hut

“Micro Wet Processing” Solusi Pengolahan Bahan Pangan

Editor: Mahadeva

JEMBER – Banyak makanan yang dikonsumsi berasal dari bahan berbentuk tepung dan pasta atau berbentuk adonan, misalnya roti yang terbuat dari tepung gandum.

Permasalahannya, proses pengolahan bahan menjadi bentuk tepung biasanya menggunakan mesin yang dijalankan dengan kecepatan tinggi. Hal itu untuk mengubah dari bentuk awal menjadi tepung. Penggunaan alat seperti itu, berpotensi merusak bahan baku, akibat tingginya temperatur yang timbul saat terjadi putaran mesin yang tinggi.

Guna mengatasi hal itu, Prof. Yutaka Kitamura, pakar teknologi pengolahan pangan asal Tsukuba University, menawarkan alternatif proses pengolahan pangan dengan Micro Wet Processing. Prof. Yutaka Kitamura hadir di Kampus Tegalboto, dalam rangka memberikan kuliah umum bertema, Agri-Food Paste Processing by Micro Wet Stone Mill.

“Sebenarnya ide alat ini berasal dari alat pembuat tepung yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu, yakni menggunakan batu giling yang digerakkan secara manual. Namun tentu saja dengan alat tradisional ini, hasil tepungnya terbatas. Oleh karena itu saya menggabungkan batu silinder tadi yang dialiri air namun digerakkan dengan tenaga listrik,” tutur guru besar di School of Life and Enviromental Sciences tersebut.

Dengan Micro Wet Processing maka jumlah material yang dihaluskan tidak akan meningkat, sebab mesin yang dirancangnya mengalirkan air secara otomatis. Hasil dari proses tersebut, bahan pangan dalam bentuk adonan atau pasta yang halus. Mesin dirancang menggunakan tidak hanya satu batu giling, namun hingga tiga batu giling.

“Keuntungan lain menggunakan Micro Wet Processing, adalah minim debu yang dihasilkan. Selain untuk membuat bahan pangan berbentuk pasta, alat yang saya kembangkan juga bisa digunakan untuk membuat bahan adonan atau pasta sebagai bahan untuk pembuatan obat atau kosmetik,” imbuh Prof. Yutaka Kitamura.

Tidak hanya memperkenalkan mesin Micro Wet Processing yang dikembangkannya, Prof. Yutaka Kitamura juga menjelaskan peluang bisnis adonan atau pasta yang dihasilkan.  “Di Jepang, saat ini roti yang berbahan pasta atau adonan dari beras coklat yang dihasilkan melalui Micro Wet Processing mulai digemari, pasalnya diyakini kandungan vitamin dan mineralnya tidak hilang dibandingkan jika diproses melalui mesin konvensional. Selain itu aman bagi penderita alergi gluten, bahkan tekstur rotinya lebih bagus dibandingkan roti berbahan tepung gandum,” katanya.

Penjelasan mengenai prospek produk pasta dari Micro Wet Processing, memantik diskusi hangat antara hadirin dengan Prof. Yutaka Kitamura. Jayus, Ddosen FTP yang hari itu menjadi moderator menyebut, Indonesia dikenal sebagai penghasil beras. Sehingga sebenarnya, dapat mengembangkan Micro Wet Processing untuk meningkatkan nilai tambah beras.

Siswoyo Soekarno, Dekan FTP Universitas Jember menjelaskan, kuliah umum tersebut terlaksana atas kerjasama FTP dengan Project Implemetation Unit Islamic Development Bank Universitas Jember. “Program kuliah umum kali ini dalam rangka mewujudkan Universitas Jember sebagai perguruan tinggi yang unggul di bidang bioteknologi di sektor pertanian, perkebunan dan kesehatan,” pungkasnya.

Lihat juga...