hut

Minat Masyarakat Yogyakarta Geluti Profesi Advokat, Rendah

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

YOGYAKARTA – Ketua Federasi Advokat Republik Indonesia (Ferari), Prof Dr (Yuris) Dr (Mp) Teguh Samudera, SH, MH menyebut, minat masyarakat Yogyakarta untuk menggeluti profesi advokat hingga saat ini masih rendah. Hal itu disebabkan karena masih minimnya interaksi hubungan bisnis antar masyarakat.

Belum tumbuhnya sektor industri di Yogyakarta, seperti halnya di daerah lain, ditandai dengan masih minimnya pabrik-pabrik besar dan modern, maupun keberadaan lokasi penambangan dan sebagainya juga mempengaruhi hal tersebut.

“Di Yogya memang belum banyak masyarakat mengenal profesi advokat. Padahal di daerah lain seperti Sumatera Utara atau Jakarta, advokat menjadi rebutan. Karena memang di Yogya pelaku bisnis masih jarang. Industri juga belum tumbuh,” katanya saat membuka acara Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) angkatan I tahun 2019, yang merupakan kerjasama antara fakultas hukum Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (UCY) dan dengan DPD Ferrari DIY, Kamis (11/9/2019).

Selain itu menurut Teguh, faktor kultur budaya juga mempengaruhi minimnya minat masyarakat Yogyakarta untuk menjadi advokat. Dimana masyarakat Jawa cenderung suka mengalah dan cinta damai.

“Kultur masyarakat Jawa kan menerima dan tidak suka ribut. Sementara profesi advokat itu kan butuh perjuangan dan kecerdasan luar biasa,” katanya.

Meski begitu, adanya bandara baru Yogyakarta Internasional Airport (YIA) di Kulonprogo disinyalir akan mampu mengubah kondisi tersebut secara perlahan. Pasalnya dalam beberapa waktu ke depan, diyakini sektor industri akan semakin meningkat. Tidak hanya di Yogyakarta saja, namun juga di daerah sekitar seperti Purworejo, Kebumen, Magelang, dan sebagainya.

“Sama seperti di Kalimantan dan Papua, saat ini jumlah profesi advokat semakin meningkat. Karena memang industri semakin tumbuh, seperi industri kayu tambang dan sebagainya. Dengan adanya airport baru saya yakin Yogyakarta juga akan tumbuh. Seiring semakin tumbuhnya sektor industri,” katanya.

Melalui kegiatan Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) itu sendiri, Ferari berharap agar ke depan semakin banyak muncul advokat baru di Yogyakarta. Yakni advokat yang bisa memanfaatkan ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat.

“Di era seperti saat ini hukum sudah menjadi panutan seluruh masyarakat bangsa dan negara. Baik itu rakyat atau pejabat. Apalagi negara kita adalah negara berlandaskan hukum,. Sehingga semua harus taat hukum,” katanya.

Sementara itu Wakil Rektor I UCY, Drs Tri Wahyu Budi Utomo MT, MPd, mengatakan, selain sebagai wujud tri dharma pendidikan, kegiatan Pendidikan Khusus Profesi Advokat juga digelar sebagai upaya untuk membumikan hukum di Indonesia. Pasalnya, menurut Wahyu, meski Indonesia merupakan negara hukum, namun hingga saat ini hukum belum sepenuhnya menjadi panglima.

“Kita ingin berpartisipasi untuk membumikan hukum di Indonesia. Apalagi saat ini setiap mahasiswa yang telah lulus juga harus memiliki sertifikat pendamping ijazah. Sehingga kegiatan ini merupakan salah satu upaya melaksanakan peraturan tersebut. Khususnya bagi lulusan yang ingin menjadi advokat,” pungkasnya.

Lihat juga...
error: Terimakasih Sudah Berkunjung !!