunan bangsanya. Kita pemuda pelajar wajib mengisi kemerdekaan dengan karya-karya nyata pembangunan,” ujarnya.

Dengan bekal semangat dan pengalaman itu, pertemuan Habibie sebagai insinyur muda dengan Pak Harto, yang pada waktu itu sudah berpangkat mayor jenderal, menanamkan suatu kesan yang sangat mendalam di dalam otak dan sanubari.

“Rupanya Pak Harto pun mengingat pertemuan itu. Pertemuan tersebut terjadi sewaktu beliau bersama-sama Pak Nasution mengunjungi Eropa tahun 1961. Pada waktu itu, saya hanyalah sebagai seorang insiyur muda yang mendapatkan kesempatan berbicara dengan banyak pemimpin termasuk Pak Harto,” tuturnya.

Dikatakan Habibie, Pak Harto sebagai orang yang pendiam tetapi mampu menangkap aspirasi-aspirasi di dalam lingkungannya serta mampu menganalisa dan mengintepretasikannya. Bahkan tanpa mengucapkan sepatah kata pun, beliau mampu merencanakan realisasinya sesuai dengan keyakinan beliau untuk kepentingan masyarakat.

Habibie lantas teringat sebuah pertemuan di Jerman Barat tersebut. Ia pun lantas menjelaskan mengenai peranan seorang insinyur di dalam proses pembangunan melalui karya-karya yang nyata untuk kesejahteraan bangsa. “Saya tidak menyadari bahwa salah seorang diantara yang saya berikan penjelasan itu kelak ditentukan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa untuk menjadi pemimpin bangsanya. Ia ditakdirkan untuk dengan segala patriotismenya mengembalikan Revolusi Indonesia dan aspirasi bangsanya ke relnya yaitu Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945 dan memulai Orde Baru,” tandasnya.

Itulah patriotisme yang hanya dapat dirasakan oleh seseorang yang benar-benar mencintai bangsanya dan memahami inspirasi Revolusi Kemerdekaan 1945. Dalam beberapa tahun kemudian, Pak Harto menjadi mandataris MPRS, Presiden Republik Indonesia, dan memimpin bangsanya untuk mengisi kemerdekaan dengan karya-karya nyata putera-putri Indonesia, tanpa meninggalkan kebudayaan dan pola pemikiran yang diwariskan generasi-generasi sebelumnya.

“Beliau memikir jauh ke depan, sehingga dengan sekaligus beliau membudayakan Demokrasi Pancasila agar kita tidak kehilangan arah di dalam pembangunan masyarakat yang kita cita-citakan,” lanjut Habibie.

Ketika pemberontakan G 30 S/PKI meletus di Indonesia, disebutkan Habibie, dirinya baru saja menyelesaikan semua persyaratan untuk memperoleh gelar Dr. -Ing. dan baru saja ikut mempersiapkan Kongres Pemuda tahun 1965, dengan PPI sebagai Alat Revolusi. “Tiba-tiba kita dikagetkan oleh peristiwa G.30.S/PKI itu, dan kemudian saya pun mendengar bahwa yang berhasil mengatasinya adalah seorang Jenderal Soeharto. Karena nama Soeharto begitu umum di Indonesia, saya tidak menyadari bahwa yang dimaksudkan itu adalah Jenderal Soeharto yang saya kenal sejak tahun 1950-an di Makasar, dan yang garis hidupnya telah beberapa kali bersentuhan dengan hidup saya,” kenangnya.
Waktu itu Habibie adalah seorang pemuda terpelajar yang telah mengalami pendidikan formal yang mendalam dan tinggi di Jerman Barat didalam suatu sistem pendidikan yang hampir sempurna di bidang teknologi canggih.
“Saya adalah pemuda Indonesia yang telah pula mengalami pendidikan kepemimpinan di dalam  PPI sebagai Alat Revolusi. Saya menyadari bahwa pendidikan tersebut tidak mungkin dapat saya nikmati tanpa perjuangan bangsa Indonesia, tanpa pengorbanan rakyat Indonesia. Pendidikan di bidang teknologi beserta pendidikan kepemimpinan itu dijiwai oleh semangat perjuangan dan cinta pada Ibu Pertiwi, diilhami oleh pimpinan dan para pahlawan. Dengan demikian, jelaslah bagi saya bahwa hasil pendidikan itu harus digunakan untuk mengabdi pada perjuangan bangsa,” kata Habibie.
Tiba-tiba, lanjut Habibie, perjuangan bangsa itu diganggu oleh pemberontakan G 30 S/PKI. Dan kebetulan, orang yang berhasil mengatasinya adalah Jenderal Soeharto yang ketika peristiwa itu terjadi telah lama dikenal Habibie selama lima belas tahun
“Melalui Subono Manthopani, ipar saya yang telah berpangkat kolonel, saya langsung melaporkan kesiapan saya untuk ikut membantu menghadapi dan menyelesaikan semua masalah di Tanah Air sebagai seorang Dr.-Ing. muda berumur 29 tahun yang bersemangat juang yang sama, mencintai Tanah Air dan para pemimpinnya, dan yang yakin pada konsep pemimpinnya,” cerita Habibie.

Kepada Habibie, Pak Harto memberi pesan agar tetap melanjutkan tugasnya di dalam industri Jerman. Dikatakan Habibie, Pak Harto juga akan memanggilnya jika sudah tiba waktunya. “Saya diminta Pak Harto agar mempersiapkan serta memperkuat diri terlebih dahulu. Karena itu saya langsung terjun kembali dalam bidang saya,” ungkap Habibie.

Dipanggil Ibu Pertiwi

Dari pengalaman sebagai seorang pemimpin gerakan mahasiswa di Eropa, Habibie sadar bahwa suatu halangan tidak dapat didobrak dan suatu idea tidak mungkin diwujudkan, hanya oleh satu orang saja. Pengalaman itu mengajarkan bahwa yang penting meyakini dua hal dulu.

Pertama, cita-cita dan program yang kita miliki waktu itu benar-benar identik dengan cita-cita bangsa. Kedua, bahwa cita-cita yang kita miliki itu benar-benar menguntungkan cita-cita perjuangan bangsa. Jika cita-cita tersebut benar-benar demikian, maka kita harus juga mampu untuk mewujudkan cita-cita itu.

“Tidak hanya itu saja, kita harus mampu meyakinkan orang-orang di lingkungan kita bahwa yang dikehendaki itu bukan kepentingan pribadi, tetapi tidak lain daripada suatu sumbangan kecil kepada suatu perjuangan yang besar dari keseluruhan bangsa. Dengan demikian, maka orang yang diyakinkan akan bergabung dengan kita yang meyakinkan itu dan akan terbentuk suatu kelompok yang jumlahnya semakin besar dan kekuatannya makin tinggi untuk mendobrak dan melakukan terobosan yang diperlukan dan diharapkan oleh bangsa,” kata Habibie.

Dari situlah, maka lahirlah prakarsa untuk mendatangkan pemuda-pemuda Indonesia untuk bersama dengan Habibie mempersiapkan diri di rantau kalangan orang-orang rasional dan pintar, untuk mendapatkan pengalaman di bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan rekayasa.

Merekalah yang kelak akan membentuk suatu inti yang terus menerus diperbesar dan disempurnakan sehingga dapat menjadi bekal masyarakat untuk dimanfaatkan dalam suatu sistem yang terpadu, yang “redundant“. Dalam hal ini adalah suatu kekuatan yang tidak hanya tergantung  dari satu elemen saja, dan ia merupakan suatu sistem gerakan yang tidak dapat dihalang-halangi karena tidak saja dijiwai semangat perjuangan bangsa, melainkan juga oleh keyakinan kebenaran intepretasi perjuangan bangsanya sesuai dengan identitas kepentingan masyarakat.

Dengan instruksi Pak Harto tersebut, Habibie memberanikan diri mengumpulkan putera-puteri Indonesia lainnya yang seumur atau yang lebih muda, untuk berhimpun dan mempersiapkan diri menjadi teknolog dan teknokrat yang cinta bangsanya, cita pada idea dan yakin pada kebenaran strategi yang ditempuh pemimpin nasional, dalam hal ini Pak Harto sebagai Mandataris MPR.

Dengan melakukan berbagai pertemuan, maka terkumpullah sekelompok orang dengan semangat dan kemauan yang sama. Mereka sekarang telah kembali ke Indonesia mengisi kemerdekaan bangsa.

Diceritakan Habibie, berdasarkan pesan Pak Harto, dirinya menimba pengalaman di bidang ilmu, teknologi, dan bisnis internasional.

“Saya menjadi semakin dewasa serta mandiri sebagai salah orang anggota generasi penerus yang diilhami oleh generasi perjuangan sebelumnya, diilhami oleh lingkungannya. Saya juga diilhami oleh cara berfikir generasi sendiri yang rasional dan sistematis, modern dan canggih, tanpa meninggalkan kebudayaan bangsanya sehingga sesuai dengan perkembangan sejarah masyarakatnya,” sebutnya.

Waktu pun berlalu sampai saat Pak Harto pada tahun 1970 berkunjung lagi ke Eropa. Pada waktu itu, kata Habibie, Pak Harto telah menjadi Presiden dan melakukan kunjungan kenegaraan ke Kerajaan Belanda dan Republik Federal Jerman.

“Entah bagaimana diatur oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, Pak Harto teringat pada orang dengan siapa beliau telah melakukan hubungan batin, yang tanpa orang itu menyadarinya telah beliau bina sejak tahun 1950. Saya diberikan kehormatan bertemu dengan beliau yang saya kenal sebagai seorang yang memiliki perasaan manusiawi yang besar, sebagai pemuda yang memiliki jiwa juang, yang mencintai perjuangan bangsanya, yang mampu menghayati aspirasi rakyatnya dan memimpin generasinya. Orang itu kini telah menjadi Presiden/Mandataris MPR,” tandasnya.

Pertemuan Habibie dengan Pak Harto di Bonn itu, lanjut Habibie, merupakan pertemuan pertamanya dengan Pak Harto sebagai pemimpin bangsa dan negara. DIdalam pertemuan itu, kata Habibie, beliau memberi petunjuk-petunjuk dan berpesan agar dirinya siap-siap kembali ke Tanah Air membantu melaksanakan pembangunan didalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Saya dengarkan petunjuk-petunjuk beliau dengan penuh perhatian dan penuh semangat. Sebagai orang yang pernah diberi kesempatan belajar di luar negeri oleh pemerintah, saya sungguh-sungguh yakin akan kewajiban untuk melanjutkan perjuangan bangsa sebagai generasi penerus dan pada suatu hari akan kembali ke Indonesia. Karena itu petunjuk-petunjuk Pak Harto menimbulkan getaran response yang beramplitude besar. Pesan Pak Harto itu telah lama ditunggu-tunggu. Saya sudah lama siap untuk memberikan sumbangan, walaupun sedikit, kepada pembangunan bangsa,” ungkap Habibie.

Dari tahun 1970 hingga 1974, Habibie melanjutkan pekerjaan di Messerschmitt-Bolkow-Blohm sambil menunggu panggilan pulang. “Pada bulan agustus 1973, saya mendapat telpon dari ipar saya Subono Manthovani agar siap-siap pulang dan karean itu jangan membuat kontrak baru. Di bulan Desember 1973, Pak Ibnu Sutowo (pada waktu Direktur Utama Pertamina) memanggil saya dari Hamburg untuk bertemu dengan beliau di Hotel Hilton Dusseldorf. Beliau menyampaikan panggilan pulang dari Pak Harto,” kata Habibie.

Habibie kemudian mengumpulkan kawan-kawan yang telah dihimpun sejak tahun 1966. Teman-teman yang pada waktu itu berada di Jerman Utara, berkumpul dalam suatu rapat di ruangan Konsul Jenderal di Hamburg.

“Kepada mereka saya beritahukan pertemuan saya dengan Pak Ibnu Sutowo. Saya sampaikan bahwa rupanya sudah tiba saatnya bagi kita untuk bersama-sama pulang. Saya tanyakan kepada mereka, siapa yang sudah siap pulang. Sebahagiaan besar tanpa reserve, dengan dedikasi dan cinta tanah air yang sama tingginya, menyatakan bersedia meletakkan jabatannya masing-masing di industri Jerman untuk kembali ke Indonesia, menghadapi masa depan yang serba tidak jelas,” sebutnya.

Ini mereka lakukan atas dasar kesadaran bahwa tindakan mereka merupakan suatu perjuangan yang membutuhkan tekad dan keiklasan untuk berkorban.

“Maka pulanglah mereka bersama saya, secara berangsur-angsur dalam tahun 1974-1975. Di Tanah Air, kita digabungkan oleh rekan-rekan yang memiliki sikap, kepribadian, intelegensi, dedikasi dan jiwa perjuangan yang sama. Bersama-sama dengan mereka itu kami membentuk inti kekuatan perjuangan. Dari tahun ke tahun, inti tersebut semakin besar, semakin kuat, dan semakin berpengalaman,” tandasnya.

Sabtu (26/1/1974) itu Habibie tiba kembali di Tanah Air. Ibu dan keluarganya memberitahukan bahwa ia akan diterima Bapak Presiden. Hari Senin pagi harinya, Habibie menghadap Dr. Ibnu Sutowo di kantor di Jalan Perwira untuk melaporkan dirinya telah kembali.

Pada Senin malam (28/1/1974), sekira pukul 19.30 WIB, Habibie bertemu Pak Harto di kediaman Jalan Cendana. Bapak Presiden memberi petunjuk-petunjuk yang jelas dalam tugas saya membantu beliau dalam mengembangkan teknologi untuk pembangunan ekonomi khususnya dan pembangunan bangsa pada umumnya.

“Sampai saat ini, kehormatan bertemu Pak Harto kali itu memberi kesan yang sangat mendalam. Pertama kali dalam hidup saya, saya dengar istilah ‘tinggal landas’ suatu istilah yang tadinya saya intepretasikan hanya dari sudut konstruksi pesawat terbang, digunakan dalam konteks strategi pembangunan nasional,” kata Habibie.

Dalam kesempatan tersebut, lanjut Habibie, Bapak Presiden menyampaikan bahwa Pembangunan Nasional Jangka Panjang akan membangun dan memantapkan kerangka landasan agar dapat tinggal landas pada tahun 1994. Untuk itu akan dilaksanakan tahapan-tahapan pembangunan sebagai berikut: Pertanian dan industri yang mendukungnya; Pertanian dan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku; Pertanian dan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi; Pertanian dan industri mesin. Akhirnya tercapai pembangunan industri yang kuat dengan dukungan yang tangguh sebagai landasan mewujudkan masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.

Untuk sementara Habibie diberi tugas sebagai Penasehat Teknologi Presiden dan memimpin Divisi Advanced Technology di lingkungan Pertamina yang dimaksudkan sebagai lembaga tingkat pusat untuk mendampingi Bappenas.

“Beliau menjelaskan bahwa saya diberi waktu 20 tahun untuk membantu menyelesaikan tahapan-tahapan pembangunan itu. Beliau menjelaskan falsafah hidup dan falsafah perjuangan bangsa, selain menjelaskan kekuatan-kekuatan dan aspirasi aspirasi rakyat,” ujarnya.

Pesan Pak Harto diingat betul Habibie. “Sebenarnya, rakyatmu itu tidak berbelit-belit dan njelimet. Sebenarnya, rakyat Indonesia sangat sederhana dalam keinginannya. Mereka akan sangat berterima kasih jika tercapai peningkatan dalam taraf hidup mereka secara bertahap. Tetapi rakyatmu itu pasti tidak akan sanggup lagi menanggung gejolak seperti yang disebabkan oleh pemberontakan PKI. Karena itu, laksanakanlah semua yang Rudy kira perlu untuk melakukan perombakan besar-besaran dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi jangan Rudy menimbulkan suatu revolusi sosial,” kata Pak Harto ditirukan Habibie.

Umur Habibie waktu itu baru 37 tahun. Ia tidak sepenuhnya menyadari betapa pentingnya pengarahan yang diberikan Pak Harto itu untuknya dan untuk pembangunan pada umumnya.

“Sejak tanggal itu, semua pengarahan Bapak Presiden pada saya, saya catat di dalam buku catatan dan di otak saya. Hingga hari ini dan hari penghabisan saya di dunia ini, pertemuan malam itu akan saya kenang sebagai salah satu malam yang paling mengesankan di dalam hidup saya,” tutur Habibie.

Pertemnuan itu merupakan awal dari tahap baru dalam kehidupan Habibie, yaitu suatu keterlibatan langsung dalam pembangunan bangsa, suatu gerakan besar yang penuh dengan aneka ragam hambatan dan tantanganya, sekaligus dengan kenikmatannya sendiri dapat melihat hasil-hasilnya secara kongkrit dari tahun ke tahun.

Mulai hari itu, kata Habibie, setiap malam iaberdo’a pada Tuhan Yang Maha Kuasa semoga Bapak Soeharto, yang sudah ditentukan oleh nasib harus ia dampingi, selalu diberi perlindungan, kekuatan dan kesehatan dalam melaksanakan tugas-tugas beliau.

“Saya juga berdo’a semoga Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kepada saya bimbingan agar kesempatan yang diberikan untuk ikut mewujudkan cita-cita bangsa, dapat saya manfaatkan sebaik-baiknya,” tandasnya.

Sejak pertemuan itu, Habibie memperoleh kesempatan untuk secara periodik berdialog dengan Pak Harto dan dengan demikian, mendengar sendiri dari dekat pemikiran-pemikiran beliau.

“Ternyata bahwa Pak Harto yang saya kenal sejak tahun 1950 sebagai pemimpin pemuda yang pendiam berumur 28 tahun, yang memiliki rasa kemanusiaan dan jiwa perjuangan yang tinggi, oleh sejarah serta perkembangan hidupnya telah dibentuk menjadi seorang pemikir falsafah, pemikir setrategis, dan pemikir politik, serta seorang negarawan,” sebut Habibie.

Dalam waktu 17 tahun sejak pertemuan hari itu, Habibie diberi kehormatan mengenal Pak Harto dari dekat, mengenal jalan pikiran beliau, memahami jalan pikiran beliau; mengenal falsafah beliau, memahami falsafah beliau, memahami sifat-sifat beliau.

“Salah satu sifat beliau sudah saya ketahui benar sejak tahun 1950, karena saya mengalaminya sendiri, yakni rasa kemanusiaan dan kesetiakawanan beliau yang besar terhadap anak buah dan orang sekelilingnya. Saya belajar mengenal sifat-sifat beliau lainnya,” tuturnya.

Sifat Pak Harto yang sangat menonjol, kata Habibie, adalah kesederhanaan. Ia pun mengaku menjadi kagum atas kebesar beliau. Hatinya semakin mantap dalam membantu beliau karena Pak Harto selalu memancarkan ketenangan ke sekelilingnya.

Pernah Habibie ditanya oleh orang-orang di luar negeri dan dalam negeri: “Apa yang merupakan kebesaran Pak Harto?”. Dan selalu saya jawab: “Selain dedikasi beliau, sifat yang membuat Pak Harto orang besar adalah bahwa beliau memiliki intelegensi yang tinggi, memiliki ingatan yang kuat, memiliki perasaan manusiawi yang sangat tinggi, dibarengi dengan kepemimpinan yang bijaksana, yang setia pada cita-cita bangsanya, dekat dengan rakyat dan mengerti aspirasi rakyat”.

Bagi Habibie, Pak Harto merupakan anugerah Tuhan Yang Maha Esa pada bangsa Indonesia; anugerah yang telah mengalami bentukan oleh rakyat dan oleh sejarah, baik sejarah perjuangan nasional rakyat Indonesia sendiri maupun sejarah regional dan sejarah dunia.

“Saya yakin bahwa falsafah, strategi, dan kebijaksanaan Pak Harto, Putera Indonesia yang besar ini, adalah yang paling baik untuk bangsa ini. Itulah sebabnya mengapa tanpa mengenal lelah, tanpa mengenal takut, saya selalu berusaha menerjemahkan segala pemikiran beliau dalam bahasa seorang Insiyur yang bertugas membuat rumah yang indah untuk rakyatnya dengan karya-karya nyata dalam bentuk terobosan-terobosan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk pembangunan bangsa,” tandas Habibie memungkasi kisahnya bersama Pak Harto. (Hid)

Lihat juga...